STRATEGINEWS.Id, Depok – Di dalam al Quran, Allah mengumpamakan Dirinya sebagai cahaya diatas cahaya, sebagaimana disebutkan dalam Surat 24:35, Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi.
Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api.
Hal itu disampaikan Ustadzah Nurhamidah dalam kajian rutin bulanan Majelis Ilmu khayangan pimpinan Umi Linda, Senin 31 Juli 2023.
“ Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” kata Ustadzah Nurhamidah.
Ustadzah menyampaikan, di dalam ayat tersebut diatas, perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar, di dalam lensa, seperti bintang mutiara yang dinyalakan dengan minyak, sebuah cahaya yang tidak disentuh sumbernya yaitu api.
Perumpamaan tersebut, kata Ustadzah, hakikatnya mengacu kepada mata dimana ada lubangnya tetapi tidak tembus, bercahaya memantulkan sumber cahaya, dibuat dari minyak yang tidak dijual di mana-mana. Namun lebih lanjut, mata di sini merupakan mata hati manusia, bukan mata fisik.
“ Cahaya Allah berada di dalam hati manusia. Allah akan membimbing manusia yang memenuhi persyaratan untuk menuju kepada cahaya-Nya yang berlapis-lapis, sebuah cahaya yang sempurna,” tuturnya.
“ Cahaya memiliki nama lain Nur, sehingga cahaya Allah dapat disebut sebagai Nur Ilahi Rabbi. Nur Ilahi Rabbi juga memiliki makna yang lain yaitu Ruh Ilahi Rabbi. Pancaran dari Ruh Ilahi Rabbi terkandung di dalam wahyu Allah, sebagaimana disebutkan dalam Surat 42:52, Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu RUHAN dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Quran dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus,” sambungnya.
Di dalam ayat diatas, Allah mewahyukan kepada manusia melalui ruh-Nya. Ruh Ilahi Rabbi yang ada di dalam diri manusia. Melalui Ruh inilah manusia akan mengetahui dan memahami Alquran atau petunjuk Allah yang bercahaya. Tanpa melalui Ruh, maka Al Quran tidak akan memancarkan cahaya-Nya dan manusia yang membacanya. Tanpa melalui Ruh, maka dia tidak mungkin akan memahaminya seperti pemahaman yang dimiliki oleh cahaya diatas cahaya, Allah itu sendiri.
Ruh Allah atau cahaya Allah sebenarnya dimiliki oleh setiap manusia. Ketika jasad manusia sudah sempurna pembentukannya, maka ruh Allah ini ditiupkan ke dalam diri manusia, sebagaimana disebutkan dalam Surat 32:9, Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.
Semua manusia memiliki potensi untuk mendapatkan cahaya Allah, dimana dengan cahaya ini Allah akan membimbing manusia tersebut kepada jalan yang diridhoi-Nya. Bimbingan tersebut akan didapatkan melalui ruh atau cahaya yang terdapat di dalam diri setiap manusia. Di dalam al Quran, Allah selalu mengatakan bahwa bimbingan kepada manusia adalah melalui cahaya-Nya dan Allah juga selalu mengatakan bahwa manusia yang tidak mendapatkan cahaya adalah manusia dalam kegelapan atau malam.
Itulah yang telah Allah sampaikan pada kita agar selalu menghadirkan cahaya ilahi di dalam rumah kita. Dengan cara membaca al-Qur’an dan terus berdzikir menyebut nama-Nya maka cahaya ilahi itu akan hadir ke dalam rumah kita.
Selain itu, cahaya ilahi akan hadir apabila penghuni di dalam rumah itu senantiasa mengerjakan apa yang telah Allah perintahkan kepadanya. Seperti halnya melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. Dan senantiasa takut akan hadirnya hari kiamat.
Allah SWT berfirman, “Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat),” (QS. an-Nur: 37).
Hal tersebutlah yang akan mendatangkan pancaran cahaya ilahi. Allah Maha Pemberi Rezeki kepada yang Dia kehendaki tanpa batas. Maka dari itu, kita harus terus menyebut asma Allah di dalam rumah atau di mana pun kita berada. Agar rezeki berupa pancaran cahaya ilahi itu menghampiri kita supaya keadaan di dalam rumah tenang dan nyaman.
Wajah Yang Bercahaya
Ajaran Islam sangat menekankan kebersihan. Tak hanya kebersihan ruhani, tetapi juga jasmani. Bahkan, kebersihan ruhani tak bisa tercapai tanpa kebersihan jasmani.
Dengan demikian, kebersihan jasmani adalah syarat utama bagi kebersihan ruhani. Karena itu, sebelum kita melaksanakan shalat yang merupakan ibadah paling bisa mendekatkan kita kepada Allah atau bertaqarub kepada-Nya, kita diperintahkan untuk berwudhu.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat basuhlah mukamu, kedua tanganmu sampai siku, dan sapulah kepalamu serta basuhlah kedua kakimu sampai mata kaki.” (QS al-Maidah [5]: 6).
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci (berwudhu).” (HR Muslim).
Dalam hadis lain, beliau bersabda, “Aku diperintahkan untuk berwudhu apabila hendak melaksanakan shalat.” (HR Abu Dawud).
Lebih daripada untuk shalat, wudhu juga adalah penyebab wajah kita bersinar terang benderang di akhirat, membedakan kita sebagai umat Nabi Muhammad dengan umat para nabi sebelum beliau. Beliau bersabda, “Sesungguhnya umatku akan dipanggil pada hari kiamat dalam keadaan ghurran muhajjalin (wajahnya bercahaya) dari bekas wudhunya.” (HR al-Bukhari).
Melalui wudhu, Islam menekankan kepada kita untuk selalu berperilaku bersih dan suci. Islam tidak mengajarkan hal-hal yang kotor.
Minimal, dalam sehari lima kali orang mukmin dianjurkan untuk berwudhu ketika akan mengerjakan shalat fardhu. Sebetulnya tidak hanya ketika akan shalat kita dianjurkan berwudhu, bahkan dalam setiap kondisi, terutama ketika berhadas kecil atau besar.
Pada hadis di atas, Nabi Muhammad SAW menyatakan, orang yang membiasakan berwudhu pada hari kiamat wajahnya akan bercahaya terang, tanda terbiasa berwudhu. Sesungguhnya tidak hanya di akhirat, di dunia pun orang yang terbiasa berwudhu wajahnya akan tampak lebih berseri-seri dan segar, terang, sejuk, dan sedap dipandang.
Orang yang membiasakan wudhu adalah orang yang mencintai kebersihan dan sadar untuk selalu hidup bersih. Bersih ketika berinteraksi dengan sesama dan lingkungan serta bersih ketika menghadap Allah dalam ibadahnya.
Wajah-wajah yang bercahaya menerangi semua, menebarkan keteduhan dan kesejukan serta kesehatan. Itulah keindahan orang mukmin. Nabi mengatakan, “Sesungguhnya Allah Mahaindah dan menyukai keindahan” (HR Muslim).
[Risdiana/Jgd]












