MTsN Manokwari Tembus Adiwiyata Nasional: Dari Bumi Papua Barat, Pendidikan Lingkungan Menyala Terang

STRATEGINEWS.id, Manokwari — Di bawah langit biru Papua Barat yang kaya akan hutan, laut, dan harapan masa depan, sebuah madrasah menorehkan prestasi yang menggema jauh melampaui pagar sekolah. Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Manokwari resmi mencatatkan diri sebagai calon Sekolah Adiwiyata Tingkat Nasional Tahun 2026, setelah meraih nilai nyaris sempurna 99,33 persen dalam penilaian Sekolah Adiwiyata tingkat Kabupaten Manokwari, Senin (15/12/2025).

Capaian ini bukan sekadar angka. Ia adalah cermin dari kesadaran ekologis yang tumbuh dan bersemi di ruang-ruang kelas, halaman sekolah, hingga kebiasaan harian warga madrasah. Dengan hasil tersebut, MTsN Manokwari dipastikan menjadi wakil Papua Barat di ajang nasional, sekaligus menegaskan bahwa pendidikan berbasis lingkungan hidup dapat tumbuh kuat dari kawasan timur Indonesia.

Penilaian dilakukan oleh Tim Penilai Sekolah Adiwiyata Kabupaten Manokwari, sebagaimana ditetapkan melalui Surat Keputusan Bupati Manokwari. Proses evaluasi mengacu pada 29 indikator utama sesuai Peraturan Menteri LHK Nomor 53 Tahun 2019, mencakup tata kelola lingkungan sekolah, budaya ramah lingkungan, partisipasi aktif warga madrasah, serta keberlanjutan program.

Tim penilai Sekolah Adiwiyata Kabupaten Manokwari dipimpin langsung oleh Plt. Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Pertanahan (DLHP) Kabupaten Manokwari, Fredy V. Risamassu, S.Hut., M.Si, dengan Wakil Ketua Yohanes Ada Lebang, S.P., M.Si, yang juga menjabat Wakil Dekan I Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Caritas Indonesia (UNCRI).

Sebagai anggota tim, turut terlibat Angganeta M. Heipon, S.Si dan Yoyo Kamer, keduanya merupakan staf teknis pada DLHP Kabupaten Manokwari, yang berperan dalam verifikasi dokumen dan observasi lapangan. Dari unsur pengelolaan persampahan, hadir Kharl Hainz Y. Rumbiak, S.Si, selaku Manajer Koperasi Produsen Pengelola Sampah Kabupaten Manokwari, sementara unsur pembinaan karakter dan kepemudaan lingkungan diwakili oleh Samfry Laukoun, Pembina UKM Gerakan Pramuka Universitas Papua (UNIPA).

Keterlibatan lintas institusi ini memastikan seluruh proses penilaian berlangsung objektif, komprehensif, dan akuntabel, sekaligus mencerminkan semangat kolaborasi dalam membangun pendidikan berwawasan lingkungan di Kabupaten Manokwari.

Kepala MTsN Manokwari, Agus, menyebut keberhasilan ini sebagai buah dari kerja kolektif seluruh warga madrasah.

“Ini bukan semata prestasi lomba. Kami membangun kesadaran lingkungan sebagai budaya hidup di madrasah. Anak-anak belajar mencintai alam bukan lewat slogan, tetapi melalui praktik sehari-hari,” ujarnya.

Ia menegaskan, capaian ini justru menjadi pemicu untuk menjaga konsistensi dan memperkuat inovasi pengelolaan lingkungan menuju tingkat nasional.

Senada, Ketua Panitia Sekolah Adiwiyata MTsN Manokwari, Siti Rofiqah Syafiah Djohar, menyampaikan bahwa pihaknya tidak berpuas diri. Persiapan menuju nasional telah dilakukan sejak ditetapkannya SK Dirjen Pendidikan Islam tentang calon penerima Sekolah Adiwiyata pada Juli 2025.

“Fokus kami ke depan adalah pembenahan menyeluruh dan penguatan seluruh aspek penilaian nasional. Kami siap,” tegasnya.

Atas nama Tim Pembina dan Penilai Adiwiyata Kabupaten Manokwari, Yohanes Ada Lebang, S.P., M.Si, menyampaikan apresiasi mendalam atas komitmen dan partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan. Dan secara resmi menyerahkan hasil penilaian kepada Kepala Madrasah dan tim.

Ia menekankan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kolaborasi lintas sektor: pihak sekolah dan warga madrasah, masyarakat sekitar, pemerintah kampung dan distrik, TNI–Polri, para tokoh, orang tua/wali murid, Pemerintah Kabupaten Manokwari, hingga Kementerian Agama.

“Semangat kolaborasi, inovasi, dan jejaring ini harus terus ditingkatkan menuju Sekolah Adiwiyata Nasional hingga Mandiri, agar MTsN Manokwari menjadi role model bagi sekolah-sekolah lain di Papua Barat,” ujarnya.

Lebih jauh, akademisi UNCRI ini juga mendorong komitmen kuat pemerintah daerah untuk mewujudkan kebijakan sekolah wajib Adiwiyata pada tahun 2026, sejalan dengan Permen LH Nomor 5 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Program Adiwiyata.

Ia menegaskan bahwa pendidikan berwawasan lingkungan harus selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), sebagai agenda global PBB demi perdamaian, kemakmuran manusia, dan kelestarian bumi bagi generasi kini dan mendatang. Semua itu, kata dia, bermuara pada visi besar menjadikan Papua Barat sebagai provinsi pembangunan berkelanjutan dan provinsi konservasi.

Untuk menopang cita-cita tersebut, Lebang juga menyoroti peran strategis dunia usaha.

“Pelaku usaha dan perusahaan memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Sudah saatnya diinisiasi forum CSR atau TJSL lingkungan sebagai wadah kolaboratif antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat,” tegasnya.

Forum ini diharapkan menjadi penggerak nyata pembangunan berkelanjutan yang berdampak langsung bagi lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan capaian ini, MTsN Manokwari tidak hanya mengharumkan nama daerah, tetapi juga mengirim pesan kuat ke tingkat nasional: bahwa dari madrasah di timur Indonesia, lahir generasi yang beriman, berilmu, dan berkomitmen menjaga bumi.

Di Manokwari, pendidikan dan lingkungan kini berjalan seiring—menjadi cahaya kecil yang menyala, namun cukup terang untuk menerangi masa depan Papua Barat.

[yo/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *