JAKARTA, STRATEGINEWS.id – Pergantian tahun Hijriah menjadi momentum penting bagi umat Muslim untuk melakukan muhasabah (evaluasi diri) dan meneladani nilai-nilai hijrah Rasulullah SAW dalam memperkuat kepedulian sosial.
Hal itu disampaikan Wakil Ketua 2 DPRD Provinsi Sulawesi Tengah, H. Syarifudin Hafid melalui keterangan, Sabtu [13/6/2026] pagi.
Disampaikan Syarifudin Hafid, hijrah tidak hanya berarti pindah tempat secara fisik. Dalam kehidupan modern, hijrah dapat dimaknai sebagai perubahan menuju keadaan yang lebih baik.
“Menjadi momentum untuk mengevaluasi diri, untuk berhijrah menjadi lebih baik. Berhijrah dari kemalasan menjadi lebih produktif, berhijrah dari kebiasaan buruk, menuju akhlak yang lebih mulia, berhijrah dari kelalaian menuju kesadaran spiritual. Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam konteks berhijrah, sebagaimana keteladanan Rasulllah SAW,” kata Syarifudin.
Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Morowali ini mengatakan, di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang sangat cepat, nilai-nilai hijrah sangat relevan untuk diterapkan, diantaranya menggunakan teknologi untuk kebaikan, memperdalam ilmu agama, menyebarkan konten positif, menghindari penyebaran hoaks, fitnah, dan hal-hal lain yang dilarang dalam Islam.
“ Semangat hijrah mengajarkan pentingnya membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan, kerja keras, dan kontribusi positif bagi masyarakat. Karena itu, Tahun Baru Hijriah dapat dijadikan momentum untuk meningkatkan kualitas diri dalam berbagai aspek kehidupan,” ujarnya.
Lebih Produktif
Momentum hijrah adalah titik balik spiritual untuk bertransformasi dari kebiasaan pasif menjadi lebih produktif.
Menurut Syarifudin, Ini bukan sekadar perubahan penampilan, melainkan pembaharuan niat dan manajemen waktu agar setiap aktivitas bernilai ibadah serta membawa dampak positif bagi diri sendiri maupun lingkungan.
“ Momentum hijrah adalah transformasi dari kondisi pasif menjadi lebih produktif dan bermanfaat. Dalam konteks membangun daerah, semangat ini diwujudkan dengan meninggalkan kebiasaan lama seperti apatisme dan individualism menuju kontribusi nyata, inovasi ekonomi, dan solidaritas sosial untuk memajukan lingkungan sekitar,” tuturnya.
Mengakhiri pernyataannya, Syarifudin menegaskan, momentum hijrah bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) bermakna transformasi dari budaya kerja konvensional menuju birokrasi yang lebih adaptif, melayani, dan berakhlak. Ini adalah titik balik untuk memperbarui niat, meningkatkan kedisiplinan, serta mengoptimalkan pemanfaatan teknologi digital demi pelayanan publik yang prima.
“ Dengan semangat hijrah, mari kita satukan hati, perkuat kebersamaan dan nilai-nilai persatuan untuk membawa Sulteng ke arah yang lebih baik, Masyarakat yang sejahtera dan bermartabat,” pungkasnya.
[jgd/red]












