Opini  

Paradoks Pembangunan: Kereta Cepat dan Tol Hebat, Jalan Desa Penuh Lubang !

Achmad Nur Hidayat

Oleh Achmad Nur Hidayat MPP *)

Tim Nasional (Timnas) AMIN, Anies Baswedan dan Muhaimin Iskandar atau Cak Imin mengungkapkan, Indonesia penuh dengan ketimpangan atau paradoks.

Mereka menilai, pembangunan infrastruktur yang masif tidak diiringi dengan peningkatan kemakmuran masyarakat, terutama di daerah pedesaan.

Indonesia adalah negara yang beragam dan penuh dengan paradoks. Meskipun ada kereta api cepat dan jalan tol yang hebat, namun masih banyak jalan di desa-desa yang penuh lubang dan becek ketika hujan. Negara maritim, negara pertanian, tetapi sebagian besar penduduknya nelayan dan petani miskin.”

Ketimpangan ekonomi antara masyarakat perkotaan dan pedesaan

Ketimpangan ekonomi antara masyarakat perkotaan dan pedesaan dapat dilihat dari berbagai indikator, seperti pendapatan per kapita, akses terhadap Pendidikan, kesehatan, dan kepemilikan aset.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, pendapatan per kapita masyarakat perkotaan sebesar Rp7,8 juta per tahun, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat pedesaan sebesar Rp4,6 juta per tahun.

Hal ini berarti, pendapatan masyarakat perkotaan rata-rata dua kali lebih besar daripada pendapatan masyarakat pedesaan.

Selain itu, akses masyarakat pedesaan terhadap pendidikan dan kesehatan juga masih lebih rendah daripada masyarakat perkotaan.

Berdasarkan data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2022, angka putus sekolah di daerah pedesaan masih lebih tinggi daripada daerah perkotaan.

Sementara itu, berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) tahun 2022, angka kematian ibu dan anak di daerah pedesaan juga masih lebih tinggi daripada daerah perkotaan.

Komitmen Indonesia dalam perubahan iklim

Indonesia telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon sebesar 29% dengan usaha sendiri dan 41% dengan dukungan internasional pada tahun 2030.

Namun, komitmen tersebut belum diiringi dengan aksi nyata, seperti pengembangan energi terbarukan dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.

Berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tahun 2022, bauran energi Indonesia masih didominasi oleh energi fosil, yaitu batu bara sebesar 60,5%, minyak bumi sebesar 27,7%, dan gas bumi sebesar 11,8%. Sementara itu, bauran energi terbarukan masih relatif rendah, yaitu sebesar 0,03%.

Mimpi Indonesia emas yang dicita-citakan oleh AMIN

Mimpi Indonesia emas yang dicita-citakan oleh AMIN adalah Indonesia yang sejahtera dan berkeadilan, di mana semua masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.

Untuk mewujudkan mimpi tersebut, perlu dilakukan upaya-upaya untuk mengatasi ketimpangan pembangunan di Indonesia.

Pertama, meningkatkan anggaran pembangunan infrastruktur di daerah pedesaan. Anggaran yang lebih besar diperlukan untuk membangun infrastruktur yang berkualitas, seperti jalan, jembatan, dan fasilitas pendidikan dan kesehatan.

Kedua, mengembangkan program-program untuk meningkatkan akses masyarakat pedesaan terhadap pendidikan, kesehatan, dan lapangan kerja. Program-program tersebut dapat berupa beasiswa, subsidi kesehatan, dan pelatihan keterampilan.

Ketiga, mendorong pengembangan energi terbarukan dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil. Pengembangan energi terbarukan akan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil dan berkontribusi pada penurunan emisi karbon.

Upaya-upaya tersebut perlu dilakukan secara terintegrasi dan berkelanjutan. Dengan demikian, ketimpangan pembangunan di Indonesia dapat diatasi dan mimpi Indonesia emas dapat terwujud.

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam dan manusia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk meningkatkan kemakmuran masyarakat. Salah satu penyebabnya adalah ketimpangan pembangunan yang masih terjadi di Indonesia.

*) Ekonom & Anggota Dewan Pakar Timnas AMIN

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *