TELUK BINTUNI, STRATEGINEWS.id – Kabupaten Teluk Bintuni akan menjadi pusat perhatian umat Katolik dan masyarakat Papua Barat dalam pelaksanaan Pesta Paduan Suara Gerejani Katolik atau Pesparani IV Tingkat Provinsi Papua Barat yang dijadwalkan berlangsung pada 6–10 Juli 2026. Di balik panggung pujian dan kompetisi iman itu, kehadiran dewan juri menjadi salah satu unsur penting untuk menjamin mutu lomba, objektivitas penilaian, serta arah pembinaan peserta dari setiap kontingen daerah.
Panitia Pesparani IV Papua Barat telah menyiapkan sejumlah dewan juri yang akan terlibat dalam berbagai kategori lomba. Untuk kategori Cerdas Cermat Rohani Anak/Remaja, dewan juri yang dijadwalkan bertugas adalah Pater Goklian Lumban Gaol, OFM, Pater Marthinus Selitubun, Pr., M.Hum., Lic.Iur.Can., dan Dra. Berlinda Renwarin, M.Th.
Pater Goklian Lumban Gaol, OFM dikenal sebagai imam Fransiskan yang memiliki pengalaman dalam pelayanan komunikasi sosial dan pembinaan umat. Dalam pemberitaan Papua Bangkit, Pastor Goklian Lumban Gaol, OFM pernah disebut sebagai Ketua Komisi Komunikasi Sosial Keuskupan Jayapura ketika menjelaskan pelaksanaan kegiatan Hari Komunikasi Sosial Sedunia bersama KWI pada tahun 2020. Pengalaman pastoral dan komunikasinya menjadi modal penting dalam menilai kemampuan peserta, khususnya dalam memahami iman, Kitab Suci, Gereja, dan cara mengungkapkan pengetahuan rohani secara benar dan komunikatif.
Pater Marthinus Selitubun, Pr., M.Hum., Lic.Iur.Can. merupakan akademisi dan rohaniwan yang memiliki latar keahlian dalam Hukum Gereja dan Teologi. Data dosen UNIKA Fajar Timur Papua mencatat Marthinus Selitubun sebagai dosen tetap dengan jabatan akademik Asisten Ahli dan bidang keahlian Hukum Gereja serta Teologi. Latar belakang tersebut memberi bobot akademik dan gerejawi dalam penilaian Cerdas Cermat Rohani, terutama menyangkut pemahaman doktrin, tata hidup menggereja, dan pengetahuan dasar iman Katolik.
Dra. Berlinda Renwarin, M.Th. tercatat sebagai figur yang aktif dalam pembinaan iman dan kegiatan rohani Katolik, khususnya dalam bidang pemahaman ibadat, Kitab Suci, dan pembinaan umat. Dalam kegiatan Pesparani Papua Tengah, Berlinda Renwarin juga disebut sebagai salah satu dewan juri pada kategori Cerdas Cermat Rohani. Kehadirannya dalam Pesparani IV Papua Barat diharapkan memberi perhatian khusus pada aspek pembinaan anak dan remaja agar lomba tidak hanya menjadi ajang adu pengetahuan, tetapi juga ruang bertumbuh dalam iman.
Untuk kategori Paduan Suara Anak, Paduan Suara Dewasa Wanita, Paduan Suara Orang Muda Katolik, Paduan Suara Dewasa Campuran, serta kategori Gregorian Anak/Remaja dan Gregorian Dewasa, dewan juri yang dijadwalkan terlibat adalah Romo Harry Hermanus Singkoh, MSC, Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., dan Budi Yohanes Susanto.
Romo Harry Hermanus Singkoh, MSC dikenal luas sebagai imam, akademisi, dan praktisi musik liturgi. Dalam pemberitaan Pesparani Katolik Nasional I di Ambon, Harry Hermanus Singkoh, MSC, SS, Lic.Mus. disebut sebagai pastor dan dosen musik gereja di Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng serta konsultan musik untuk Musica Sacra Chorus Tomohon. Sumber lain juga menyebut Pastor Harry Singkoh, MSC sebagai Direktur Musica Sacra Keuskupan Manado. Dengan pengalaman tersebut, ia memiliki otoritas musikal dan liturgis yang kuat dalam menilai paduan suara, mazmur, gregorian, dan kesesuaian nyanyian dengan jiwa liturgi Gereja.
Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn. merupakan Guru Besar pada Program Studi Pendidikan Seni Drama, Tari, dan Musik, Universitas Negeri Manado. Profil Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Manado mencatat Perry Rumengan sebagai guru besar, sementara data SINTA Kemdiktisaintek mencatat aktivitas akademiknya dalam bidang musik, termasuk penelitian musik tradisi, kolintang, musik bambu, serta pelatihan musik gereja LP3KD Sulawesi Utara. Pengalaman akademik dan keseniannya menjadikan Prof. Perry sebagai figur penting dalam menjaga standar musikalitas, interpretasi, teknik vokal, harmoni, dan kualitas artistik penampilan peserta.
Budi Yohanes Susanto dikenal sebagai komponis, arranger, conductor, dan choral clinician. Sumber Choir Community Indonesia mencatat Budi sebagai musisi paduan suara yang pernah menempuh pendidikan choir conducting di Korea National University of Arts, sedangkan sumber lain menyebutnya sebagai komponis, pengaba, dan pembina paduan suara. Budi juga pernah terlibat sebagai juri dalam lomba cipta lagu rohani etnik Papua Barat bersama Romo Harry Hermanus Singkoh, MSC. Kehadirannya memperkuat aspek teknis penilaian, terutama dalam aransemen, warna suara, ekspresi musikal, penguasaan panggung, dan kualitas interpretasi paduan suara.
Untuk kategori Mazmur Anak, dewan juri yang dijadwalkan bertugas adalah Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., Budi Yohanes Susanto, dan Veronika Silvia Rettob. Kehadiran juri pada kategori ini diharapkan mampu memberi perhatian khusus pada kejernihan vokal, ketepatan nada, artikulasi teks Kitab Suci, penghayatan mazmur, serta kemampuan anak-anak membawakan nyanyian liturgi dengan sederhana, indah, dan penuh iman.
Sementara itu, untuk kategori Mazmur OMK Gregorian dan Mazmur Dewasa Gregorian, dewan juri yang akan terlibat adalah Romo Harry Hermanus Singkoh, MSC, Prof. Dr. Perry Rumengan, M.Sn., dan Budi Yohanes Susanto. Kategori ini menjadi salah satu ruang penting untuk menjaga warisan nyanyian Gereja, terutama dalam penguasaan karakter gregorian, ketepatan frase musikal, kedalaman spiritual, serta kesesuaian antara teks, melodi, dan suasana doa.
Untuk kategori Tutur Kitab Suci Anak, panitia menyiapkan Romo Terry Thomas Panomban, Johana Velisita J. Lindawati, dan Johannes Jarot Hadianto sebagai dewan juri. Johannes Jarot Hadianto dikenal sebagai staf Lembaga Biblika Indonesia, Jakarta, dan narasumber dalam pelatihan penulisan naskah Tutur Kitab Suci. Dalam pemberitaan SMA Xaverius 1 Palembang, Jarot disebut menyelesaikan studi S-1 di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara dan studi S-2 di Loyola School of Theology, Ateneo de Manila University, Filipina. Laman Loyola School of Theology juga mencatat Johannes Jarot Hadianto sebagai lulusan Master of Arts in Theological Studies dengan spesialisasi Biblical Theology. Pengalaman ini memperkuat kategori Tutur Kitab Suci sebagai ruang pembinaan anak untuk mencintai, memahami, dan menyampaikan pesan Kitab Suci dengan bahasa yang hidup.
Ketua Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Provinsi Papua Barat, Prof. Roberth K.R. Hammar, menyampaikan bahwa komposisi dewan juri Pesparani IV Papua Barat dipilih dengan mempertimbangkan kompetensi, pengalaman, integritas, serta rekam jejak pembinaan di bidang masing-masing.
“Dewan juri yang hadir bukan hanya bertugas memberi nilai. Mereka adalah bagian dari proses pembinaan iman, seni, karakter, dan budaya liturgi Gereja Katolik. Karena itu, kami berharap seluruh proses penilaian berjalan objektif, netral, transparan, dan berkeadilan,” ujar Prof. Hammar.
Ia menegaskan bahwa netralitas menjadi prinsip utama dalam seluruh mata lomba. Menurutnya, setiap peserta datang membawa nama baik daerah, doa keluarga, dukungan umat, serta proses latihan yang panjang. Karena itu, setiap penampilan harus dinilai berdasarkan standar lomba, bukan berdasarkan kedekatan pribadi, asal daerah, atau kepentingan tertentu.
“Pesparani adalah panggung iman. Di dalamnya ada kompetisi, tetapi kompetisi itu harus tetap berdiri di atas kejujuran, sportivitas, persaudaraan, dan tanggung jawab moral. Dewan juri harus menjadi penjaga martabat lomba, agar setiap peserta merasa dihargai dan setiap hasil dapat diterima sebagai bagian dari proses pembinaan,” katanya.
Prof. Hammar juga menekankan bahwa hasil lomba bukanlah akhir dari perjalanan Pesparani. Bagi LP3KD Papua Barat, setiap catatan juri, masukan teknis, dan evaluasi penampilan harus menjadi bahan pembinaan berkelanjutan di tingkat paroki, kevikepan, kabupaten, dan provinsi.
“Kita ingin Pesparani IV di Teluk Bintuni meninggalkan warisan pembinaan. Anak-anak semakin mencintai Kitab Suci, OMK semakin berani melayani, umat semakin mencintai musik liturgi, dan seluruh kontingen pulang membawa semangat persaudaraan. Itulah kemenangan yang paling bermakna,” ujar Prof. Hammar.
Dengan kehadiran dewan juri yang memiliki latar belakang rohani, akademik, musikal, dan biblis, Pesparani IV Papua Barat di Tanah Sisar Matiti diharapkan tidak hanya melahirkan para juara, tetapi juga menumbuhkan generasi Katolik Papua Barat yang semakin beriman, berbudaya, disiplin, dan siap melayani Gereja serta masyarakat.
[jo/rel]












