Opini  

Naik Haji Jangan Nunggu Kaya

Oleh : Sekretaris Disdikbud Kota Singkawang, Safari Hamzah

Di sebuah sudut kampung di Maros, Sulawesi Selatan, seorang nenek petani bernama Jumaria berjalan pelan di atas pematang sawah. Kakinya mungkin retak dimakan usia. Tangannya mungkin kasar oleh lumpur dan matahari. Tetapi siapa sangka, perempuan sederhana itu akhirnya ditemukan dunia — bukan karena kekayaan, bukan karena jabatan, bukan pula karena ribuan pengikut media sosial yang hari ini sering dipelihara seperti ternak popularitas.

Ia ditemukan karena Allah mengizinkan ketulusan menjadi cahaya.

Betapa ironis zaman ini. Manusia berlomba-lomba menjadi terkenal dengan tarian lima belas detik, dengan konten penuh sensasi, dengan wajah yang dipoles filter sampai nyaris tidak dikenali malaikat pencatat amalnya sendiri. Tetapi di tengah kebisingan itu, langit justru menunjuk seorang nenek petani sebagai ikon haji dunia.

Arab Saudi menemukannya melalui sistem modern:

* biometrik wajah,
* sidik jari,
* paspor elektronik,
* integrasi data kesehatan,
* dan program digital Makkah Route.

Teknologi itu begitu canggih, seolah dunia telah berubah menjadi lautan angka dan algoritma. Namun lucunya, di ujung seluruh kecanggihan itu, yang dicari tetap satu: manusia yang hatinya bersih.

Bukankah ini sindiran paling halus bagi manusia modern?

Kita membangun gedung pendidikan setinggi langit, tetapi gagal mengajarkan kesabaran. Kita mencetak ijazah berjilid-jilid, tetapi banyak yang tumbang hanya karena komentar media sosial. Kita sibuk mendidik anak agar sukses mencari dunia, tetapi lupa mengajari cara berjalan menuju Allah.

Sementara Jumaria — tanpa seminar motivasi, tanpa podcast sukses, tanpa pencitraan religius — diam-diam menabung hampir dua puluh tahun dari hasil sawah dan kebun.

Dua puluh tahun.

Bukan dua puluh hari.
Bukan dua puluh konten.
Bukan dua puluh slogan motivasi.

Tetapi dua puluh tahun menahan keinginan dunia demi satu panggilan langit.

Di saat sebagian manusia hari ini rela berutang demi gengsi, ia memilih menahan lapar demi Baitullah. Di saat sebagian orang mengukur kemuliaan dengan merek pakaian, Allah justru mengangkat perempuan tua yang pakaiannya mungkin bahkan tidak dilirik etalase dunia.

Inilah pelajaran iman yang hari ini nyaris punah:
Allah tidak melihat siapa yang paling mewah berjalan ke masjid, tetapi siapa yang paling tulus menjaga niatnya.

Data penyelenggaraan haji Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa jamaah dari kalangan sederhana — petani, nelayan, pedagang kecil — justru dikenal lebih disiplin mengikuti manasik, lebih tahan menghadapi kondisi lapangan, dan lebih kuat menjaga ritme ibadah dibanding sebagian jamaah yang terlalu terbiasa dengan kenyamanan fasilitas.

Mengapa?

Karena kehidupan keras ternyata melatih sabar.
Kesederhanaan ternyata melahirkan syukur.
Dan perjuangan panjang ternyata membuat manusia lebih dekat kepada Allah.

Sawah Jumaria menjadi universitas kesabarannya.
Cangkul menjadi pena takdirnya.
Lumpur menjadi madrasah keikhlasannya.

Betapa kecilnya kita di hadapan Allah.

Hari ini banyak manusia merasa hebat karena jumlah pengikutnya. Padahal bisa jadi di langit namanya bahkan tidak dikenal. Sebaliknya, ada orang-orang kecil di bumi yang tidak dikenal manusia, tetapi disebut para malaikat dengan penuh kemuliaan.

Kisah Jumaria seperti petir yang menyambar kesadaran kita:
bahwa jalan menuju Allah tidak selalu dibuka dengan kemewahan, tetapi sering kali dibuka melalui air mata perjuangan yang panjang.

Dan lihatlah bagaimana Allah bekerja.

Perempuan tua dari desa sederhana itu akhirnya viral internasional. Kisahnya menyebar lintas negara. Namanya disebut-sebut media. Ia menjadi simbol haji dunia.

Padahal mungkin selama ini ia hanya berharap satu:
“Ya Allah, panggil saya ke rumah-Mu sebelum saya mati.”

Itulah kuasa Allah.

Dia mampu mengangkat seorang petani menjadi ikon dunia hanya dengan ketulusan.
Dia mampu memuliakan orang kecil tanpa perlu tepuk tangan manusia.
Dan Dia mampu memperlihatkan kepada dunia bahwa kemuliaan sejati bukan terletak pada harta, melainkan pada hati yang istiqamah berjalan menuju-Nya.

Maka jika hari ini hidup terasa berat, jangan buru-buru putus asa.
Bisa jadi Allah sedang menyiapkan kemuliaan yang tidak pernah kita bayangkan.

Sebab di mata langit, manusia tidak diukur dari seberapa terkenal dirinya di bumi, tetapi seberapa sungguh ia mengetuk pintu Allah dengan sabar dan iman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *