Strateginews.Id, Donggala – Sudah 5 Tahun berlalu pasca bencana gempa bumi dan tsunami menghantam Donggala, akan tetapi hingga saat ini masih menyisakan berbagai persoalan di Tengah Masyarakat. Terlebih persoalan infrastruktur dan sarana Pendidikan yang masih banyak terabaikan dan terlihat compang-camping.
Seperti misalnya, gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4 Balaesang yang terletak di Desa Lombonga, Kecamatan Balaesang, Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah hingga saat ini berantakan dan belum di perbaiki oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Donggala.
Sebanyak 6 rombongan belajar di sekolah tersebut terpaksa belajar dan menempati bangunan sementara dengan kondisi sangat tidak layak melaksanakan proses belajar-mengajar secara optimal. Meja, kursi dan dinding ruang kelas darurat nampak terlihat compang-camping alias tak berdinding lagi sudah mirip kandang ternak.
Padahal di ketahui sekolah itu merupakan salah satu sekolah penggerak di Donggala, ini di ungkapkan Kepala Sekolah SMP Negeri 4 Balaesang, Edi Kuswandi saat di temui Starteginews.Id di sekolah itu. Menurutnya, sejak alami kerusakan akibat bencana alam 5 tahun lalu sekolah ini tidak pernah di perbaiki.
“Ada 6 rombongan belajar yang ada di sekolah kami ini, dan hanya ada 2 rombel yang menempati ruang belajar permanen. Dan 4 rombel menempati ruang belajar sementara yang kondisinya dapat di lihat sangat darurat seperti ini,” Ujarnya.
Dengan kondisi seperti ini papar Edi menegaskan, sangat tidak efektif dalam melaksanakan proses pembelajaran. Apalagi tuntutan di kurikulum Merdeka Belajar ini percepatan pembelajaran dengan metode digitalisasi di sekolah sangat di perlukan, sementara sarana pendukung berupa listrik di ruang belajar darurat ini justru tidak ada.
“Sehingga guru dan peserta didik dalam hal melaksanakan pembelajaran berbasis IT tersebut alami kendala, karena tidak adanya listrik sangat tidak memungkinkan untuk di laksanakan. Akhirnya berimplikasi pada proses pembelajaran pada anak-anak didik kami yang tidak optimal,” Terang Edi.
Bangunan ini lanjutnya, merupakan ruang belajar sementara yang di bangun pasca bencana lalu, akan tetapi karena hingga saat ini belum ada ruangan belajar yang bisa di gunakan untuk proses pembelajaran, terpaksa di gunakan saja meskipun kondisinya sangat-sangat tidak layak.
“Kami sudah berupaya melalui pengajuan proposal ke Pemerintah agar sekolah kami ini, bisa segera di perbaiki, di rehab dan di bangun kembali ruang belajar baru yang permanen dan layak. Berharap kepada Pemerintah, sebagai sekolah penggerak segera diberikan perhatian serius. Kami ingin sekolah layak dan nyaman demi kemajuan Pendidikan di Indonesia khususnya di Donggala,” Pungkas Edi Kuswandi.
Tim Liputan Strateginews.Id












