BI Berusaha Perkuat Rupiah agar Utang Kelihatan Kecil

Foto ilustrasi

STRATEGINEWS.Id, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) dinilai berusaha memperkuat rupiah dengan tujuan untuk membuat utang Indonesia kelihatan kecil. Upaya itu dilakukan karena utang Indonesia lebih banyak dalam valuta asing (valas).

Direktur Narasi Institute, Achmad Nur Hidayat, yang diminta pendapatnya dari Jakarta, Selasa (26/12), mengatakan langkah itu sudah menjadi sebuah kebiasaan bank sentral menjelang akhir tahun melalui intervensi pasar dengan menyesuaikan capaian nilai tukar sesuai dengan target awal tahun.

Beberapa tahun terakhir, penyesuaian nilai tukar atau window dressing itu terus dilakukan BI. “Ini yang sangat kita sayangkan, BI di periode awal tahun sampai akhir Desember ini banyak melakukan strategi window dressing, tapi hasilnya tidak akan bisa bagus.

Kebiasaan window dressing itu malah tidak akan membantu RI karena fundamental ekonomi yang lemah. “Tujuan yang ingin dicapai adalah mempercantik neraca keuangan BI agar tidak jauh dari capaian Rencana Anggaran Tahunan Bank Indonesia (RATBI),” kata Achmad.

Maka dari itu, secara histori, nilai tukar sepanjang Desember ini terkesan stabil karena intervensi yang dilakukan untuk menyesuaikan target nilai tukar. Sayangnya, itu bukan sebuah kebijakan yang baik karena sebagai bank sentral dengan rezim managed floating exchange, pendekatan seperti itu membutuhkan intervensi yang menghabiskan devisa yang cukup besar, terutama saat trennya melemah.

BI semestinya bersama dengan pemerintah fokus memperbaiki fundamental ekonomi yang merupakan langkah yang lebih substansial dan berkelanjutan daripada sekadar melakukan window dressing atau tindakan memoles tampilan rupiah yang bersifat sementara.

Sebab itu, perlu reformasi struktural dalam berbagai sektor ekonomi, seperti energi, pertanian, dan pendidikan, untuk meningkatkan daya saing dan efisiensi. Selain itu juga meningkatkan produktivitas dan daya saing industri nasional.

“Kalau itu terjadi maka ekspor akan meningkat dan impor turun. Sebaliknya, kalau impornya terus naik sementara daya saing turun maka ekspor terus turun, dan kita berada dalam bahaya,” kata Achmad.

Utang Membengkak

Diminta pada kesempatan terpisah, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Esther Sri Astuti, mengatakan utang Indonesia sudah sekitar 39 persen dari Poduk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Utang itu akan membengkak jika nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami depresiasi. “Oleh karena itu, pemerintah harus memperbanyak porsi utang dari domestik sekarang untuk meminimalkan risiko volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dollar AS,” tegas Esther.

Dia juga menekankan pentingnya pemerintah memperkuat fundamental ekonomi nasional dengan meningkatkan penerimaan devisa negara, dengan membawa valuta asing (valas) masuk ke Indonesia.

Hal itu bisa dalam bentuk investasi asing, penerimaan dari ekspor dan penerimaan dari jasa seperti pariwisata karena ada wisatawan asing.

Sementara itu, ekonom Celios, Nailul Huda, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia terdiri dari kebijakan fiskal dan moneter. Dalam kebijakan fiskal tentu pertama adalah pengelolaan APBN yang optimal, baik dari segi pendapatan maupun belanja negara.

Dari sisi pendapatan, penerimaan negara baik pajak maupun Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) harus digenjot. Sedangkan dari sisi belanja, belanja pemerintah harus menjadi stimulan terhadap perekonomian. Sementara dari sisi fiskal, pengelolaan utang harus prudent dan dengan tujuan yang pasti bukan untuk menguatkan pertahanan.

Jadi, utang yang dikelola harus menimbulkan multiplier effect bagi ekonomi dengan mengalokasinnya ke sektor produktif bukan konsumtif.

Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mengatakan fundamental ekonomi Indonesia sangat rapuh karena ekspor Indonesia didominasi sektor komoditas ekstraksi yang sifatnya fluktuatif.

Kalau struktur industri tersebut tidak diperbaiki, ekonomi Indonesia jangka menengah panjang akan terpuruk. Indonesia harus segera membangun industri manufaktur agar pembangunan ekonomi nasional menjadi lebih stabil dan tidak terganggu oleh fluktuasi harga komoditas.

[nur/red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *