Palestina Ladang Kepedulian dan Kebahagiaan

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP

Syahril Syam, ST., C.Ht., L.NLP *)

Perempuan itu telah mencapai puncak depresinya. Ia benar-benar merasa hampa dan menderita. Tak ada satupun yang bisa membuatnya bahagia. Uang dan berbagai kesenangan duniawi semakin terasa hambar dan justru semakin memuakkan.

Hingga suatu hari saat ia duduk melamun di teras belakang, datanglah seekor kucing yang secara manja mengeluskan tubuhnya di kakinya. Sesaat ia terkejut karena tidak menyadari bahwa tiba-tiba ada seekor kucing di kakinya. Ia memperhatikan sejenak, dan tampak bahwa kucing itu sepertinya kelaparan. Perempuan itupun tanpa sadar merasa tergerak untuk memberikannya sepiring susu.

Saat ia menatap betapa lahapnya kucing tersebut menikmati susu yang diberikannya, ia tanpa sadar menangis dan tersenyum bahagia. Untuk pertama kalinya perempuan itu entah bagaimana merasa bahagia melihat kucing yang sangat senang dengan susu pemberiannya. Sudah sangat lama ia tidak pernah tersenyum bahagia. Ia telah lama lupa seperti apa bahagia itu. Akhirnya perempuan itu menyadari bahwa bahagia adalah ketika kita berbuat baik kepada makhluk Tuhan.

Penelitian membuktikan welas asih atau kasih sayang yang kita rasakan pada orang lain – yang mencerminkan perasaan mendalam terhadap orang lain, juga perasaan sayang yang kuat dan berusaha membantu serta membuat orang lain bahagia – dapat membuat kita semakin bahagia. Bahkan jika hanya berupa tindakan untuk merasa empati kepada derita orang lain, akan membantu terpicunya emosi-emosi positif (kontruktif) pada diri kita.

Selain itu, kasih sayang dan kepedulian yang kita tunjukkan kepada orang lain – apalagi yang dalam kesulitan dan penderitaan – membuat orang yang kita tolong mengalami juga penurunan tingkat stres dan peningkatan kekebalan tubuh. Ini berari bahwa membahagiakan orang lain memberikan umpan balik kesehatan pada yang menolong dan yang ditolong.

Berbuat baik tidak mesti selalu dalam bentuk pemberian uang yang banyak. Berbuat baik bisa berbentuk hal-hal kecil dan sederhana, namun bermanfaat bagi manusia dan makhluk Tuhan lainnya. Berbuat baik adalah tentang keluar dari perasaan egois ke perasaan memperhatikan makhluk-makhluk Tuhan. Mulai dari alam, tumbuhan, hewan, hingga manusia.

Pada sebagian manusia yang mengalami penderitaan dan keterjajahan, sesungguhnya adalah ladang bagi kita untuk merasa bahagia, dengan cara peduli dan memperhatikan mereka. Dan di tengah zaman yang begitu semakin canggih dan maju, ada saudara kita, saudara sesama manusia, yang masih dilanda derita dan keterjajahan. Palestina adalah saudara kita sesama manusia. Palestina adalah ladang kita untuk peduli. Palestina adalah tempat kita untuk keluar dari rasa egois ke rasa kemanusiaan. Palestina adalah zona yang bisa membuat kita bahagia saat memperhatikan dan membantu mereka semampu yang bisa kita lakukan.

David Hume, seorang filsuf, pernah berkata bahwa meski akal sehat membawa kita pada ide-ide, matematika, logika, dan fakta-fakta, tetap saja akal sehat tidak akan bisa mendorong kita untuk bertindak. Hanya emosi (positif) yang bisa menggerakkan kita untuk melakukannya.

@pakarpemberdayaandiri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *