Pak Lurah

D. Supriyanto Jagad N

Catatan Budaya D. Supriyanto Jagad N *)

Dalam sidang tahunan dan sidang bersama MPR/DPR/DPD RI 2023, Presiden Joko Widodo [Jokowi] sempat bicara soal ‘Pak Lurah’.

Jokowi mulanya bicara soal kerap mendengar sebutan ‘Pak Lurah’ dari berbagai pihak. Dia baru menyadari jika sebutan Pak Lurah yang dimaksud adalah dirinya.

Presiden Jokowi pun sempat berang, saat mengetahui dirinya disebut sebagai Pak Lurah.

“Saya sempat mikir siapa ini Pak Lurah, sedikit-sedikit kok Pak Lurah, belakangan saya tahu yang dimaksud Pak Lurah ternyata saya,” kata Jokowi saat pidato kenegaraan di Gedung DPR/MPR, Jakarta, Rabu (16/8/2023).

Jokowi pun menegaskan dirinya bukan Lurah. Dia mengatakan dirinya adalah Presiden Republik Indonesia.

“Ya saya jawab saja, saya bukan lurah, saya adalah Presiden Republik Indonesia,” tegasnya.

Dalam bahasa pergaulan, terutama masyarakat Jawa, panggilan pak lurah, adalah ungkapan keakraban, ungkapan kasih sayang terhadap orang yang disegani.

Sebagai orang yang dibesarkan di lingkungan masyarakat jawa, dalam setiap kumpulan, kenduri, atau berkumpul sesama warga, sering terdengar seloroh ‘ Pak Lurah’ yang disematkan terhadap seseorang yang dituakan atau disegani, apabila orang tersebut belum terlihat hadir.

Masyarakat Jawa terutama di pedesaaan, cenderung hidup secara komunal atau secara etnis hidup dalam satu komunitas, yang memungkinkan kelompok masyarakat ini untuk mereproduksi keakraban di lingkungan mereka sendiri.

Dalam komunitas kolektif tersebut, mereka menikmati hubungan antar-anggota yang satu dengan yang lain. Mereka berbagi budaya yang sama, mempertahankan tradisi yang sama, makan makanan yang sama, dan berbicara dalam bahasa yang sama pula.

Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan umumnya adalah kegiatan berbasis kultural, kenduri, bakdah kupat, slametan, gotong royong dan sebagainya. Bila ada sosok yang dituakan, sebutan pak lurah itu menjadi hal yang lumrah sebagai bentuk ungkapan penghormatan dan kasih sayang.

Sebutan pak lurah kepada presiden Jokowi, harus disikapi dengan arif sebagai pemimpin yang tidak berjarak. Sama juga panggilan ‘pakde’ yang merupakan akronim dari bapak gede sebagai sosok yang dituakan dan dihormati.

Saya meyakini panggilan pak lurah yang disematkan kepada Pak Jokowi hanya persoalan salah tafsir saja, apalagi di tengah dinamika politik yang kian memanas.

Saya sependapat dengan apa yang disampaikan Tenaga Ahli Utama KSP Joanes Joko bahwa Lurah itu sering dipakai oleh teman-teman relawan untuk mengidentikkan Pak Jokowi karena beliau pemimpin yang tidak berjarak, merupakan panggilan yang kerap ditujukan kepada Presiden Jokowi merupakan sapaan khusus dari para relawan untuk memperlihatkan kedekatan.

Mari kita sudahi polemik ‘pak lurah’ agar tidak berkepanjangan. Masih banyak dan lebih suci yang harus kita fikirkan, yakni mensukseskan perhelatan pemilu 2024 untuk melahirkan pemimpin baru yang akan membawa perbaikan bagi bangsa ini ke depan.

*) Pekerja budaya, penikmat kopi pahit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *