Opini  

Analisis Thucydides Trap: Pertemuan Trump dan Xi: Jeda Menuju Benturan Hebat?

Achmad Nur Hidayat

Oleh Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Apa makna pertemuan Donald Trump dan Xi Jinping bagi ekonomi global?

Apakah dunia sedang memasuki fase baru stabilitas, atau hanya sedang menikmati jeda pendek sebelum rivalitas Amerika Serikat dan Cina kembali meledak dalam bentuk perang tarif, perang teknologi, dan perebutan kendali atas data digital?

Apakah Washington dan Beijing bisa menurunkan tarif atau meningkatkan pembelian kedelai.

Masalah yang lebih dalam adalah apakah dua kekuatan ekonomi terbesar dunia mampu keluar dari pola klasik yang dikenal sebagai Thucydides Trap, yaitu situasi ketika kekuatan lama merasa terancam oleh kebangkitan kekuatan baru, lalu keduanya terdorong masuk ke konflik meskipun konflik itu merugikan semua pihak.

Amerika adalah kekuatan mapan yang ingin mempertahankan dominasi dolar, teknologi, pasar keuangan, militer, dan standar global.

Cina adalah kekuatan naik yang ingin diakui sebagai pusat manufaktur, teknologi, perdagangan, dan tata kelola baru dunia.

Saya ingin menyakinkan membaca bahwa pertemuan Trump dan Xi bukanlah tanda berakhirnya rivalitas, melainkan upaya mengelola rivalitas agar tidak berubah menjadi benturan terbuka.

Ekonomi global saat ini seperti dua gajah besar yang sedang menari di atas lantai kaca.

Ketika keduanya bergerak lembut, dunia bisa bernapas.

Tetapi ketika salah satu terpeleset, pecahan kacanya melukai banyak negara lain, termasuk negara berkembang seperti Indonesia.

Dari Diplomasi Senyum ke Perang Tarif Resiprokal

Pertemuan Trump dan Xi memang membawa sinyal stabilisasi.

Cina dilaporkan bersedia membeli setidaknya 17 miliar dolar AS produk pertanian Amerika setiap tahun pada 2026, 2027, dan 2028, di luar komitmen kedelai yang sudah dibicarakan sebelumnya.

Data Reuters juga mencatat ekspor pertanian AS ke Cina sempat anjlok 65,7 persen secara tahunan menjadi hanya 8,4 miliar dolar AS pada 2025 akibat konflik tarif. Ketergantungan Cina pada kedelai AS pun turun dari 41 persen pada 2016 menjadi 20 persen pada 2024.

Ini menunjukkan perang dagang bukan sekadar retorika politik, tetapi benar benar mengubah peta perdagangan pangan dunia.

Namun, stabilisasi ini tidak boleh dibaca sebagai rekonsiliasi strategis.

Ia lebih tepat disebut gencatan senjata ekonomi. Sebab sebelum pertemuan ini, dunia telah menyaksikan eskalasi perang tarif resiprokal yang sangat agresif.

Pada April 2025, Trump mengumumkan tarif tambahan 34 persen terhadap barang Cina, di atas tarif 20 persen yang sebelumnya dikenakan, sehingga beban tarif baru terhadap Cina naik menjadi sekitar 54 persen.

Cina merespons dengan ancaman tindakan balasan.

Dalam fase eskalasi berikutnya, perang tarif sempat membawa tarif AS terhadap impor Cina naik sangat tinggi, bahkan Reuters mencatat pungutan AS atas impor Cina pernah mencapai 145 persen sebelum kemudian ditahan setelah pasar obligasi dan saham terguncang.

Di sinilah Thucydides approach menjadi relevan. Tarif bukan hanya instrumen ekonomi, melainkan bahasa kekuasaan.

Ketika Amerika menaikkan tarif, pesannya bukan sekadar “barang Cina terlalu murah”. Pesannya adalah “kami tidak ingin Cina terus naik dengan memanfaatkan pasar Amerika”.

Ketika Cina membalas, pesannya juga bukan sekadar “kami keberatan”. Pesannya adalah “kami tidak akan tunduk pada tekanan sepihak Amerika”.

Dengan kata lain, perang tarif resiprokal adalah bentuk modern dari adu kekuatan antar imperium ekonomi.

Dulu negara besar saling memblokade pelabuhan. Hari ini mereka memblokade akses pasar, teknologi, data, dan mineral kritis.

Tekanan Pemilu Sela dan Ekonomi Domestik Amerika

Ada alasan lain mengapa Trump akhirnya mau bertemu Xi Jinping: tekanan politik domestik Amerika menjelang pemilu sela 2026 yang berlangsung 3 November 206 mendatang.

Dalam politik Amerika, ekonomi hampir selalu menjadi referendum terhadap presiden yang sedang berkuasa.

Jika harga naik, petani rugi, pasar saham gelisah, dan dunia usaha menunda investasi, maka partai presiden akan membayar mahal di kotak suara.

Trump menghadapi paradoks dari kebijakannya sendiri. Di satu sisi, tarif resiprokal dijual sebagai simbol keberanian melawan Cina.

Di sisi lain, tarif itu menciptakan biaya politik yang nyata di dalam negeri. Petani kedelai, peternak, eksportir daging, pelaku logistik, ritel, hingga industri manufaktur yang memakai komponen impor ikut terkena dampak.

Ketika ekspor pertanian AS ke Cina jatuh dan Cina mengalihkan sebagian pembeliannya ke pemasok lain seperti Brasil, tekanan langsung terasa di wilayah pedesaan dan negara bagian pertanian yang selama ini menjadi basis penting Partai Republik.

Karena itu, pertemuan Trump dan Xi bukan hanya diplomasi global, tetapi juga operasi penyelamatan politik domestik Trump. Ia membutuhkan kabar baik yang mudah dikomunikasikan kepada pemilih:

Cina kembali membeli produk pertanian Amerika, petani kembali memiliki pasar, dan Washington berhasil memaksa Beijing duduk di meja perundingan.

Bagi Trump, hasil seperti ini penting karena bisa dijual sebagai bukti bahwa strategi tekanannya membuahkan hasil, bukan sekadar menciptakan kekacauan pasar.

Pemilu sela menjadi faktor penting karena Partai Republik membutuhkan dukungan kuat dari negara bagian pertanian dan basis kelas pekerja yang selama ini menjadi tulang punggung Trump.

Ketika Cina mengurangi pembelian kedelai dan produk pertanian AS, tekanan langsung terasa di wilayah yang secara politik penting bagi Trump.

Dalam konteks ini, kesepakatan pertanian pasca pertemuan Trump dan Xi memberi harapan bagi petani Amerika yang terpukul perang dagang, terutama produsen kedelai yang sebelumnya kehilangan pasar ekspor utama.

Di sinilah kita melihat wajah lain dari Thucydides approach.

Rivalitas negara besar tidak hanya digerakkan oleh ambisi geopolitik, tetapi juga oleh tekanan politik dalam negeri. Trump perlu tampak keras terhadap Cina agar tidak kehilangan citra nasionalis ekonominya.

Namun ia juga perlu menunjukkan hasil konkret kepada petani, dunia usaha, dan pemilih menjelang pemilu sela.

Maka pertemuan dengan Xi menjadi jalan tengah: tetap tampil sebagai negosiator keras, tetapi sekaligus membuka keran ekspor yang dibutuhkan basis politik domestiknya.

Tekanan ekonomi domestik juga datang dari pasar. Tarif tinggi memang bisa menghasilkan pendapatan bagi negara, tetapi dalam praktiknya sering diteruskan sebagai biaya tambahan kepada konsumen dan pelaku usaha.

Barang impor menjadi lebih mahal, input produksi naik, margin perusahaan tertekan, dan inflasi sulit turun.

Dunia usaha Amerika tentu tidak ingin hidup dalam ketidakpastian tarif yang berubah ubah mengikuti tensi politik.

Investor juga tidak suka melihat perang dagang yang membuat biaya produksi sulit diprediksi dan rantai pasok kembali kacau.

Dalam konteks ini, Trump tidak sekadar berunding dengan Xi, tetapi juga sedang berunding dengan kecemasan ekonomi di dalam negerinya sendiri.

Ia harus menjaga keseimbangan antara citra sebagai pemimpin keras terhadap Cina dan kebutuhan menjaga stabilitas ekonomi Amerika. Terlalu lunak terhadap Cina bisa diserang lawan politiknya.

Tetapi terlalu keras juga bisa merugikan petani, konsumen, dunia usaha, dan pasar keuangan Amerika sendiri.

Dengan demikian, pertemuan Trump dan Xi tidak bisa hanya dibaca sebagai diplomasi antara Washington dan Beijing.

Ia juga harus dibaca sebagai respons terhadap keresahan Iowa, Nebraska, Wisconsin, Michigan, Pennsylvania, dan negara bagian lain yang menentukan konfigurasi politik Amerika.

Trump membutuhkan kemenangan simbolik dan material. Simboliknya adalah terlihat mampu memaksa Cina duduk di meja perundingan.

Materialnya adalah pembelian produk pertanian, stabilitas pasar, dan penurunan tekanan inflasi menjelang pemilu sela.

Tetapi tekanan domestik itu tidak membuat Trump melunak sepenuhnya.

Justru dalam isu teknologi dan data, terutama TikTok, ia tetap menggunakan pendekatan keras karena isu ini mudah dijual kepada publik Amerika sebagai isu keamanan nasional, bukan sekadar isu bisnis.

TikTok dan Perang Kendali atas Data

Pertemuan Trump dan Xi juga harus dibaca melalui kasus TikTok.

Ini penting karena TikTok menunjukkan bahwa perang AS Cina sudah bergerak dari barang fisik menuju ruang digital.

Jika perang tarif bicara soal kedelai, mobil listrik, baja, dan mesin, maka kasus TikTok bicara soal data, algoritma, pengaruh sosial, dan kedaulatan digital.

Undang undang Amerika yang dikenal sebagai Protecting Americans from Foreign Adversary Controlled Applications Act mewajibkan aplikasi yang dianggap dikendalikan musuh asing, termasuk TikTok dan ByteDance, melakukan divestasi agar tidak terkena larangan distribusi di AS.

Mahkamah Agung AS pada Januari 2025 menegaskan bahwa larangan tersebut berlaku 270 hari setelah undang undang disahkan, dengan batas awal 19 Januari 2025, kecuali ada divestasi yang memenuhi syarat.

Trump kemudian memainkan isu TikTok secara transaksional.

Ia memperpanjang tenggat waktu beberapa kali, termasuk sampai September 17, 2025, sembari mendorong ByteDance melepas kendali atas operasi TikTok di Amerika.

Rencana yang dibahas adalah membentuk entitas TikTok AS, dengan kepemilikan Cina terdilusi di bawah ambang 20 persen sesuai hukum AS.

Proses ini sempat tertahan karena Cina keberatan setelah Trump menaikkan tarif terhadap Cina.

Inilah contoh paling jelas bahwa dalam rivalitas AS Cina, teknologi bukan lagi sektor bisnis biasa. TikTok bukan hanya aplikasi hiburan.

Ia menjadi simbol siapa yang berhak mengendalikan perhatian publik, data pengguna, algoritma rekomendasi, dan infrastruktur opini digital.

Amerika memandang TikTok sebagai risiko keamanan nasional karena berada di bawah perusahaan Cina.

Cina memandang tekanan divestasi sebagai pemaksaan politik terhadap perusahaan teknologinya.

Analogi sederhananya seperti sebuah negara yang merasa pasar tradisionalnya dikuasai pedagang asing, lalu tiba tiba menyadari bahwa pengeras suara di pasar itu juga dimiliki pedagang asing tersebut.

Bukan hanya barang yang dijual, tetapi juga suara yang mengatur perhatian pembeli.

Dalam dunia digital, siapa yang menguasai algoritma, ia tidak hanya menguasai iklan, tetapi juga emosi publik, preferensi politik, dan perilaku generasi muda.

Pertemuan yang Meredakan, tetapi Tidak Menyembuhkan

Karena itu, pertemuan Trump dan Xi harus dibaca sebagai peredam suhu, bukan penyembuh penyakit.

Ada kesepakatan mengenai pembelian produk pertanian, pembicaraan soal pengurangan hambatan non tarif, dan pembentukan forum dagang serta investasi.

Cina juga disebut memberi sinyal pemulihan akses pasar bagi daging sapi dan unggas AS dari wilayah bebas flu burung.

Akan tetapi Kementerian Perdagangan Cina menyebut hasil kunjungan itu masih bersifat pendahuluan, dengan banyak detail yang belum final, termasuk komitmen nilai, volume, jadwal, dan perusahaan yang terlibat.

Ini artinya, pasar boleh lega, tetapi tidak boleh lengah. Dunia pernah melihat kesepakatan dagang fase pertama AS Cina pada era Trump sebelumnya yang menjanjikan pembelian besar, tetapi realisasinya tidak sepenuhnya sesuai harapan.

Dalam politik Trump, angka besar sering menjadi alat komunikasi politik. Dalam strategi Xi, konsesi ekonomi sering diberikan selama tidak mengganggu kontrol strategis Partai Komunis Cina.

Pertemuan ini mirip dua petinju yang saling berjabat tangan setelah ronde berdarah.

Mereka tersenyum di depan kamera, tetapi pelatih masing masing tetap menyiapkan strategi ronde berikutnya.

Senyum diplomasi tidak menghapus kepentingan struktural. Amerika tetap ingin menahan lompatan teknologi Cina.

Cina tetap ingin mengurangi ketergantungan pada pasar, chip, dan sistem keuangan Barat.

Dampak bagi Ekonomi Global

Bagi ekonomi global, dampak pertama adalah turunnya tekanan jangka pendek.

Bila tarif ditahan, pembelian pertanian meningkat, dan dialog berlanjut, pasar komoditas, logistik, dan saham global mendapat ruang bernapas.

Petani Amerika mendapat harapan baru. Importir Cina mendapat kepastian pasokan. Negara ketiga bisa menata ulang strategi ekspor.

Tetapi dampak kedua adalah meningkatnya ketidakpastian struktural.

Perusahaan global kini tidak bisa lagi hanya menghitung biaya produksi dan ongkos kirim. Mereka harus menghitung risiko politik. Apakah barang dari Cina akan terkena tarif baru?

Apakah chip dari AS bisa dijual ke pabrik Cina? Apakah aplikasi digital Cina akan dipaksa divestasi?

Apakah mineral rare earth bisa sewaktu waktu dibatasi?

Pertanyaan ini membuat investasi lebih mahal dan rantai pasok lebih pendek, lebih politis, serta lebih terfragmentasi.

Dampak ketiga adalah lahirnya globalisasi baru yang lebih curiga.

Globalisasi lama percaya bahwa perdagangan akan membuat negara besar saling bergantung dan karenanya menghindari konflik.

Akan tetapi realitas AS Cina menunjukkan sebaliknya.

Ketergantungan justru bisa menjadi senjata. Amerika menggunakan pasar dan teknologi sebagai alat tekan. Cina menggunakan manufaktur, rare earth, dan skala konsumsi sebagai alat tawar.

Pelajaran bagi Indonesia

Bagi Indonesia, pertemuan Trump dan Xi membawa pesan penting.

Jangan melihat rivalitas AS Cina sebagai tontonan jauh.

Dampaknya bisa masuk ke rupiah, pasar modal, harga komoditas, ekspor nikel, investasi kendaraan listrik, hingga kebijakan digital nasional.

Jika hubungan AS Cina membaik, Indonesia mendapat ruang stabilitas.

Arus modal ke emerging market bisa lebih tenang. Permintaan komoditas bisa lebih terjaga. Tekanan terhadap rupiah bisa berkurang.

Akan tetapi jika konflik kembali memanas, Indonesia akan menghadapi volatilitas modal, tekanan ekspor, dan dilema diplomatik.

Kita bisa didorong memilih kubu dalam teknologi 5G, AI, data center, mineral kritis, hingga sistem pembayaran.

Karena itu, Indonesia harus memainkan strategi bebas aktif yang lebih konkret.

Bukan bebas aktif sebagai slogan, tetapi sebagai strategi industri. Indonesia harus memperkuat hilirisasi, memperbesar nilai tambah, menjaga kedaulatan data, memperluas pasar ekspor, dan tidak terlalu bergantung pada satu negara besar.

Dalam konteks TikTok, Indonesia juga harus belajar bahwa platform digital bukan hanya ruang hiburan, tetapi infrastruktur ekonomi dan opini publik.

Negara yang tidak punya strategi data akan menjadi pasar, bukan pemain.

Dunia Tidak Sedang Damai, Dunia Sedang Bernegosiasi Agar Tidak Meledak

Pertemuan Trump dan Xi penting karena menunjukkan bahwa dua raksasa masih bersedia berbicara.

Akan tetapi dunia tidak boleh salah membaca. Ini bukan akhir perang dagang. Ini bukan akhir perang teknologi. Ini bukan akhir perebutan pengaruh. Ini adalah jeda yang dinegosiasikan.

Dalam kacamata Thucydides approach, pertanyaan terbesarnya adalah apakah Amerika mampu menerima kebangkitan Cina tanpa panik, dan apakah Cina mampu naik tanpa memaksa sistem global berubah secara koersif.

Jika keduanya gagal, dunia akan terus hidup dalam siklus tarif naik, negosiasi, tarif turun, lalu konflik naik lagi.

Makna terbesar pertemuan Trump dan Xi adalah bahwa ekonomi global kini tidak lagi bisa dipisahkan dari politik kekuasaan.

Kedelai, tarif, TikTok, rare earth, chip, dan Taiwan adalah bagian dari satu cerita besar: perebutan siapa yang memimpin abad ke 21. Bagi Indonesia, jawabannya bukan memilih menjadi pengikut salah satu kubu, tetapi memperkuat daya tahan sendiri.

Karena dalam dunia yang ditentukan oleh dua gajah besar, negara yang tidak memperkuat rumahnya sendiri akan selalu takut setiap kali tanah bergetar.

END

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *