Menyumfoka Menyambut Harapan, 17 Mahasiswa KKN UNCRI Siap Mengabdi dan Bertumbuh Bersama Warga

Selama satu bulan, mahasiswa Universitas Caritas Indonesia akan berkolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat Kampung Menyumfoka melalui program pelestarian pesisir, pendidikan, tata kelola kampung, serta pengembangan ekonomi masyarakat.

MANOKWARI — Minggu, 26 Juli 2026, bukan sekadar hari penerimaan bagi 17 mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Caritas Indonesia. Di Kampung Menyumfoka, Distrik Manokwari Utara, Kabupaten Manokwari, hari itu menjadi awal dari perjumpaan antara ilmu pengetahuan, harapan masyarakat, dan semangat pengabdian.

Di hadapan pemerintah kampung, tokoh masyarakat, dan warga, mahasiswa KKN Universitas Caritas Indonesia—UNCRI—Angkatan III Kelompok IV secara resmi diterima untuk menjalankan pengabdian selama satu bulan, mulai 25 Juli hingga 25 Agustus 2026.

Mereka datang bukan hanya membawa rancangan kegiatan. Mereka membawa kesediaan untuk mendengar, belajar, bekerja, serta bertumbuh bersama masyarakat.

Mengusung tema “Menyumfoka Berdaya: Sinergi Pelestarian Pesisir, Peningkatan Pendidikan, dan Pertumbuhan Ekonomi,” kegiatan KKN tahun akademik 2026/2027 itu diarahkan untuk menghasilkan program yang bermanfaat, partisipatif, dan berkelanjutan.

Mahasiswa didampingi oleh dua Dosen Pendamping Lapangan, yakni Yohanes Ada Lebang, S.P., S.H., M.Si. dan Siria Silibun, S.H., M.H.

Sebanyak 17 mahasiswa yang berasal dari Fakultas Hukum serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka adalah Gestapu Mofu, Christin K. Marani, Joshin Sabathani Rumaropen, Aprida Mandacan, Jekson Mandacan, Frengki Towansiba, Jendris Kayeli, Angela Ulukyanan, Mirah Periana Indou, Adinda Putri Patricia, Nike Surya Bahrudin, Astrella Motuti, Eva Yunarti, Alfa Cicilia Pangemanan, Agusta Mandacan, Medi Jemi Nuham, dan Persli Nahuway.

Mewakili Kepala Kampung Menyumfoka, Obeth Mandacan menyampaikan terima kasih atas kehadiran mahasiswa KKN UNCRI. Ia berharap seluruh kegiatan yang telah dikomunikasikan dan dikoordinasikan dapat dilaksanakan bersama-sama dengan pemerintah kampung dan masyarakat.

Bagi pemerintah kampung, keberhasilan KKN bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dilaksanakan, tetapi dari kemampuan mahasiswa membangun komunikasi, kepercayaan, dan kerja sama dengan masyarakat.

“Semoga apa yang dilakukan di Kampung Menyumfoka dapat dikerjakan secara bersama-sama, dengan terus berkoordinasi dan berkomunikasi. Kami akan membantu berbagai hal yang dibutuhkan mahasiswa KKN UNCRI,” ujar Mandacan.

“Atas nama kepala kampung dan Pemerintah Kampung Menyumfoka, kami mengucapkan terima kasih karena sudah datang. Kami menerima mahasiswa KKN Universitas Caritas Indonesia untuk melaksanakan pengabdian di kampung ini,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menjadi tanda bahwa mahasiswa tidak berdiri sebagai orang luar. Selama satu bulan ke depan, mereka akan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat—menyusuri persoalan kampung, mengenali potensinya, dan mencari jalan penyelesaian bersama warga.

Ketua Kelompok IV, Gestapu Mofu, menyampaikan terima kasih atas penerimaan yang diberikan pemerintah dan masyarakat Kampung Menyumfoka.

Ia berharap mahasiswa dapat terus membangun sinergi dengan seluruh unsur kampung sehingga setiap program dapat berjalan sesuai rencana dan memberikan hasil yang nyata.

“Terima kasih kepada Bapak Kepala Kampung dan seluruh warga Kampung Menyumfoka yang telah menerima kami dengan baik. Kami berharap seluruh program dapat direncanakan dan dilaksanakan dengan lancar, tentunya dengan dukungan serta perhatian pemerintah dan masyarakat kampung,” kata Mofu.

Mewakili Dosen Pendamping Lapangan, Yohanes Ada Lebang menyampaikan apresiasi kepada kepala kampung beserta jajaran pemerintahannya, Badan Permusyawaratan Kampung atau Baperkam, serta seluruh warga yang telah meluangkan waktu menghadiri kegiatan penerimaan mahasiswa.

Menurut Lebang, kehadiran masyarakat merupakan bukti kepedulian bersama terhadap masa depan dan kemajuan Kampung Menyumfoka.

KKN, katanya, bukan sekadar kewajiban akademik yang harus diselesaikan mahasiswa. KKN merupakan ruang perjumpaan antara perguruan tinggi dan masyarakat. Di ruang itulah ilmu pengetahuan diuji: apakah hanya berhenti di ruang kuliah atau benar-benar mampu menjawab persoalan kehidupan.

“Berbagai program telah disiapkan, di antaranya sosialisasi tata kelola bagi aparat kampung dan Baperkam, pemasaran digital atau digital marketing untuk mempromosikan potensi kampung, serta gerakan satu rumah satu pohon yang didahului dengan pelatihan pembuatan komposter,” jelas Lebang.

Selain itu, mahasiswa akan melaksanakan sosialisasi mengenai pengembangan potensi pantai sebagai destinasi wisata serta membantu proses belajar mengajar di PAUD Wampasi.

Program-program tersebut diharapkan tidak hanya berlangsung selama mahasiswa berada di lokasi KKN. Pemerintah kampung dan masyarakat diharapkan dapat melanjutkannya sesuai kebutuhan dan potensi yang dimiliki Kampung Menyumfoka.

Salah satu agenda penting dalam KKN tersebut adalah memberikan perhatian terhadap kegiatan pelestarian penyu yang selama bertahun-tahun dilakukan secara mandiri oleh warga setempat.

Mahasiswa bersama pemerintah kampung akan mendorong apresiasi dan pengusulan Nataniel Mirino sebagai penerima penghargaan Kalpataru atas komitmennya dalam menjaga serta melestarikan penyu.

Selama tujuh tahun, Nataniel Mirino merawat kehidupan yang muncul dari pasir pantai. Dalam keterbatasan perhatian dan dukungan, ia terus menjaga telur-telur penyu hingga menetas menjadi tukik dan kembali menuju laut.

“Selama tujuh tahun saya melakukan pemeliharaan dan pelestarian penyu, tetapi perhatian pemerintah masih sangat terbatas. Semoga kehadiran mahasiswa KKN UNCRI dapat memberikan manfaat bagi masyarakat kampung, khususnya bagi kegiatan pelestarian yang saya lakukan,” ujar Mirino.

Kisah Mirino menjadi pengingat bahwa pelestarian lingkungan sering kali dimulai dari kerja sunyi seseorang. Tanpa panggung besar dan tanpa banyak perhatian, ia menjaga penyu karena percaya bahwa laut bukan hanya milik generasi hari ini.

Mahasiswa KKN juga akan melaksanakan sosialisasi mengenai tata kelola kampung yang aman dan tertib. Bersama warga, mereka akan mempersiapkan perayaan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Puncak perayaan tersebut direncanakan bersamaan dengan pelepasliaran sekitar 300 ekor tukik Penyu Lekang, yang memiliki nama ilmiah Lepidochelys olivacea.

Pelepasan ratusan tukik itu nantinya bukan hanya menjadi tontonan. Setiap tukik yang bergerak menuju laut membawa pesan tentang kehidupan, ketekunan, dan tanggung jawab manusia menjaga alam.

Kegiatan KKN di Kampung Menyumfoka akan berjalan selama satu bulan. Waktu itu memang singkat, tetapi dapat menjadi berarti apabila diisi dengan kerja yang jujur, komunikasi yang terbuka, dan keterlibatan masyarakat.

Mahasiswa akan belajar bahwa pembangunan kampung tidak cukup dilakukan dengan rancangan di atas kertas. Program harus lahir dari kebutuhan warga, dilaksanakan bersama warga, dan dapat diteruskan oleh warga setelah mahasiswa kembali ke kampus.

Sebaliknya, masyarakat juga diharapkan memperoleh manfaat dari pengetahuan, tenaga, kreativitas, serta semangat muda yang dibawa mahasiswa.

Di Kampung Menyumfoka, perjumpaan itu telah dimulai. Pemerintah kampung membuka pintu, masyarakat menawarkan persaudaraan, sementara mahasiswa datang membawa gagasan dan kemauan untuk bekerja.

Dalam satu bulan ke depan, mereka akan menanam pohon, mengolah sampah menjadi kompos, mendampingi anak-anak belajar, memperkenalkan pemasaran digital, mengangkat potensi wisata, memperkuat tata kelola kampung, serta menjaga tukik-tukik kecil agar menemukan jalan pulang menuju laut.

Pada akhirnya, KKN bukan hanya tentang apa yang ditinggalkan mahasiswa di kampung. KKN juga tentang apa yang kelak dibawa pulang mahasiswa: pengalaman hidup, kebijaksanaan masyarakat, serta kesadaran bahwa pengabdian yang sesungguhnya dimulai ketika ilmu pengetahuan hadir untuk memanusiakan manusia dan menjaga alam.

[yo/rel]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *