Foto:
Kondisi Aceh Tamiang usai dilanda banjir bandang dan longsor.
STRATEGINEWS.id, Medan — Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatra yakni Aceh, Sumatra Utara (Sumut) dan Sumatra Barat (Sumbar) mengakibatkan ribuan warga terdampak.
Tidak hanya itu. Ratusan jalan dan puluhan jembatan rusak yang membuat proses pendistribusian bantuan terkendala dan para pengungsi mulai terpapar penyakit.
CNNIndonesia.com telah merangkum sejumlah informasi terbaru bencana di Sumatra, sebagai berikut:
Pengungsi Mulai Terserang Penyakit Kulit dan ISPA
Sekretaris Dinkes Sumut, Hamid Rijal Lubis, mengatakan, para pengungsi di beberapa kabupaten kota yang terdampak bencana mulai terpapar penyakit kulit dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dengan rincian sebanyak 6.433 kasus penyakit kulit dan 5.151 kasus ISPA.
Sebelumnya, ribuan korban banjir dan longsor di Sumut masih mengungsi di posko pengungsian.
“Hingga Minggu, 7 Desember 2025 pukul 13.00 WIB menunjukkan penyakit kulit dan ISPA menjadi penyakit tertinggi di wilayah terdampak,” ujar Hamid, Senin (8/12/2025).
Hamid menilai, jika tidak dilakukan intervensi cepat, penyakit ini berpotensi berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB). Dia mengatakan, kondisi ini dipengaruhi oleh paparan air kotor dan sanitasi lingkungan yang menurun.
“Kondisi ini dipengaruhi oleh paparan air kotor, sanitasi lingkungan yang menurun, serta kepadatan dan kelembapan di lokasi pengungsian,” katanya.
Tercatat 1.065 kasus diare, 755 kasus Influenza Like Illness (ILI), 7 kasus demam berdarah dengue (DBD) serta 534 kasus suspek demam tifoid. Dinkes Sumut juga menerima laporan 2 kasus campak, masing-masing dari Kabupaten Deliserdang dan Tapanuli Tengah.
Ada 1.219 Izin Konsesi di Aceh, Sumut dan Sumbar
Kepala Kampanye Global untuk Hutan Indonesia Greenpeace, Kiki Taufik, mengatakan, ada 1.219 izin, mulai dari izin tambang, sawit, hingga perkebunan kayu yang dibebankan kepada Aceh, Sumut, dan Sumbar.
“Dari tiga provinsi itu, itu ada sekitar 1.219 izin dibebankan ke tiga wilayah itu, dan itu berbagai izin ya, mulai dari tambang, kemudian sawit, kemudian kebun kayu gitu,” ujar Kiki Taufik kepada CNNIndonesia TV, Senin (8/12/2025).
Taufik menjelaskan, ketika ditelusuri lebih jauh, sejumlah konsesi yang ternyata berada di daerah aliran sungai (DAS) tertentu yang terdampak di tiga provinsi dan penempatan konsesi tersebut berada di wilayah hulu maupun hilir yang tidak semestinya. Menurutnya, ada banyak pihak di pemerintah yang terlibat dalam pemberian izin ini.
“Nah, kalau kita lihat lebih dalam lagi, itu kita masuk ke DAS-DAS tertentu gitu, terutama DAS yang terdampak di tiga provinsi ini, kita bisa lihat bagaimana penempatan konsesi-konsesi itu ada di wilayah hulu, wilayah hilir yang tidak semestinya,” katanya.
Kabar Jasad Korban Banjir dalam Mobil
Tersiar kabar penemuan jasad yang disebut berada dalam mobil terbengkalai pascabencana banjir akhir November 2025. Kapolres Aceh Tamiang AKBP Muliadi membantah kabar tersebut. Menurutnya, usai dilakukan penyisiran tidak ditemukan adanya mayat dalam mobil.
“Setelah kami sisir dan cek sepanjang jalan hingga SPBU Tanah Terban, tidak ada mayat dalam mobil,” ujar Muliadi kepada wartawan, Senin (8/12/2025).
Muliadi mengaku turun langsung menyisir dan memeriksa sejumlah mobil yang terbengkalai akibat banjir di sepanjang jalur utama hingga SPBU Tanah Terban, Aceh Tamiang.
Anggota DPR Sindir Donasi Banjir
Anggota Komisi I DPR RI dan Politikus Fraksi Partai Gerindra, Endipat Wijaya, menjadi perbincangan karena menyinggung pihak yang datang sekali ke wilayah bencana Sumatra tetapi merasa yang paling bekerja.
Endipat membandingkan informasi bantuan pemerintah dengan donasi Rp 10 miliar warga untuk korban banjir longsor Sumatra. Dia mengklaim pemerintah telah memberikan bantuan secara maksimal di wilayah terdampak bencana.
“Orang yang cuma datang sekali seolah-olah paling bekerja di Aceh, padahal negara sudah hadir dari awal. Ada orang baru datang, baru bikin satu posko ngomong pemerintah enggak ada. Padahal pemerintah sudah bikin ratusan posko di sana,” ujar Endipat dalam Rapat Kerja Komisi I dengan Menkomdigi Meutya Hafid di DPR, Senayan, Jakarta, mengutip detikcom, Senin (8/12/2025).
Endipat mengharapkan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mampu menggencarkan informasi kerja pemerintah. Dia juga menyinggung bantuan ke korban bencana yang nilainya triliunan.
“Orang per orang cuma nyumbang Rp 10 miliar, negara sudah triliun-triliunan ke Aceh itu. Jadi yang kayak gitu mohon dijadikan perhatian sehingga ke depan tidak ada lagi informasi seolah-olah negara tidak hadir di mana-mana. Padahal negara sudah hadir sejak awal di dalam penanggulangan bencana,” katanya.
Endipat menyampaikan, kinerja pemerintah harus secara masif diinformasikan ke masyarakat dan berharap Komdigi lebih aktif dan sensitif agar informasi yang disampaikan bisa viral seperti konten di media sosial.
“Jadi kami mohon, Ibu, fokus nanti ke depan Komdigi ini mengerti dan tahu persis isu sensitif nasional membantu pemerintah memberitahukan dan mengamplifikasi informasi-informasi itu sehingga nggak kalah viral dibandingkan dengan teman-teman yang sekarang ini sok paling-paling di Aceh, di Sumatra dan lain-lain itu,” ujarnya.
Masa Tanggap Darurat Banjir Bandang Sumatra Barat Diperpanjang
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar memperpanjang masa tanggao darurat bencana banjir bandang di daerahnya selama 14 hari ke depan. Sebelumnya, masa tanggap darurat ditetapkan hingga Senin (8/12/2025) namun diperpanjang hingga 22 Desember mendatang.
“Benar, kami perpanjang 14 hari, sampai 22 Desember mendatang,” ujar Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy ketika dikonfirmasi, Senin (8/12/2025) malam.
Vasko mengatakan, perpanjangan masa tanggap darurat dilaksanakan karena proses pencarian korban masih berlangsung di lapangan.
“Pencarian masih berlangsung. Pendataan korban dan kerusakan juga masih berjalan. Karena itu masa tanggap darurat kami perpanjang agar penanganan bisa dilakukan lebih maksimal,” ujarnya.
Update BNPB 9 Desember 2025: 962 Korban Tewas
Dikutip dari laman resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban meninggal dunia dalam bencana banjir dan longsor Sumatra mencapai 962 nyawa hingga Selasa (9/12/2025) pukul 13.30 WIB.
Jumlah korban meninggal dunia paling banyak terdapat di Kabupaten Agam, Sumatra Barat dengan rincian sebanyak 180 nyawa diikuti dengan Aceh Utara 138 nyawa, Tapanuli Tengah 110 nyawa, Tapanuli Selatan 85 nyawa.
Selanjutnya, sebanyak 57 korban meninggal dunia di Aceh Tamiang, 53 nyawa di Kota Sibolga dan 48 nyawa di Aceh Timur, 37 nyawa di Bener Meriah dan 36 nyawa di Tapanuli Utara.
Sebanyak 291 korban masih dinyatakan hilang dan 5.000 korban terluka. Adapun, terdapat ratusan ribu warga yang masih mengungsi dengan jumlah terbanyak berada di Aceh yakni, 299,5 ribu jumlah korban mengungsi di Aceh Utara; 262,1 ribu pengungsi di Aceh Tamiang; dan 238,5 ribu di Aceh Timur, seperti dikutip dari cnnindonesia.com, Kamis (11/12/2025) pagi.
(KTS/rel)












