Red devil invasi Danau Toba, bagaimana nasib ikan lokal?

STRATEGINEWS.id, Medan — Red devil bukan ikan asli Danau Toba. Namun, ikan invasif ini telah berkembang pesat di Danu Toba. Di beberapa daerah, jenis ini disebut ikan oskar, setan merah, lohan merah, dan nonong. Di Balige, Kabupaten Toba, Sumatra Utara, sebagian warga menyebutnya ikan tayo-tayo.

Red devil berasal dari Amerika Tengah, yaitu di aliran Sungai San Juan, Kosta Rika, serta beberapa danau di Nikaragua, seperti Danau Nikaragua dan Danau Managua.
Ikan ini memiliki variasi warna, mulai oranye, merah, merah kehitaman, hingga oranye kehitaman.

Semula, red devil dikenal sebagai ikan hias. Di akuarium, warna terang dan sifat agresif membuatnya menarik. Namun di danau, sifat yang sama berubah menjadi ancaman.

Ledakan populasi red devil berkaitan dengan memburuknya kualitas ekosistem Danau Toba. Ketika perairan subur karena banyak bahan organik tetapi kadar oksigen rendah, ikan asli kesulitan berkembang. Red devil justru lebih mampu beradaptasi.

“Di sini red devil tidak kami konsumsi,” kata Br Malau (47), istri nelayan di Danau Toba, sambil menimbang ikan tersebut untuk dijual ke penampung.

Pagi itu, suaminya, Oloan Simanullang, baru menarik jaring ke atas solu, perahu kayu tradisional Batak. Targetnya ikan mas, nilai, mujair, dan pora-pora, tetapi yang didapat red devil.

Harganya murah, 5-10 ribu rupiah per kilogram. Warga tidak terbiasa mengonsumsi, kadang ada yang beli untuk pakan ternak.

“Dulu, dapat pora-pora hingga belasan kilogram. Sekarang, tiga kilogram sehari sudah bagus,” kata perempuan asal Desa Simangulampe, Baktiraja, Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, itu, Senin (15/6/2026).

Galumbang Rajagukguk (53), nelayan Desa Binangaringit, Muara, Tapanuli Utara, menyatakan hal senada. Lebih tiga puluh tahun, dia menjaring ikan di Danau Toba yang kini didominasi red devil.

“Kadang dilepas, atau saya berikan ke tetangga yang punya ternak,” ujarnya, Senin (15/6/2026).

Ikan Akuarium Berkembang di Danau

Charles PH Simanjuntak, iktiologis dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB University, menjelaskan, ikan ini belum memiliki nama baku dalam bahasa Indonesia. Untuk red devil di Danau Toba, tim IPB University mengidentifikasinya sebagai Amphilophus citrinellus, meski ada beberapa peneliti menyebut jenis Amphilophus labiatus. Merujuk FishBase, Amphilophus citrinellus merupakan nama umumnya.

Ikan ini memiliki variasi warna, mulai oranye, merah, merah kehitaman, hingga oranye kehitaman. Semula, red devil dikenal sebagai ikan hias. Di akuarium, warna terang dan sifat agresif membuatnya menarik. Namun di danau, sifat yang sama berubah menjadi ancaman.

“Hasil penelitian saya waktu di Balige, ikan ini masuk ke perairan umum berkaitan dengan budidaya dan perdagangan ikan, murni karena bisnis. Ia dikira sejenis ikan nila berwarna merah,” terangnya, Selasa (23/6/2026).

Peraih gelar PhD bidang Ilmu Bioresumber Kelautan dari Graduate School of Kuroshio Science, Kochi University, Jepang, itu mengatakan, meski sekilas mirip nila merah namun kualitasnya beda. Dagingnya sedikit, tulangnya keras, dan rasanya hambar.

“Karena kurang diminati, sebagian orang sempat ingin memusnahkannya. Tetapi, karena kasihan, akhirnya dilepaskan ke perairan.”

Red devil cepat berkembang dan adaptif karena tidak memilih makanan. Ia dapat memakan ikan kecil, larva, plankton, telur ikan, hingga organisme dasar perairan. Ia juga menjaga telur dan anaknya.

Red devil bersifat agresif dan teritorial. Biasanya, hidup di dasar perairan, terutama pinggiran danau berpasir. Ia membuat lubang dan menjaga wilayahnya. Jika ada ikan lain masuk, akan diusir.

“Red devil mengusir habitat ikan asli demi melindungi sarangnya. Telur ikan nila dan jenis lainnya dimakan karena sifatnya omnivora.”

Red devil tidak hanya tersebar di Danau Toba, tetapi juga ada di Waduk Jatiluhur, Cirata, Saguling, Darma, Wadaslintang, Kedung Ombo, Sermo, Danau Batur, dan Danau Sentani.

