Hikmah Penyesalan

Syahril Syam,

Oleh : Syahril Syam *)

Daya amarah terbentang dari penakut hingga membabi buta. Pertengahan dari rentang daya amarah adalah pemberani. Kurangnya daya amarah berarti penakut, berlebihannya adalah membabi buta, dan proporsionalnya adalah pemberani. Saat berada dalam kondisi daya amarah yang berlebihan inilah, seseorang seringkali melakukan atau mengambil keputusan yang keliru.

Mengenai hal ini, Sayyidina Ali bin Abi Thalib kw berkata, “Amarah merupakan salah satu jenis kegilaan, karena penderitanya kemudian akan merasakan penyesalan. Apabila seseorang tidak merasa menyesal setelah marah, maka berarti gilanya telah menjadi permanen.”

Perkataan tersebut mengisyaratkan kepada kita bahwa penyesalan merupakan suatu perasaan yang bisa membawa kita kembali ke keadaan yang benar. Menurut KBBI, menyesal adalah merasa tidak senang atau tidak bahagia (susah, kecewa, dan sebagainya) karena (telah melakukan) sesuatu yang kurang baik (dosa, kesalahan, dan sebagainya).

Penyesalan merupakan perasaan yang muncul ketika seseorang merasa bahwa suatu keputusan atau tindakan yang diambil di masa lalu adalah salah atau tidak sesuai dengan harapan mereka. Biasanya, penyesalan timbul ketika kita melihat kembali ke masa lalu dan merasa bahwa jika kita melakukan sesuatu dengan cara yang berbeda, hasilnya mungkin akan lebih baik atau lebih memuaskan.

Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Pink menunjukkan bahwa penyesalan merupakan proses atas dua komponen unik manusia, yaitu kemampuan kita dalam menembus ruang dan waktu dengan mengunjungi masa lalu dan juga masa depan. Dan kita ahli dalam menceritakan apa yang kita alami di masa lalu dan di masa depan.

Menurut Pink, “Dua kemampuan itu berpadu membentuk puntiran-ganda kognitif yang menghidupkan penyesalan.” Salah satu dari ribuan responden yang disurvei Pink tentang penyesalan menyampaikan: “Andai saja saya mengikuti hasrat saya kuliah di bidang yang saya inginkan, bukan mengikuti keinginan ayah saya dan saya malah berhenti kuliah. Kehidupan saya bakal berada di jalur yang berbeda sekarang. Mestinya hidup saya bakal lebih memuaskan, lengkap, dan memberi rasa berprestasi yang besar.” Penyesalan yang disampaikan barusan adalah penyesalan dari seorang perempuan usia 52 tahun, yang penyesalannya membuat ia bergerak dari masa kini ke masa lalu, dan kemudin melompat ke masa depan.

Menurut Pink, kemampuan kita untuk menembus masa lalu dan masa depan, kemudian menulis ulang kejadian adalah urutan proses penyesalan. Hanya saja proses tersebut masih membutuhkan dua langkah tambahan, agar bisa terbedakan antara penyesalan dan emosi destruktif lainnya, yaitu perbandingan dan penilaian atas diri sendiri.

Dengan melihat kisah menembus waktu seorang perempuan di atas, dapat kita lihat bahwa ia membandingkan masa kini yang suram dengan kemungkinan masa kini yang berbeda seandainya ia bisa mengubah masa lalu. Di dalam proses membandingkan itu, ia juga memiliki perasaan bersalah atas dirinya sendiri. Karena penyesalan cenderung karena kesalahan sendiri, dan bukan kesalahan orang lain.

Karena semua emosi memiliki nilai positif pada diri kita, maka merasa menyesal juga memiliki manfaat positif bagi diri kita. Penyesalan sering kali disertai dengan rasa kecewa atau kesedihan, dan dapat mendorong kita untuk mencoba memperbaiki kesalahan atau membuat keputusan yang lebih baik di masa depan.

Penyesalan dapat berfungsi sebagai mekanisme pembelajaran, mendorong kita untuk menjadi lebih baik di masa depan. Pengamatan atas riset menunjukkan bahwa bila kita menangani perasaan menyesal dengan benar, maka akan memberi tiga manfaat umum kepada diri kita, yaitu mempertajam keahlian membuat keputusan, menambah kinerja di berbagai tugas, dan memperkuat pemahaman akan makna dan keterhubungan.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *