Strateginews.id Blora– Sosok Encus Tampan belakangan menjadi perbincangan di media sosial. Content creator asal Dukuh Jambe, Desa Bacem, Kecamatan Banjarejo, Kabupaten Blora, Jawa Tengah itu dikenal luas karena karakternya yang ceplas-ceplos, percaya diri, bahkan kerap menantang orang lain untuk adu jotos di atas ring.
Bagi sebagian warganet, penampilan Encus di media sosial dianggap kontroversial. Gaya bicaranya yang terkesan songong dan penuh tantangan membuat namanya cepat dikenal publik. Namun di balik karakter yang selama ini tampil di layar, Encus mengaku ada fakta lain yang jarang diketahui banyak orang.
Pria yang kini memiliki banyak pengikut di media sosial itu mengungkapkan bahwa perjalanan menuju popularitas tidaklah mudah.
Ia bahkan tidak pernah membayangkan bisa berada di titik sekarang ketika pertama kali merintis karier sebagai content creator.
”Saya tidak pernah kepikiran bisa dikenal banyak orang seperti sekarang. Dulu semuanya dimulai dari nol,” ujarnya.saat ditmui media Selasa 16/6/2026.
Sebelum dikenal luas, Encus hanya seorang pemuda desa yang memiliki ketertarikan besar terhadap dunia bela diri, khususnya silat. Kegemarannya mempelajari berbagai teknik bela diri membuatnya semakin serius menekuni bidang tersebut.
Dari hobi itulah jalan menuju dunia konten terbuka. Encus mulai terlibat dalam berbagai konten pertarungan dan duel di atas ring yang kemudian menarik perhatian penonton media sosial.
Namun, langkahnya saat itu tidak langsung mendapat dukungan keluarga. Kedua orang tuanya sempat menolak keras aktivitas yang dijalani Encus. Mereka khawatir dengan risiko yang bisa terjadi akibat sering tampil dalam konten adu jotos.
Sebagai orang tua, mereka merasa cemas melihat anaknya harus berhadapan langsung dengan lawan di atas ring hanya demi sebuah konten.
Meski menghadapi penolakan, Encus tetap berusaha membuktikan bahwa pilihannya bisa menghasilkan sesuatu yang positif.
Perlahan demi perlahan, hasil kerja kerasnya mulai terlihat. Jumlah pengikut bertambah, namanya mulai dikenal, dan berbagai kesempatan pun datang menghampiri.
Melihat kesungguhan tersebut, keluarga akhirnya mulai memahami dan menerima jalan yang dipilih Encus. Dukungan dari orang tua dan saudara-saudaranya pun mulai mengalir.
”Awalnya memang tidak direstui. Tapi setelah melihat perkembangan dan keseriusan saya, akhirnya orang tua dan keluarga mendukung,” katanya.
Yang menarik, Encus juga membongkar rahasia di balik karakter yang membuatnya viral. Selama ini ia dikenal sebagai sosok yang gemar sesumbar, menantang banyak orang bertarung, dan tampil penuh percaya diri di depan kamera.
Namun menurut Encus, karakter tersebut hanyalah bagian dari strategi personal branding yang sengaja dibangun untuk kebutuhan konten.
Ia mengakui dunia media sosial menuntut kreator memiliki identitas yang kuat agar mudah diingat publik. Karena itulah ia memilih karakter yang berani, provokatif, dan penuh tantangan.
”Namanya dunia media sosial harus punya karakter. Mau karakter baik atau karakter yang dianggap buruk, yang penting orang ingat,” ungkapnya.
Meski demikian, Encus menegaskan bahwa kepribadiannya di kehidupan nyata sangat berbeda dari sosok yang selama ini muncul di media sosial.
Di luar kamera, ia mengaku tetap menjalani kehidupan sebagai orang biasa. Ia tetap menghormati orang lain, menjaga sopan santun, dan memegang nilai-nilai yang diajarkan keluarganya sejak kecil.
”Kalau kehidupan sehari-hari saya tetap orang biasa. Punya adab, punya sopan santun. Apa yang ada di media sosial itu bagian dari personal branding,” tegasnya.
Pengakuan Encus tersebut sontak membuat banyak pengikutnya terkejut. Tidak sedikit yang selama ini mengira karakter keras dan songong yang ditampilkan di media sosial merupakan sifat aslinya.
Fenomena ini memang bukan hal baru di dunia digital. Banyak kreator membangun karakter tertentu demi menarik perhatian publik dan memperkuat identitas mereka di tengah ketatnya persaingan konten.
Kini, setelah melewati berbagai masa sulit, mulai dari minim dukungan hingga perjuangan membangun nama dari nol, Encus Tampan berhasil membuktikan bahwa konsistensi dan keberanian mengambil risiko mampu mengubah kehidupannya.
Dari seorang pemuda desa di Bacem, Banjarejo, Blora, ia menjelma menjadi content creator yang dikenal luas. Meski begitu, Encus mengaku tidak ingin larut dalam popularitas. Baginya, karakter
”songong” yang tampil di media sosial akan tetap berada di depan kamera, sementara dalam kehidupan nyata ia tetap ingin dikenal sebagai pribadi yang sederhana dan menghormati siapa saja.
”Di ring boleh saling tantang. Di media sosial boleh punya karakter. Tapi dalam kehidupan sehari-hari, tetap harus punya adab dan menghargai orang lain,” pungkasnya
[kari]












