Dari sungai keruh hingga pekarangan kota, biawak air diam-diam menjaga ekosistem

STRATEGINEWS.id, Medan — Suatu pagi yang lembap di tepian sungai, riak air yang tenang mendadak terbelah. Dari balik bayang-bayang vegetasi yang tumbuh liar, seekor reptil besar muncul perlahan. Tubuhnya yang gelap berkilau tertimpa cahaya matahari, sementara lidah bercabangnya menjulur cepat, seolah “mencicipi” udara di sekitarnya.

Ia bergerak tanpa suara, menyusuri batas antara air dan daratan, wilayah yang bagi banyak makhluk lain adalah garis pemisah namun baginya justru ruang hidup.

Itulah biawak air, atau Varanus salvator, spesies yang kerap disalahpahami namun memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan alam.

Secara ilmiah, biawak air dikenal sebagai salah satu reptil paling adaptif di kawasan tropis Asia. Ia tersebar luas di berbagai wilayah Indonesia, dari hutan mangrove pesisir hingga kawasan perkotaan yang padat.

Kemampuan adaptasinya bukan sekadar kebetulan, melainkan hasil dari seperangkat keunggulan biologis yang telah teruji oleh waktu.

Tubuhnya dirancang untuk dua dunia sekaligus, darat dan air. Ekor panjangnya pipih secara lateral, berfungsi layaknya dayung yang memungkinkannya berenang dengan efisien. Paru-parunya mampu menyimpan oksigen dalam waktu cukup lama sehingga ia dapat menyelam hingga puluhan menit.

Sementara itu, lidah bercabang yang bekerja bersama organ Jacobson memberinya kemampuan mendeteksi partikel kimia di udara, sebuah sistem “penciuman” canggih yang juga dimiliki ular. Keunggulan ini menjadikan biawak air sebagai predator semi-akuatik yang efektif.

Pemakan Telur Ular

Namun, menariknya, dalam struktur rantai makanan, ia tidak berada di puncak tertinggi. Para ilmuwan mengategorikannya sebagai mesopredator, pemangsa tingkat menengah yang memainkan peran krusial dalam menjaga stabilitas ekosistem.

Ia memangsa berbagai jenis hewan, mulai dari ikan, serangga, amfibi, hingga mamalia kecil seperti tikus hingga telur ular.

Di sisi lain, ketika masih muda, biawak juga menjadi mangsa bagi predator yang lebih besar. Hubungan timbal balik ini membentuk jaring kehidupan yang kompleks, di mana setiap spesies saling terhubung dan saling memengaruhi.

Scavenger

Salah satu peran paling penting biawak air justru terletak pada kebiasaannya yang sering dianggap menjijikkan, memakan bangkai. Dalam perspektif ekologi, perilaku ini menjadikannya sebagai scavenger atau pemakan sisa, yang berfungsi sebagai “petugas sanitasi alami”.

Bangkai hewan yang dibiarkan membusuk di alam dapat menjadi sumber berkembangnya bakteri dan patogen berbahaya. Dengan mengonsumsi sisa-sisa tersebut, biawak membantu mempercepat proses daur ulang nutrisi sekaligus menekan potensi penyebaran penyakit. Peran ini jarang terlihat namun dampaknya sangat nyata bagi kesehatan ekosistem.

Sekutu Manusia

Kemampuannya dalam memangsa tikus menjadikan biawak air sebagai sekutu tak langsung bagi manusia, terutama di wilayah pertanian dan tambak. Tikus dikenal sebagai salah satu hama utama yang dapat merusak tanaman dan menyebarkan penyakit.

Kehadiran biawak membantu menjaga populasi tikus tetap terkendali secara alami tanpa perlu intervensi bahan kimia yang berpotensi merusak lingkungan.

Dalam konteks ini, biawak air bukanlah ancaman, melainkan bagian dari solusi yang telah disediakan alam.

Meski demikian, persepsi masyarakat terhadap biawak air seringkali berbeda. Tubuhnya yang besar, gerakannya yang tiba-tiba, serta habitatnya yang kerap bersinggungan dengan manusia membuatnya kerap dianggap berbahaya.

Saat biawak muncul di selokan kota atau pekarangan rumah, reaksi yang muncul umumnya adalah kepanikan. Padahal, secara ilmiah, biawak air termasuk satwa yang cenderung defensif.

Perilaku umum, ia lebih mengandalkan respons menghindar dibanding menyerang. Serangan terhadap manusia sangat jarang terjadi, dan umumnya dipicu oleh situasi tertentu seperti ancaman langsung atau upaya penangkapan.

Fenomena kemunculan biawak di kawasan permukiman sebenarnya mencerminkan perubahan lanskap yang lebih luas. Ketika habitat alami seperti hutan mangrove, rawa, dan bantaran sungai mengalami penyempitan akibat pembangunan, satwa liar dipaksa untuk beradaptasi dengan ruang yang tersisa.

Dalam banyak kasus, bukan biawak yang “masuk” ke wilayah manusia, melainkan manusia yang telah memperluas wilayahnya ke dalam habitat biawak. Interaksi yang terjadi kemudian menjadi tak terhindarkan.

Status

Biawak air termasuk spesies dengan status “Least Concern” menurut International Union for Conservation of Nature, yang berarti belum berada pada tingkat tidak mengkhawatirkan. Namun status ini tidak boleh disalahartikan sebagai kondisi yang sepenuhnya aman.

Perdagangan kulit, perburuan, serta degradasi habitat tetap menjadi tekanan yang nyata. Oleh karena itu, spesies ini juga masuk dalam Appendix II CITES, yang mengatur agar pemanfaatannya tidak mengancam kelestarian populasi di alam.

Lebih dari sekadar angka dan status, keberadaan biawak air dapat dibaca sebagai indikator kondisi lingkungan. Di wilayah yang masih memiliki kualitas ekosistem yang baik, dengan ketersediaan air, vegetasi, dan sumber pakan, biawak cenderung tetap bertahan.

Sebaliknya, ketika lingkungan mengalami pencemaran atau kerusakan serius, populasi biawak akan menurun. Dengan demikian, ketidakhadirannya dapat menjadi “sinyal biologis” yang memberi gambaran tentang kesehatan ekosistem di sekitar kita.

Di tengah dinamika ini, pendekatan konservasi yang paling relevan bukanlah penghilangan, melainkan pengelolaan interaksi. Edukasi kepada masyarakat menjadi kunci penting agar persepsi terhadap biawak air dapat berubah.

Memahami bahwa satwa ini memiliki peran ekologis yang signifikan akan bantu mengurangi konflik yang tidak perlu. Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan lingkungan, tidak membuang sisa makanan sembarangan, serta tidak melakukan penangkapan liar dapat memberikan dampak besar dalam menjaga keseimbangan.

Ketakutan Lahir dari Ketidaktahuan

Pada akhirnya, kisah biawak air adalah cerminan dari hubungan manusia dengan alam itu sendiri. Ia hidup di antara dua dunia, liar dan manusia, tanpa pernah benar-benar memiliki batas yang jelas. Dalam diam, ia menjalankan fungsinya sebagai pembersih, pengendali, dan penyeimbang. Tanpa suara, tanpa pengakuan, namun dengan kontribusi yang nyata.

Mungkin kita tidak selalu menyadari kehadirannya. Namun setiap kali air sungai tetap mengalir tanpa bau busuk yang menyengat, setiap kali populasi hama tetap terkendali, ada peran-peran kecil yang bekerja di baliknya. Dan di antara peran-peran itu, Varanus salvator berdiri sebagai salah satu penjaga yang paling setia meski sering kali paling disalahpahami.

Biawak air bukan sekadar reptil besar yang muncul tiba-tiba di selokan atau sungai. Ia adalah bagian dari sistem ekologis yang kompleks, bekerja sebagai pembersih, pengendali, dan penyeimbang. Ilmu pengetahuan membantu kita memahami satu hal sederhana bahwa ketakutan sering lahir dari ketidaktahuan.

Dan ketika pengetahuan hadir, yang tersisa bukan lagi rasa takut, melainkan penghargaan. Karena di balik gerak sunyinya, Varanus salvator sedang menjaga sesuatu yang jauh lebih besar daripada dirinya sendiri yaitu keseimbangan kehidupan, seperti dikutip dari ksdae.kehutanan.co.id, Kamis (16/4/2026) malam.

(KTS/rel)

Sumber: ksdae.kehutanan.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *