Opini  

Dari Timur Tengah ke Meja Makan: Saat Harga Plastik Mengguncang Beras dan Minyak Goreng

foto ilustrasi istimewa

Oleh Achmad Nur Hidayat, Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta

Konflik Jauh, Tekanan Dekat

Apa hubungan gejolak Timur Tengah dengan harga beras dan minyak goreng di Indonesia? Pertanyaan ini penting karena banyak orang masih mengira konflik geopolitik hanya berdampak pada pasar minyak dunia. Padahal, kenyataannya jauh lebih dekat.

Guncangan di Timur Tengah dapat menjalar ke biaya produksi, pengemasan, distribusi, hingga harga kebutuhan pokok yang dibayar masyarakat setiap hari.

Kenaikan harga nafta hingga 901,9 dolar AS per ton harus dibaca sebagai sinyal serius.

Nafta bukan sekadar komoditas energi, melainkan bahan baku penting bagi industri petrokimia yang menghasilkan plastik kemasan. Dari sinilah persoalan mulai membesar. Plastik kemasan dipakai hampir di semua lini, mulai dari makanan olahan, minyak goreng, hingga beras.

Ketika harga nafta naik, biaya plastik ikut naik. Ketika plastik naik, ongkos usaha dan distribusi pun terdorong naik.

Masalah utamanya adalah Indonesia masih sangat rentan terhadap efek rambatan seperti ini.

Dalam ekonomi modern, gejolak global tidak datang sendirian. Ia bekerja seperti deretan domino. Satu keping jatuh di kawasan konflik, keping berikutnya tumbang di sektor energi, lalu petrokimia, logistik, dan akhirnya pangan.

UMKM dan Industri Pengemasan dalam Tekanan

Bagi UMKM, kenaikan harga nafta bukan persoalan jauh di pasar global. Ini adalah biaya riil yang langsung terasa di lapangan.

Banyak pelaku usaha kecil sangat bergantung pada kemasan plastik untuk menjaga mutu barang, memperpanjang daya simpan, sekaligus menarik minat konsumen. Ketika harga kemasan naik, mereka kehilangan ruang gerak.

Usaha besar mungkin masih dapat menyerap kenaikan biaya melalui efisiensi atau kontrak jangka panjang. Namun UMKM sering kali tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual, mengurangi ukuran produk, atau menekan kualitas. Semua pilihan itu sama sama berat.

Inilah sebabnya lonjakan harga nafta dapat menjadi tekanan operasional yang serius bagi pelaku usaha kecil dan industri pengemasan nasional.

Analogi paling sederhana adalah ini. Jika ekonomi adalah tubuh, maka energi adalah darah dan kemasan adalah kulit yang melindungi barang sampai ke tangan konsumen.

Ketika darah terganggu, perlindungan ikut melemah. Produk menjadi lebih mahal untuk diproduksi dan lebih mahal pula untuk diedarkan.

Dari Plastik Kemasan ke Harga Beras

Kenaikan harga plastik kemasan juga punya kaitan langsung dengan distribusi beras.

Banyak orang membayangkan harga beras hanya ditentukan oleh panen dan stok. Padahal, beras yang sampai ke pasar juga bergantung pada biaya karung, kantong kemasan, repacking, penyimpanan, dan pengangkutan. Jika biaya kemasan meningkat, maka ongkos distribusi ikut terdorong.

Di sinilah hubungan dengan lonjakan harga beras di 83 kabupaten atau kota menjadi relevan.

Ketika wilayah tertentu memiliki distribusi yang rapuh, setiap tambahan biaya pada rantai pasok akan mudah diteruskan ke harga akhir.

Jadi, kenaikan harga beras di daerah tidak selalu berarti stok nasional kurang. Bisa jadi stok tersedia, tetapi biaya untuk menyalurkannya semakin mahal.

Ibarat air di bendungan, stok beras nasional boleh saja besar.

Namun jika salurannya sempit, bocor, dan mahal, air itu tidak akan mengalir lancar ke rumah rumah. Begitu pula beras.

Persoalannya bukan hanya ada atau tidak ada barang, tetapi seberapa efisien barang itu sampai ke konsumen.

Karena itu, korelasi antara naiknya harga plastik kemasan dan mahalnya beras harus dibaca sebagai korelasi biaya distribusi.

Ini bukan satu satunya penyebab, tetapi jelas menjadi faktor penting yang memperberat harga, terutama di wilayah yang struktur pasarnya lemah.

Gelombang Lanjutan pada Minyak Goreng dan CPO

Efek domino berikutnya terlihat pada minyak goreng premium dan CPO.

Ketika geopolitik memanas, pasar energi dan komoditas cenderung bergerak naik.

Harga CPO terdorong, dan pada akhirnya harga minyak goreng ikut merasakan tekanannya. Situasi ini berbahaya karena minyak goreng adalah kebutuhan harian masyarakat, sama pentingnya dengan beras.

Masalahnya menjadi lebih rumit karena tekanan harga tidak hanya datang dari sisi bahan baku, tetapi juga dari sisi distribusi dan pengemasan.

Artinya, rumah tangga menghadapi beban ganda. Harga barang naik di hulu, lalu biaya menyalurkannya ke pasar juga ikut meningkat di hilir.

Di titik inilah gejolak Timur Tengah menunjukkan daya rusaknya. Ia bukan hanya mengganggu sektor energi, tetapi memukul daya beli masyarakat melalui jalur yang sangat sehari hari. Rakyat mungkin tidak mengikuti pergerakan harga nafta atau CPO, tetapi mereka langsung merasakan mahalnya belanja dapur.

Menilai Langkah Pemerintah pada Minyakita

Langkah pemerintah memperkuat pasokan DMO Minyakita minimal 35 persen melalui Bulog dan ID Food patut diapresiasi.

Secara gagasan, kebijakan ini tepat karena negara harus hadir ketika pasar tidak sepenuhnya mampu menjaga keterjangkauan.

Penyaluran melalui lembaga negara bisa memotong rantai distribusi yang terlalu panjang dan memperkecil ruang spekulasi.

Namun efektivitas kebijakan tidak cukup diukur dari niat baik. Ukurannya ada pada pelaksanaan.

Bila target pasokan tidak terpenuhi, maka kebijakan bagus hanya akan berhenti sebagai desain di atas kertas.

Oleh Karena itu, penguatan DMO Minyakita harus diiringi pengawasan ketat, kepatuhan produsen, dan distribusi yang benar benar mencapai pasar eceran.

Artinya, kebijakan ini sudah berada di jalur yang benar, tetapi masih membutuhkan disiplin implementasi. Negara tidak cukup hanya mengumumkan target.

Negara harus memastikan barang tersedia, harga terkendali, dan distribusi berjalan sampai ke tangan masyarakat.

Saatnya Memperkuat Rantai Pasok Nasional

Pelajaran terpenting dari situasi ini adalah perlunya ketahanan rantai pasok nasional.

Indonesia tidak bisa terus menerus bersikap reaktif setiap kali dunia berguncang. Kita perlu memperkuat fondasi, mulai dari diversifikasi bahan baku industri pengemasan, efisiensi logistik pangan, hingga penguatan distribusi barang kebutuhan pokok.

Jawabannya jelas. Lonjakan harga nafta menekan biaya operasional UMKM dan industri pengemasan. Kenaikan harga plastik kemasan ikut memperberat distribusi dan dapat mendorong harga beras naik di daerah rentan.

Efeknya lalu menjalar ke minyak goreng premium dan CPO. Dalam situasi seperti ini, pemerintah memang perlu hadir, tetapi kehadiran itu harus efektif, cepat, dan terukur.

Gejolak Timur Tengah memberi kita satu pelajaran penting. Ketahanan ekonomi tidak hanya dibangun di sawah atau pasar, tetapi juga di rantai pasok yang efisien, tangguh, dan terlindungi dari guncangan global.

Jika rantai itu rapuh, maka yang paling dulu merasakan dampaknya adalah dapur rakyat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *