Oleh: Syahril Syam *)
James MacGregor Burns dan Bernard M. Bass bisa dianggap sebagai “dua tokoh utama” yang meletakkan dasar pemikiran tentang kepemimpinan modern yang sering kita sebut Transformational Leadership.
Awalnya, pada tahun 1978, Burns – seorang ilmuwan politik – membahas konsep yang ia sebut Transforming Leadership dalam bukunya “Leadership”. Menurut Burns, kepemimpinan sejati bukan sekadar mengarahkan atau mengontrol, tetapi bagaimana pemimpin dan pengikut saling mengangkat satu sama lain menuju tingkat moralitas dan motivasi yang lebih tinggi. Jadi, ia lebih menekankan pada nilai, etika, dan tujuan yang bermakna dalam hubungan antara pemimpin dan pengikut. Bisa dibilang, Burns adalah pencetus ide dasar dari model kepemimpinan ini.
Beberapa tahun kemudian, pada 1985, Bernard M. Bass – seorang psikolog organisasi – mengambil ide Burns dan mengembangkannya lebih jauh dalam bukunya “Leadership and Performance Beyond Expectations”. Bass mengubah istilah transforming leadership menjadi Transformational Leadership. Ia juga menambahkan kerangka perilaku yang lebih terukur, yang kini dikenal sebagai “empat komponen kepemimpinan transformasional”: (1) Idealized Influence (pemimpin menjadi teladan), (2) Inspirational Motivation (menginspirasi dengan visi), (3) Intellectual Stimulation (mendorong kreativitas dan berpikir kritis), dan (4) Individualized Consideration (memperhatikan kebutuhan individu pengikut). Bass menekankan bahwa kepemimpinan transformasional tidak hanya soal moralitas, tetapi juga bisa meningkatkan kinerja, motivasi, dan inovasi dalam organisasi.
Dengan demikian, Burns adalah pencetus awal yang menyoroti sisi etika dan moral kepemimpinan, sementara Bass-lah yang memformalkan konsep transformational leadership dan menjadikannya sebagai model praktis yang hingga kini banyak digunakan dalam studi dan praktik manajemen.
Bernard M. Bass (1925–2007) adalah seorang psikolog sekaligus profesor manajemen yang berjasa besar dalam mengembangkan teori kepemimpinan modern. Jika James MacGregor Burns lebih banyak menekankan aspek moralitas dan etika dalam kepemimpinan yang ia sebut transforming leadership, maka Bass mengambil gagasan itu dan membawanya ke ranah yang lebih praktis, psikologis, serta dapat diukur secara ilmiah. Ia mengganti istilah transforming leadership menjadi transformational leadership, dan membuat konsep ini lebih aplikatif dalam konteks organisasi, bisnis, dan manajemen sumber daya manusia.
Bass berhasil menjadikan kepemimpinan transformasional bukan hanya wacana filosofis, tetapi perilaku nyata yang bisa diamati dan dipraktikkan. Selain itu, Bass juga mengembangkan alat ukur psikometrik yang sangat berpengaruh, yaitu Multifactor Leadership Questionnaire (MLQ), bersama Bruce Avolio (1990, 1999).
Instrumen ini memungkinkan peneliti maupun praktisi mengukur gaya kepemimpinan transformasional dan transaksional dalam berbagai konteks. Berkat MLQ, konsep kepemimpinan yang sebelumnya bersifat normatif dan filosofis bisa diuji secara empiris dalam organisasi, pendidikan, militer, kesehatan, bahkan penelitian neuroscientific. Bass menyebutkan bahwa kepemimpinan transformasional terjadi ketika para pemimpin memperluas dan meningkatkan kepentingan karyawan mereka, menumbuhkan kesadaran dan penerimaan terhadap tujuan serta misi kelompok, dan mendorong karyawan untuk melihat melampaui kepentingan diri sendiri demi kebaikan kelompok.
Jadi, perbedaan utama antara Burns dan Bass terletak pada fokusnya: Burns menekankan dimensi moralitas dan nilai, sementara Bass menekankan efektivitas organisasi. Bisa dikatakan, Bass-lah yang “mengoperasionalkan” ide Burns sehingga menjadi teori kepemimpinan yang dapat diterapkan, diteliti, dan dipakai luas hingga sekarang.
Dalam praktik sehari-hari, pemimpin yang ideal biasanya tidak hanya menekankan salah satu pendekatan, tetapi justru menggabungkan keduanya. Dari sisi James MacGregor Burns, pemimpin menjaga fondasi etika, nilai, dan makna, sehingga arah kepemimpinan tetap berlandaskan moralitas dan tujuan yang lebih besar daripada sekadar keuntungan. Hal ini penting agar kepemimpinan tidak kehilangan ruhnya dan tetap memberikan inspirasi mendalam bagi pengikut.
Di sisi lain, dari Bernard M. Bass, pemimpin memastikan kepemimpinan itu membuahkan hasil nyata: mendorong inovasi, meningkatkan produktivitas, dan menjaga efektivitas organisasi. Pendekatan Bass menjadikan kepemimpinan lebih aplikatif, terukur, dan berdampak langsung pada kinerja tim maupun organisasi.
Dengan kata lain, kepemimpinan yang matang adalah kepemimpinan yang menyeimbangkan makna (etika dan nilai) serta hasil (inovasi dan kinerja). Jika hanya mengikuti Burns, kepemimpinan bisa menjadi terlalu idealis tanpa instrumen praktis.
Sebaliknya, jika hanya mengikuti Bass, kepemimpinan bisa berisiko kehilangan arah moral. Maka, mengintegrasikan keduanya adalah kunci lahirnya pemimpin transformasional yang bukan hanya efektif dalam angka, tetapi juga bermakna dalam kehidupan orang-orang yang dipimpinnya. Kalau dilihat dari konteks pendidikan dan organisasi, perbedaan sekaligus kelengkapan antara gagasan Burns dan Bass terlihat sangat jelas.
Dalam dunia pendidikan, Burns (1978) memperkenalkan gagasan transforming leadership yang jika diterapkan pada guru berarti berfokus pada nilai moral dan etika. Guru bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi mengajak murid memahami makna belajar sebagai jalan membangun peradaban. Misalnya, seorang guru sejarah tidak hanya mengajarkan fakta peristiwa, tetapi juga mengajak murid merenungkan nilai keberanian, keadilan, dan tanggung jawab dari para tokoh sejarah. Dampaknya, murid bukan hanya menjadi cerdas secara akademis, tetapi juga tumbuh kesadaran moralnya – lebih peduli pada keadilan sosial, gotong royong, dan kejujuran.
Sementara itu, Bass (1985) mengembangkan gagasan ini dengan menekankan aspek transformational leadership. Seorang guru transformational berfokus pada kinerja, motivasi, dan kreativitas murid. Ia memberi Inspirational Motivation dengan visi besar, misalnya mengatakan, “Kalian adalah generasi yang bisa mengubah masa depan bangsa.” Ia juga memberi Intellectual Stimulation, misalnya lewat proyek lintas disiplin yang mendorong murid berpikir kritis. Tidak kalah penting, guru ini juga memperhatikan kebutuhan murid secara personal (Individualized Consideration) dengan mendampingi mereka yang mengalami kesulitan belajar. Dampaknya, murid menjadi lebih termotivasi, kreatif, dan berprestasi dalam akademik maupun keterampilan hidup.
Dalam konteks organisasi, Burns menggambarkan sosok manajer transforming yang mengedepankan integritas dan nilai moral dalam bekerja. Manajer tidak hanya mendorong tim mengejar profit, tetapi juga mengingatkan pentingnya keberlanjutan, keadilan, dan tanggung jawab sosial. Misalnya, saat ada potensi praktik tidak jujur, manajer mengajak tim berdiskusi terbuka: “Apa dampaknya bagi masyarakat jika kita melakukan ini?” Hasilnya, tim merasa mereka bukan sekadar pekerja, tetapi bagian dari gerakan moral dan sosial yang lebih besar.
Bass, di sisi lain, menekankan bagaimana seorang manajer transformational mampu meningkatkan efektivitas, motivasi, dan kinerja tim. Dengan Idealized Influence, ia tampil sebagai role model dengan etos kerja tinggi. Melalui Inspirational Motivation, ia membangun visi bersama seperti, “Kita akan menjadi tim terbaik di divisi ini.”
Dengan Intellectual Stimulation, ia memberi ruang bagi inovasi dan mendukung ide-ide segar dari anggota tim. Dan lewat Individualized Consideration, ia memberikan coaching personal dan mendukung pengembangan karier tiap anggota. Hasil akhirnya, tim menjadi lebih produktif, loyal, dan inovatif. Bila keduanya digabungkan (pendekatan Burns dan Bass), akan lahir kepemimpinan yang tidak hanya bermakna secara moral, tetapi juga membawa hasil nyata yang berkelanjutan.
@pakarpemberdayaandiri












