Saya paham deposito, tapi mengapa saya justru pilih beli tanah di kampung?

Foto ilustrasi

STRATEGINEWS.id, Medan — Banyak orang menganggap investasi itu rumit. Istilahnya membingungkan, risikonya menakutkan, dan kasus investasi bodong yang berseliweran di berita membuat orang makin ragu untuk memulai. Ada yang akhirnya memilih menabung saja. Ada pula yang tergoda iming-iming keuntungan tinggi, lalu justru terjebak masalah.

Saya berada di posisi yang sedikit berbeda. Saya bukan tidak paham instrumen seperti deposito, ORI, atau produk keuangan lain. Secara konsep, saya mengerti. Tetapi dalam praktiknya, saya tidak merasa perlu menjadikan itu sebagai jalan utama untuk menambah kekayaan.

Bagi saya, investasi tidak selalu soal angka yang bertambah di rekening. Ada dimensi lain yang tidak kalah penting: keterhubungan.

Saya bekerja dan hidup di kota. Aktivitas sehari-hari berjalan seperti kebanyakan orang kota: bekerja, bermasyarakat, menjalankan tanggung jawab keluarga. Namun, saya masih memiliki kampung halaman yang jaraknya sekitar dua hingga tiga jam perjalanan. Di sanalah sebagian besar aset saya berada — tanah, ternak sapi, kambing, domba — yang dikelola dengan sistem bagi hasil bersama penggarap.

Secara hitungan ekonomi modern, mungkin pilihan ini dianggap merepotkan. Tidak likuid, perlu pengawasan, dan hasilnya tidak selalu pasti. Tetapi bagi saya, investasi di kampung bukan sekadar soal keuntungan finansial.

Di sana ada alasan untuk pulang.

Tanah dan ternak membuat saya tetap memiliki hubungan nyata dengan akar kehidupan saya. Saya punya alasan untuk kembali, bertemu kerabat, menjaga silaturahmi, dan melihat langsung orang-orang yang ikut merawat aset tersebut. Hubungan itu tidak bisa digantikan oleh bunga deposito berapa pun besarnya.

Penggarap yang bekerja sama dengan saya bukan orang asing. Mereka mengenal keluarga saya sejak zaman kakek-nenek. Ada sejarah hubungan yang panjang. Ada rasa saling menjaga. Mereka senang karena mendapatkan penghasilan, saya pun senang karena aset tetap produktif. Situasi saling menguntungkan seperti ini menciptakan ketenangan batin yang sulit diukur dengan angka.

Di kota, sistem kepercayaan sering bergantung pada dokumen: kontrak, materai, perjanjian hukum. Itu penting, tentu saja. Namun dalam praktiknya, banyak juga kasus ketika semua dokumen lengkap, tetapi masalah tetap terjadi. Proyek perumahan fiktif, investasi bodong, penipuan berkedok bisnis — korban tidak selalu orang awam, bahkan banyak yang berpendidikan tinggi.

Sebaliknya, di kampung, kepercayaan sering dibangun melalui hubungan sosial jangka panjang. Reputasi keluarga menjadi jaminan moral. Kontrol sosial berjalan alami. Bukan berarti tidak ada risiko, tetapi kedekatan emosional membuat orang lebih berhati-hati menjaga amanah.

Selain hubungan sosial, ada manfaat lain yang saya rasakan. Pulang ke kampung bukan sekadar kunjungan, tetapi juga proses pemulihan. Melihat sawah, kebun, ternak, udara yang lebih bersih, makanan yang lebih segar — semuanya memberi efek healing yang nyata. Banyak orang kota harus mengeluarkan biaya besar untuk liburan demi mendapatkan ketenangan. Saya justru mendapatkannya dari tempat asal saya sendiri.

Dalam konteks finansial, tanah juga memiliki karakter yang saya sukai: nilainya cenderung naik dalam jangka panjang, relatif stabil, dan merupakan aset nyata. Ternak pun demikian. Ia makhluk hidup yang bisa berkembang. Ada kepuasan tersendiri melihat sesuatu bertumbuh secara nyata.

Kemudian yang paling penting, investasi di kampung memberi rasa cukup.

Saya tidak merasa harus mengejar kekayaan tanpa batas. Kebutuhan hidup sehari-hari sudah tercukupi dari penghasilan rutin. Maka ketika ada dana lebih, saya lebih tertarik memperkuat aset yang sekaligus menjaga hubungan sosial dan identitas diri.

Jika suatu saat memiliki dana besar, misalnya satu miliar rupiah, kemungkinan besar saya tetap akan memilih menambah tanah di kampung daripada menempatkannya seluruhnya di deposito. Bukan karena deposito buruk, tetapi karena tujuan saya berbeda. Saya tidak hanya mencari return finansial, tetapi juga return kehidupan: ketenangan, keterhubungan, dan kebermanfaatan bagi orang lain.

Pada akhirnya, setiap orang memiliki definisi investasi masing-masing. Ada yang nyaman dengan instrumen keuangan modern, ada yang memilih aset riil, ada pula yang menggabungkan keduanya. Tidak ada yang sepenuhnya benar atau salah, selama sesuai dengan kebutuhan dan pemahaman diri.

Bagi saya pribadi, investasi terbaik bukan sekadar yang membuat nominal bertambah, tetapi yang membuat hidup terasa utuh.

Mungkin investasi saya tidak terlihat modern. Namun saya memiliki sesuatu yang tidak semua orang punya: kampung yang masih menerima saya pulang, orang-orang yang masih mempercayai saya, dan akar kehidupan yang tetap terjaga.

Selanjutnya itu sudah lebih dari cukup, seperti dikutip dari kompasiana.com/Agus Hendrawan, Sabtu (4/4/2026) malam.

(KTS/rel)

artikel ini telah tayang di kompasiana.com/Agus Hendrawan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *