Catatan Risdiana Wiryatni *)
Semua orang di belahan bumi manapun, memiliki waktu yang sama. Sama-sama memiliki waktu yang sama, 24 jam dalam sehari. Tidak ada yang memiliki durasi waktu yang lebih panjang dari yang lain.
Namun, sebagian orang justru menghabiskan waktunya dengan menunda hal-hal yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.
Ketika kesempatan itu berlalu, penyesalan pun datang. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur. Yang bisa dilakukan hanyalah melanjutkan hidup dan memperbaiki diri secara perlahan.
Hidup bukan hanya sekadar untuk mengejar dan mendapatkan sesuatu di dunia ini, tapi lebih tentang bagaimana memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya untuk bekal akhirat yang abadi.
Dalam Islam, waktu adalah modal utama kehidupan, amanah yang sangat berharga, dan hakikat umur manusia yang terus berkurang. Waktu dipandang sebagai makhluk yang bergerak maju, tidak dapat diulang, dan akan dimintai pertanggungjawaban. Allah SWT bahkan bersumpah atas nama waktu (Ashr, Fajr, Dhuha, Malam) dalam Al-Qur’an untuk menekankan pentingnya menghargai masa.
Waktu adalah umur. Setiap detiknya mendekatkan manusia pada ajal dan menjauhkan dari dunia.
Allah bersumpah “Demi Masa” untuk menegaskan bahwa manusia berada dalam kerugian, kecuali yang beriman, beramal saleh, dan saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Sebagaimana ungkapan Imam Syafi’i, waktu harus dikelola dengan bijak (ditebas untuk kebaikan), karena jika tidak, ia akan “menebas” (menyia-nyiakan) manusia.
Rasulullah SAW mengingatkan bahwa banyak manusia tertipu (menyia-nyiakan) kesehatan dan waktu luang. Menunda amal kebajikan adalah tanda tertipu, karena waktu yang lalu tidak akan pernah kembali.
Waktu harus dihabiskan untuk ibadah, mencari nafkah halal, dan perbuatan bermanfaat. Mengelola waktu dalam Islam berarti mendisiplinkan diri untuk beramal shaleh, mengingat kematian, dan tidak membuang waktu untuk hal yang sia-sia.
Waktu adalah aset berharga yang diberikan Allah kepada manusia. Dalam setiap detiknya, waktu memberikan peluang untuk belajar, berkembang, dan mencapai tujuan. Kehidupan ini adalah perjalanan singkat di dunia, dan bagaimana kita memanfaatkan waktu sangat mempengaruhi kualitas hidup kita. Dalam perspektif Al-Quran, waktu dianggap sebagai anugerah Allah yang harus dihargai dan dimanfaatkan dengan bijak.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa manusia dalam keadaan merugi, kecuali bagi mereka yang beriman dan beramal saleh. Iman dan amal saleh dianggap sebagai paket yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, momen pergantian waktu harus dijadikan panggilan untuk merefleksikan kehidupan dan mengarahkannya ke arah yang lebih baik, dengan harapan mendapatkan keridhaan Allah dan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Dalam Islam, waktu bukanlah bergulirnya tiap detik ke menit, menit ke jam, dan jam ke hari. Konsep waktu dalam Islam adalah soal pemaknaan atau kualitatif. Banyak dijumpai ayat-ayat dalam al-quran yang membicarakan waktu dan bilangannya. Jika diperhatikan dalam ayat-ayat itu, bisa kita temukan bahwasannya Allah kerap beberapa kali menyindir hamba-Nya dengan kisah-kisah yang sulit dinalar rentang waktu kejadiannya yang kemudian menuntut kita untuk berpikir.
Waktu yang dikelola secara baik, tentu dapat membuahkan kebahagiaan. Sebaliknya, waktu yang tidak terkontrol menyebabkan ketiadaan aktivitas positif. Ibarat kata, waktu terbuang percuma.
Allah Subhanahu wa ta’ala menyediakan siang dan malam supaya manusia bisa menyelami hikmah kehidupan. Bentangan waktu yang terbilang panjang setiap harinya mengantarkan manusia untuk berbuat banyak hal dalam kehidupan. Sayangnya, tidak setiap manusia menyadarinya.
Sungguh, berkat mengingat pentingnya waktu dapat mengangkat derajat ketakwaan seorang hamba. Waktu adalah kehidupan. Waktu adalah kesempatan yang diberikan Tuhan untuk makhluk-Nya.
Ketika seseorang kehabisan waktu, maka bolehlah disebut ‘hidupnya sudah berakhir’. Manusia tidak bisa mengukur kapan kehidupannya akan berakhir. Sebab Allah satu-satunya yang berkuasa menentukan.
Mari kita manfaatkan waktu sebagai amanah Allah dengan sebaik-baiknya. Waktu yang sudah berlalu, tidak akan mungkin akan kembali lagi.
Mari kita berbenah diri, mumpung masih ada waktu.
*) CEO Kinerja Group








