strateginews.id, Singkawang Kalbar – Membedah inovasi terbaru dalam dunia literasi digital. Menjadi momentum penting bagi peningkatan kualitas pendidikan di SD Negeri 61 Singkawang. Seluruh tenaga pendidik, berkumpul dalam kegiatan rutin Komunitas Belajar (Kombel).
Kegiatan berlangsung di ruang pertemuan SD tersebut yang berada di Jl. Raya Pajintan, Kelurahan Pajintan, Kecamatan Singkawang Timur, Kota Singkawang, Kalimantan Barat, hari Selasa (05/05/2026).
Kegiatan dibuka Kepala SDN 61 Singkawang Helena Halijah, S.Ag. Dalam arahannya, menekankan pentingnya adaptasi teknologi untuk menjawab tantangan zaman.
“Kita harus bergerak melampaui metode konvensional. Inovasi ini adalah langkah nyata kita untuk memastikan siswa tidak hanya membaca. Tetapi benar-benar memahami dan menalar isi bacaan,” tegasnya.
Tantangan rendahnya pemahaman bacaan pada siswa sekolah dasar, kini menemui solusi digital yang inovatif. Di SDN 61 Singkawang, sebuah terobosan berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama APEL (Anak Pecinta Literasi) hadir untuk mengubah cara siswa berinteraksi dengan teks dan informasi.
Inovasi ini lahir sebagai jawaban atas data Rapor Pendidikan tahun 2025 yang menunjukkan perlunya penguatan pada kompetensi literasi siswa. Khususnya dalam hal menemukan informasi (L1), menginterpretasi isi teks (L2), serta mengevaluasi dan merefleksikan bacaan (L3). Melalui APEL, pembiasaan literasi tidak lagi sekadar membaca pasif, melainkan menjadi proses belajar yang aktif dan reflektif.
Memasuki sesi inti, Andri Suwandi, S.Pd selaku pengembang inovasi, memaparkan penggunaan APEL. Kata dia, APEL sebagai sebuah terobosan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dirancang khusus untuk mengatasi rendahnya tingkat pemahaman teks pada siswa. Sebagaimana terekam dalam data Rapor Pendidikan tahun 2025 pada indikator L1, L2, dan L3.
APEL Tutor Virtual yang Interaktif.
APEL hadir sebagai tutor virtual cerdas yang mendampingi siswa secara personal. Berbeda dengan platform belajar statis APEL mampu menganalisis jawaban siswa dan memberikan umpan balik langsung (feedback). Hal ini memungkinkan siswa untuk memahami letak kesalahan mereka dan memperbaikinya secara mandiri.
“Sistem ini menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran. APEL berfungsi sebagai pemandu yang membantu siswa menumbuhkan rasa ingin tahu serta kemampuan menalar secara kritis melalui berbagai konteks bacaan,” ujar Andri Suwandi di hadapan rekan-rekan sejawatnya.
Platform ini mengusung prinsip pembelajaran mandiri (Self-Regulated Active Learning), di mana siswa dapat mengasah kemampuan mereka melalui empat fitur utama :
RAPI (Ringkasan Analisis Pokok Informasi) :
Melatih ketajaman siswa dalam membedah informasi melalui kerangka 5W+1H.
Ruang Ide Pokok :
Mengasah kemampuan siswa dalam menentukan inti sari dari sebuah paragraf.
CERIA (Cerita Eksplorasi Unsur Intrinsik dan Analisis) :
Mengajak siswa menyelami dan menganalisis unsur-unsur pembangun dalam sebuah cerita.
Kembang Paragraf :
Menantang siswa untuk berani menulis dan mengembangkan pemikiran mereka secara sistematis.
Belajar Bertahap dengan Kendali Data.
Keunggulan APEL, ungkap Andri Suwandi, terletak pada sistem latihan berulang (drilling) yang terukur dengan tiga tingkat kesulitan: Mula, Madya, dan Mahir.
Siswa didorong untuk konsisten mencapai nilai minimal 80% sebelum melangkah ke tantangan yang lebih tinggi.
Bagi guru, APEL menyediakan fitur Riwayat yang mendokumentasikan seluruh aktivitas belajar siswa secara real-time. Data ini dapat diunduh dan digunakan sebagai bahan evaluasi mingguan yang akurat untuk melihat perkembangan setiap murid secara mendalam.
Dampak Nyata dan Sinergi Sekolah-Rumah.
Penerapan APEL terbukti memberikan dampak signifikan. Siswa kini lebih terampil dalam menyusun hasil analisis dalam bentuk uraian, yang meningkatkan kualitas pemikiran kritis mereka. Selain itu, karena berbasis website, APEL memudahkan orang tua untuk mendampingi anak berlatih di rumah, sehingga waktu belajar menjadi lebih efektif.
“Faktor keberhasilan inovasi ini adalah bimbingan AI yang sistematis. Meskipun teknologi memegang peranan besar, peran guru tetap sentral dalam mendesain strategi pembelajaran yang tepat,” tambah Andri Suwandi.
Menuju jangkauan yang lebih luas.
Ke depan, inovasi APEL akan terus dikembangkan untuk menjangkau guru-guru di seluruh Indonesia melalui jaringan internet. Langkah ini diharapkan mampu menciptakan budaya literasi digital yang produktif dan berkelanjutan di tingkat nasional.
Bagi praktisi pendidikan yang ingin mengeksplorasi platform ini, APEL dapat diakses secara daring melalui alamat: https://s.id/anakpecintaliterasi.
Sekilas Inovasi APEL :
* Fokus Utama: Penguatan literasi tingkat L1, L2, dan L3 melalui bantuan kecerdasan buatan.
* Metode: Self-Regulated Active Learning dengan tingkat kesulitan berjenjang.
* Fitur Unggulan: Umpan balik otomatis, analisis 5W+1H, dan sistem dokumentasi riwayat belajar.
* Aksesibilitas: Berbasis web, dapat diakses melalui smartphone maupun komputer.
(Ibnu Azan)