Namun, di Danau Toba dampaknya terasa langsung pada kehidupan ikan lokal dan pada tangkapan nelayan.

“Jenis ini sama dengan yang berada di Danau Batur, Bali.”

Ikan Lokal Semakin Terdesak

Charles bilang, di Danau Toba, perubahan komposisi ikan mulai terasa ketika pora-pora menurun, pada 2003-2013. Pada 2016, berdasarkan laporan masyarakat, red devil dan ikan kaca-kaca mulai muncul. Bagi nelayan, perubahan itu terlihat dari jaring. Ikan yang biasa tertangkap mulai berkurang.

Penelitian IPB University melalui program Dosen Pulang Kampung pada April-Oktober 2024, menunjukkan red devil sudah menyebar luas di Danau Toba. Dalam survei di sejumlah lokasi, red devil menjadi ikan paling melimpah dan dominan.

Satu jenis yang makin sulit ditemukan adalah ikan batak (Neolissochilus thienemanni). Bagi masyarakat Batak, spesies ini bukan sekadar dikonsumsi, tapi hadir dalam adat, cerita orang tua, dan ingatan tentang Danau Toba yang dulu lebih sehat.

Red devil bukan satu-satunya penyebab ikan lokal menurun. Namun, ikan asing invasif ini menambah tekanan baru. Ia berebut ruang hidup, makanan, dan mengganggu telur serta anakan ikan lain.

“Satu cara paling mungkin dilakukan adalah memanfaatkannya.”

Red devil dapat dijual sebagai pakan atau dikonsumsi, meskipun kurang diminati. Penangkapan untuk dimanfaatkan bisa menekan populasinya. Namun, Charles tidak menyarankan pengendalian dengan melepas predator baru ke Danau Toba.

Predator yang dilepas tidak selalu memangsa targetnya tapi juga memakan ikan lain sehingga mengganggu rantai makanan, atau menjadi invasif baru.

“Bila mitigasi dengan menyebarkan predator untuk memangsa red devil, justru bisa menambah masalah baru. Semua harus ada kajian,” terangnya.

Danau Toba Semakin Tertekan

Jonson Lumbangaol, Guru Besar Perikanan dan Kelautan IPB University, mengatakan, ledakan populasi red devil berkaitan dengan memburuknya kualitas ekosistem Danau Toba. Ketika perairan subur karena banyak bahan organik tetapi kadar oksigen rendah, ikan asli kesulitan berkembang. Red devil justru lebih mampu beradaptasi.

Beberapa sumber tekanan terhadap danau berupa penggunaan pestisida, limbah organik, limbah domestik, serta aktivitas hotel dan rumah makan. Banyak usaha di sekitar danau, diduga belum memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) memadai.

“Persoalan ikan invasif tidak bisa dilepaskan dari kerusakan ekosistem lebih luas. Rusaknya hutan-hutan di sekitar Danau Toba mempengaruhi aliran dan kualitas air, serta habitat ikan asli. Perubahan lahan dan debit air dapat mempercepat degradasi habitat ikan endemik,” jelasnya, Selasa (23/6/2026).

Pemerintah sudah melihat ikan asing invasif sebagai masalah. Dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 19 Tahun 2020, red devil termasuk jenis ikan yang dilarang untuk dimasukkan, dibudidayakan, diedarkan, dan dilepasliarkan ke perairan.

Pada 2022, Kementerian Kelautan dan Perikanan menyatakan ikan asing invasif sebagai penyebab turunnya jumlah ikan asli di Danau Toba. Red devil disebut meresahkan karena agresif, mudah menyesuaikan diri, cepat berkembang biak, merusak jaring, dan bernilai jual rendah.

Menurut Jonson, aturan saja tidak cukup. Pemerintah daerah harus bertanggung jawab menjaga ekosistem Danau Toba. Perlindungan ikan asli tidak cukup hanya dengan menangkap ikan invasif. Pemerintah perlu memulihkan habitat, mengendalikan limbah, menjaga hutan sekitar danau, dan memperbaiki tata kelola pembangunan.

“Hingga sekarang belum tersedia alat ukur perubahan debit air di seluruh kawasan Danau Toba.”

Tanpa data dasar seperti debit air, pH, dan kualitas air, pemerintah akan sulit mengambil kebijakan yang tepat. Danau Toba bukan hanya ruang hidup manusia tetapi juga rumah bagi ikan-ikan lokal yang kian terdesak.

“Red devil bukan sekadar ikan asing di Danau Toba. Ia penanda bahwa ekosistem danau butuh perhatian serius,” tandasnya, seperti dikutip dari mongabay.co.id, Kamis (2/7/2026) malam.

(KTS/rel)

Sumber: mongabay.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *