SMP Negeri 3 Sirenja Butuh Guru Penggerak

Wakasek Kurikulum SMP Negeri 3 Sirenja, Aida.

Strateginews.Id, Donggala – Wacana membentuk generasi muda yang melek sains, literatif-numeratif dan berkarakter di era global ini perlu diwadahi dengan pengembangan kerangka pedagogis yang memerdekakan, relevan dan berkesinambungan.

Dilandasi keyakinan epistemologis bahwasanya proses pendidikan merupakan fenomena pembentukan manusia seutuhnya sesuai dengan kodratnya, maka diperlukan upaya konstruktif yang mengarah pada pencapaian tujuan itu.

Peserta didik kelas 7 di SMP Negeri 3 Sirenja, Donggala.

Seiring dengan hal itu pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemdikbudristek) RI telah melakukan upaya mendasar dan progresif yakni merubah kurikulum pembelajaran dari kurikulum 2013 (K13) menjadi kurikulum merdeka.

Tujuannya tidak lain untuk penguatan peran kurikulum dalam proses transformasi pendidikan di era saat ini dan masa yang akan datang. Esensi dari kurikulum merdeka adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia dan menghasilkan generasi masa depan yang kuat secara intelektualitas, karakter dan memiliki semangat sebagai pembelajar sepanjang hayat (life long learner).

Karena itu, dalam cakupannya konten kurikulum merdeka terdiri dari kompetensi, pelaksanaan pembelajaran yang fleksibel dan karakter pelajar pancasila. Sedangkan spiritnya, pihak satuan pendidikan, guru dan peserta didik diberikan keleluasaan untuk pengembangan proses pembelajaran.

Satuan pendidikan juga didorong dapat berkolaborasi dengan berbagai pihak pemangku kepentingan seperti dunia industri, perguruan tinggi, praktisi dan masyarakat untuk mewujudkan merdeka belajar.

Menurut Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMP Negeri 3 Sirenja, Desa Balentuma, Kecamatan Sirenja, Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah, Aida mengatakan, penerapan KMB di sekolahnya belum optimal dan maksimal di laksanakan dan masih banyak kendala di hadapi oleh para guru dan peserta didik di sekolahnya.

“Kami terkendala dari media pembelajarannya, belum lagi buku panduan belajar KMB belum lengkap di sekolah ini. Karena buku paket KMB ini belum bisa di berikan kepada masing-masing person siswa untuk di pelajari di rumah, buku itu hanya bisa di gunakan saat dalam kelas saja,” Bilang Aida.

Belum lagi kondisi ruang belajar yang alami banyak kerusakan saat bencana gempa bumi tahun 2018 lalu. Lebih lanjut di jelaskannya, semua sarana penunjang pembelajaran di SMP Negeri 3 Sirenja terutama fasilitas kelistrikkannya rusak dan tidak bisa di pakai.

“Untung saja, para peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam menerima tiap-tiap materi di kurikulum Merdeka ini. Meskipun dengan kondisi terbatas dan tidak di dukung oleh fasilitas yang bagus, para siswa mampu dalam mengikuti sistem pembelajaran konten kurikulum Merdeka,” Ungkap Aida.

Jadi menurutnya, sebagai guru harus piawai dalam mengarahkan dalam proses pembelajaran bagi anak-anak didik untuk belajar menggunakan kurikulum Merdeka ini. Artinya bagaimana sebagai seorang guru menggali bakat yang dimiliki tiap-tiap peserta didik.

“Dan terbukti anak kami sempat mendapat prestasi terbaik juara 1 pada even Olimpiade Sains Siswa Nasional (O2SN) yang di selenggarakan di tingkat Kabupaten Donggala hingga juara 1 di tingkat Propinsi Sulewasi Tengah Tahun 2022 lalu, dan berharap ke depan Pemerintah bisa menempatkan guru penggerak di sekolahnya untuk kemajuan pendidikan kedepan bagi SMP Negeri 3 Sirenja, ” Tukas Aida.

Tim Liputan Strateginews.Id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *