Ekonomi global mulai terdampak guncangan pasokan minyak dari Selat Hormuz

Foto ilustrasi Meta AI

STRATEGINEWS.id, Medan — Guncangan pasokan minyak dari Selat Hormuz mulai menunjukkan dampak serius terhadap ekonomi global, seperti dikutip dari Bloomberg, Sabtu (25/4/2026).

Meski permintaan belum sepenuhnya runtuh, para trader memperingatkan bahwa penyesuaian besar—bahkan “demand destruction”—tidak terhindarkan jika jalur vital tersebut terus ditutup.

Sejauh ini, negara-negara maju masih mampu menahan tekanan dengan mengandalkan cadangan energi dan membayar lebih mahal demi mengamankan pasokan.

Namun, strategi ini hanya bersifat sementara. Dengan penurunan suplai yang diperkirakan mencapai setidaknya 10%, konsumsi global dipaksa turun untuk menyesuaikan keseimbangan pasar.

Total kehilangan pasokan diproyeksikan mencapai 1 miliar barel—lebih dari dua kali lipat cadangan darurat yang telah dilepas sejak konflik pecah pada akhir Februari.

Cadangan ini kini terus terkuras, menjaga harga tetap terkendali untuk sementara, tetapi meningkatkan risiko lonjakan di fase berikutnya.

Fenomena “demand destruction” mulai terlihat meski belum sepenuhnya terasa di pusat harga global.

Dampaknya pertama kali muncul di sektor petrokimia di Asia, sebelum perlahan merambat ke pasar konsumsi sehari-hari di berbagai negara.

Industri yang paling bergantung pada energi—seperti petrokimia di Asia dan Timur Tengah serta distribusi LPG di India—menjadi yang pertama terdampak.

Kini, efeknya mulai menjalar ke Barat dan menyentuh sektor yang lebih dekat dengan konsumen, termasuk transportasi dan bahan bakar kendaraan.

Maskapai di Eropa dan Amerika Serikat mulai memangkas ribuan penerbangan. Sementara itu, konsumsi bensin menunjukkan tanda mpelemahan setelah harga di AS menembus US$4 per galon. Diesel—yang menjadi tulang punggung logistik global—juga mulai mengalami tekanan.

Menurut International Energy Agency (IEA), permintaan minyak global berpotensi mencatat penurunan terbesar dalam lima tahun terakhir pada bulan ini.

Perusahaan perdagangan energi memperkirakan gangguan pasokan bisa mencapai hingga 5 juta barel per hari atau sekitar 5% dari total suplai global dalam waktu dekat. Kondisi ini meningkatkan risiko perlambatan ekonomi hingga resesi global.

Dampaknya mulai terlihat: Jerman memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi hingga setengahnya, sementara IMF juga menurunkan outlook global akibat konflik ini.

Dalam skenario terburuk, harga minyak Brent diperkirakan bisa menyentuh US$145 per barel dan memangkas pertumbuhan ekonomi Eropa secara signifikan.

Jika penutupan Selat Hormuz terus berlanjut, tekanan terhadap permintaan akan semakin besar—baik melalui lonjakan harga yang menekan daya beli, maupun intervensi pemerintah untuk membatasi konsumsi.

Gangguan ini diperkirakan akan terjadi secara bertahap. Asia menjadi wilayah pertama yang terdampak, diikuti Afrika, dan kini mulai terasa di Eropa.

Meski belum terlihat “krisis besar” di negara Barat, para analis menilai pasar sedang memasuki fase kritis.

Dalam skenario ekstrem, harga minyak bahkan bisa melonjak hingga US$250 per barel untuk memaksa keseimbangan antara suplai dan permintaan.

Ketidakpastian geopolitik membuat proyeksi menjadi semakin sulit. Namun, jika situasi tidak membaik dalam tiga bulan, risiko resesi global akan meningkat tajam.

Salah satu sektor paling rentan adalah bahan bakar jenis middle distillates, terutama diesel. Harga diesel di Eropa telah melampaui US$200 per barel—level tertinggi sejak 2022.

Di India, operator truk mulai bersiap menghadapi potensi pembatasan bahan bakar. Kenaikan harga diesel juga diperkirakan akan memukul rantai distribusi global.

Sektor penerbangan juga terkena dampak signifikan. Maskapai di Asia lebih dulu mengurangi rute, diikuti oleh maskapai Eropa yang memangkas puluhan ribu penerbangan musim panas.

Bahkan di AS—yang relatif lebih terlindungi—maskapai mulai menahan ekspansi. Konsumen pun mulai mengurangi konsumsi bensin meski pengeluaran meningkat akibat harga yang lebih tinggi.

Untuk meredam dampak awal, negara-negara anggota IEA telah melepas sekitar 400 juta barel cadangan strategis. Namun, langkah ini hanya memberi waktu, bukan solusi permanen.

“Dunia saat ini seperti ‘meminjam’ pasokan energi. Tapi itu tidak bisa berlangsung selamanya,” ujar CEO Vitol Group, Russell Hardy.

Jika ketergantungan pada cadangan terus berlanjut tanpa pemulihan pasokan, dunia berisiko menghadapi konsekuensi ekonomi yang lebih dalam—termasuk resesi akibat pembatasan konsumsi energi, seperti dikutip dari idnfinancials.com, Minggu (26/4/2026) sore.

(KTS/rel)

Sumber: idnfinancials.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *