Oleh: Syahril Syam *)
Ketika seseorang telah menetapkan pilihan kepada calon kepala daerah tertentu, maka ia cenderung hanya membaca berita dari sumber yang pro kepada politisi tersebut. Ketika ada berita buruk tentang calon yang didukungnya, ia cenderung meremehkannya, menganggapnya sebagai propaganda, atau tidak mempercayainya samasekali. Namun, jika ada berita yang memuji politisi tersebut, ia langsung percaya tanpa banyak memeriksa lebih lanjut. Keadaan ini disebut sebagai bias konfirmasi, yaitu kecenderungan kita untuk lebih mempercayai atau mencari informasi yang mendukung pendapat atau keyakinan yang sudah kita miliki, dan mengabaikan atau meremehkan informasi yang berlawanan.
Bias ini seringkali membuat seseorang kurang objektif dan bisa memengaruhi caranya dalam mengambil keputusan atau memandang suatu masalah, terutama dalam situasi dimana seseorang sudah memiliki pendapat yang kuat atau terlibat dalam perdebatan yang emosional. Jonathan Haidt, seorang psikolog sosial, mengatakan bahwa manusia cenderung merasa benar terlebih dahulu, dan baru kemudian mencari alasan atau bukti untuk mendukung perasaan itu. Apa yang disampaikan Haidt diamini oleh penelitian neurosains, dimana otak seringkali dibajak untuk mencari alasan pembenaran (bukti argumentasi) atas suatu perasaan/keyakinan yang dirasa benar.
Haidt berpendapat bahwa dalam hal moral atau politik, seseorang cenderung membentuk keyakinannya berdasarkan perasaan atau intuisi – bukan dari analisis yang logis atau fakta yang obyektif. Setelah ia memiliki keyakinan ini, ia mulai mencari informasi yang mendukungnya. Itu artinya, seseorang seringkali sudah memiliki jawaban di kepalanya sebelum ia benar-benar mendengar seluruh ceritanya atau mempelajari faktanya. Ini disebut “reasoning after the fact” – artinya, menggunakan akal untuk membenarkan apa yang sudah diyakini secara emosional.
Dalam konteks politik, bias konfirmasi ini membuat perbedaan pandangan semakin tajam. Orang yang memiliki pandangan politik pada calon kepala daerah A dan orang yang mendukung calon kepala daerah B cenderung mengakses media yang berbeda, berbicara dengan orang yang setuju dengan mereka, dan hanya mendengarkan pandangan yang memperkuat posisi mereka. Hasilnya, dua kelompok ini semakin sulit untuk menemukan titik temu karena mereka hanya fokus pada informasi yang mendukung pandangan mereka masing-masing. Haidt menekankan bahwa bias konfirmasi membuat seseorang kurang terbuka terhadap pandangan orang lain, bahkan ketika fakta menunjukkan bahwa keyakinannya mungkin perlu ditinjau ulang.
Hal ini berkontribusi pada meningkatnya polarisasi di masyarakat, karena orang-orang menjadi lebih yakin pada keyakinan mereka sendiri dan lebih sulit untuk memahami atau berempati dengan pandangan lawan politiknya.
Buzzer politik kemudian memanfaatkan kecenderungan orang untuk mencari dan menerima informasi yang mendukung keyakinan mereka. Dengan mengarahkan informasi yang sesuai dengan pandangan audiens, buzzer memperkuat apa yang sudah diyakini, membuat audiens semakin yakin bahwa posisi politik mereka benar, dan lawan politiknya salah.
Buzzer politik seringkali memperkuat narasi-narasi yang sudah ada, seperti tuduhan bahwa pihak lawan politik tidak kompeten, korup, atau tidak peduli pada rakyat. Mereka menggunakan berita palsu, meme, atau informasi yang sudah dibumbui untuk memperkuat prasangka ini. Dengan begitu, orang-orang yang sudah percaya akan semakin yakin bahwa mereka benar dan tidak perlu meragukan pandangan mereka. Juga menyebarkan konten yang memicu emosi – seperti kemarahan, ketakutan, atau kebanggaan – karena ini membantu memperkuat bias konfirmasi. Dan ketika ada informasi yang bertentangan dengan narasi yang disebarkan oleh buzzer, mereka bisa mengabaikannya atau menyerangnya.
Jonathan Haidt menjelaskan bahwa menyadari bias konfirmasi ini bisa membantu kita menjadi lebih terbuka dan kritis dalam berpikir. Jika kita tahu bahwa intuisi atau emosi kita sering kali mendahului logika, kita bisa mencoba lebih baik untuk mencari fakta dari berbagai sudut pandang sebelum membuat keputusan atau mengambil kesimpulan. Ini penting dalam diskusi moral dan politik yang sehat. Dengan begitu, kita bisa lebih memahami mengapa orang lain mungkin berbeda pandangan dari kita, dan tidak langsung menolak atau menilai keyakinan mereka sebagai salah hanya karena berbeda dengan keyakinan kita.
@pakarpemberdayaandiri










