Waspada Peningkatan Kasus Covid-19 di Momen Liburan Natal dan Tahun Baru

Foto ilustrasi BBC

STRATEGINEWS.Id, Jakarta – Wabah Coronavirus Disease (Covid)-19 ternyata belum usai. Sejak November 2023, kasus Covid-19 dilaporkan kembali meningkat di sejumlah negara di ASEAN, termasuk Indonesia, dengan rata-rata kasus harian bertambah 35-40 kasus.

Sementara itu, pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit tercatat antara 60–131 orang per 6 Desember, dengan tingkat keterisian rumah sakit saat ini sebesar 0.06% dan angka kematian 0-3 kasus per hari.

Kenaikan kasus ini didominasi oleh subvarian Omicron XBB 1.5 yang juga menjadi penyebab gelombang infeksi Covid-19 di Eropa dan Amerika Serikat. Selain varian XBB, Indonesia juga sudah mendeteksi adanya subvarian EG2 dan EG5.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan RI sangat merekomendasikan masyarakat untuk melengkapi vaksinasi Covid-19 di tengah kasus akibat virus mutan yang kembali melonjak. Apalagi, perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2023/2024 membuat mobilitas masyarakat semakin tinggi. Baik perjalanan di dalam negeri maupun WNI yang mudik dari mancanegara.

Mencermati perkembangan Covid-19 belakangan ini, di mana terjadi peningkatan kasus di Singapura, Malaysia, Filipina, dan Indonesia, Kemenkes RI mengeluarkan surat edaran tentang Kewaspadaan Terhadap Lonjakan Covid-19 bagi Pelaku Perjalanan Luar Negeri.

Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI Siti Nadia Tarmizi mengatakan, dalam surat edaran tersebut pelaku perjalanan luar negeri mempunyai risiko tertular Covid-19 akibat interaksi dengan orang lain dari berbagai negara. Setiap orang perlu dipastikan mempunyai kekebalan yang cukup untuk melakukan perjalanan sehingga tidak tertular dan menjadi sumber penularan selama perjalanan dan ketika kembali ke tanah air.

Menurut  pengamat kebijakan publik Achmad Nur Hidayat, bahwa langkah waspada tidak hanya untuk masyarakat saja. Penyelenggara kesehatan seperti pemerintah maupun swasta pun harus lebih siap mengantisipasi situasi ke depan.

“Saya kira waspada itu tidak hanya buat rakyat tapi juga penyelenggara kesehatan. Kita tahu saat kita mengalami krisis kesehatan banyak ketidakberesan. Obat mahal, kurang kasur dan lainnya. Saya kira ini saat nya untuk kita evaluasi diri apakah penyelenggara kesehatan kita sudah memperbaiki ini semua?,” kata dia.

Achmad mengatakan, Covid-19 memang tidak perlu dikhawatirkan tetapi juga tidak boleh disepelekan. Lantas pemerintah harus mengimbau masyarakat dengan narasi-narasi positif.

Achmad juga khawatir bila peningkatan kasus ini kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Menurutnya hal itu akan sangat berbahaya bila berkaca pada pengalaman sebelumnya.

“Kalau ini ditumpangi tidak hanya karantina wilayah nanti juga anggaran melonjak, bisa diketok tanpa persetujuan legislatif dan ini berbahaya kalau mengulangi kayak yang lalu meskipun kita harus mengatakan yang punya narasi menakutkan itu adalah pemerintah,” ucapnya.

[nug/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *