STRATEGINEWS.id, Medan — Pertambangan tak hanya terjadi di darat, melainkan meluas ke laut. Dalam sebuah uji coba, kendaraan tambang bawah laut berakibat buruk terhadap kehidupan makhluk hidup dasar laut.
Pertambangan laut bisa terjadi karena meningkatnya permintaan akan mineral penting seperti logam untuk elektronik dan energi terbarukan. Maka itu, sebuah studi yang didanai perusahaan pertambangan laut Kanada, Metals Company, coba melihat dampak dari pertambangan laut.
Selama lima tahun, Metals Company menghabiskan USD 250 juta untuk mendanai penelitian. Mereka memiliki tujuan akan menjadi perusahaan pertama yang menambah laut secara komersial. Namun untuk saat ini, mereka tengah menguji studi dan dampaknya.
Keragaman Makhluk Dasar Laut Berkurang
Dalam studi yang terbit di jurnal Nature Ecology and Evolution pada 5 Desember 2025, para peneliti mengumpulkan 80 sampel dasar laut dalam kurun waktu dua tahun sebelum dan dua bulan setelah uji penambangan laut pada 2022. Sampel tersebut mencakup 4.000 makhluk mikrofauna yang berukuran sangat kecil hanya sekitar 0,01 inci hingga 0,75 inci.
“Termasuk di dalamnya 788 spesies cacing, laba-laba laut, moluska, krustasea, dan makhluk lainnya yang telah diidentifikasi,” jelas para peneliti.
Hasilnya, setelah uji penambangan laut, jumlah hewan yang berada di jalur kendaraan tambang, turun hingga 37 persen. Kemudian keragaman spesies juga menurun hingga 32 persen.
“Sebenarnya kita baru mengambil sampel sebagian kecil dari laut dalam,” kata Eva Stewart, salah seorang penulis studi dan ahli biologi kelautan di Museum Sejarah Alam, London, dikutip dari Smithsonian Magazine.
Dampak Terbatas pada Area yang Ditambang
Pihak perwakilan perusahaan, Georgina Rannard, mengatakan, awalnya dia khawatir dampak pertambangan akan menyebar jauh. Namun, data menunjukkan bahwa dampak terhadap keanekaragaman hayati terbatas pada area yang ditambang secara langsung.
Dalam uji cobanya, perusahaan melibatkan 160 hari di laut di Zona Clarion-Clipperton (CCZ), area seluas sekitar 2,3 juta mil persegi antara Meksiko dan Hawaii. Wilayah dasar laut dalam ini merupakan rumah bagi sekitar 46 triliun pon bongkahan keras seukuran telur atau nodul, yang terdiri dari mineral berharga seperti nikel dan kobalt, menjadikan CCZ sebagai target bagi perusahaan pertambangan.
Meski dalam uji coba, dampaknya hanya lokal, para ahli tetap khawatir dengan adanya pertambangan laut. Sebab, teknologi permanen yang bersentuhan dengan dasar laut tetap merusak dan berpotensi meluas.
“Ini hanya uji coba, dan dampaknya signifikan. Jika mereka melakukannya dalam skala besar, dampaknya akan jauh lebih merusak,” kata Patrick Schröder, ahli kebijakan iklim di lembaga think tank Inggris Chatham House.
Ke depan, para ilmuwan akan terus melakukan penelitian yang menilai dampaknya. Mereka akan mencoba memprediksi risiko hilangnya keanekaragaman hayati akibat penambangan.
“Hal ini mengharuskan kita untuk menyelidiki keanekaragaman hayati dari 30 persen Zona Clarion-Clipperton yang telah dilindungi [oleh peraturan lingkungan],” kata Adrian Glover, salah seorang penulis studi dan ahli ekologi laut dalam di Museum Sejarah Alam, London.
“Saat ini, kita hampir tidak tahu apa (saja makhluk) yang hidup di sana,” tukasnya, seperti dikutip dari detikEdu, Senin (5/1/2026) malam.
(KTS/rel)
Sumber: detikEdu












