Strateginews.Id, Donggala – Bila memasuki halaman SMP Negeri 2 di Desa Batusuya, Kecamatan Sindue Tombusabora, Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah, tampak seperti sekolah layaknya. Namun begitu masuk ke area dalam pasti heran dan kaget melihat seisi komplek sekolah tersebut.
Pemandangan kantor sekolah yang apik dari depan sungguh sangat kontra dengan kondisi ruang belajar di area dalam komplek sekolah itu. Ibarat sisa-sisa bangunan di wilayah yang di landa perang, hancur dan tidak berbentuk bangunan utuh. Dimana kondisinya berantakan dan puing-puing bangunan berserakan dimana-mana.

Meskipun dengan kondisi ruang belajar sebagian dinding sudah roboh, plafon rontok, lantai pecah dan tak ada jendela maupun pintunya, para peserta didik tetap terlihat semangat menempati dan menggunakan ruangan rusak berat itu demi mengikuti proses pembelajaran di sekolah tersebut.
Ironisnya, selain menempati gedung atau ruang belajar dalam kondisi rusak berat, para murid-murid yang duduk di kelas 7, 8 dan 9 ini yang terdiri dari 9 rombongan belajar ini, gunakan meja dan kursi reot alias sudah tidak layak. Terlihat jelas, meja dan kursi yang di gunakan kayunya kropos akibat rayapan dan lapuk.
Menurut Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Sindue Tombusabora, Irsan mengatakan, kondisi ruang kelas itu hancur tepatnya di akibatkan bencana gempa 5 tahun silam. Jadi sejak alami kerusakan di tahun 2018 silam sampai sekarang belum pernah di perbaiki.
“Jadi anak-anak belajar menempati ruang belajar darurat itupun kapasitasnya terbatas, sementara di sini ada 10 rombongan belajar. 2 rombel menempati ruang perputakaan dan 2 rombel menempati ruang belajar darurat. Sisanya yang 6 rombel terpaksa menempati bangunan yang rusak itu,” Bilang Irsan.
Ini membuat tidak kondusif dan sangat berbahaya bagi keselamatan peserta didik yang belajar menggunakan atau menempati ruang kelas yang rusak tersebut. Lebih lanjut di katakannya, dengan kondisi bangunan sebagian dinding temboknya menganga dan retak-retak malahan ada yang rontok itu sangat berbahaya.
Selain itu, ungkap Irsan, karena meja dan kursi banyak yang lapuk, terpaksa anak-anak melantai dalam ruang kelas. ini sangat memprihatinkan dan sudah berlangsung selama 5 tahun. Belum lagi sarana dan prasarana pendukung proses pembelajaran juga sangat terbatas atau minim.
“Saya baru di tempatkan di sekolah ini sekitar 2 bulan, begitu masuk pertama kali ke sini, kaget melihat kondisi bangunan sekolah sangat tidak layak di gunakan sebagai ruang belajar. kondisinya hancur dan berbahaya bagi keselamatan guru dan anak-anak sekolah,” Terang Irsan.
Irsan menegaskan, perlu ekstra kerja keras dalam mengelola kegiatan pembelajaran di sekolah ini. Karena selain menjadi Kepala Sekolah, tugas mengajar dan mengawasi keselamatan anak-anak di dalam ruang belajar yang tidak layak itu juga harus di kerjakan penuh serius. Karena kita ketahui wilayah Donggala, apalagi daerah di sini rawan gempa sewaktu-waktu.
“Kami berharap, Pemerintah segera membangun kembali ini sekolah seperti sedia kala sebagaimana bangunan layak untuk di gunakan untuk proses pembelajaran yang kondusif, nyaman dan aman bagi seluruh peserta didik,” Pungkasnya.
Tim Liputan Strateginews.Id












