Opini  

Presiden Jangan Ragu Berantas Mafia, Penghianat, Perampok di NKRI Ini, Rakyat Bersamamu

Dr. Suriyanto Pd,SH.,MH.M.Kn

Catatan DR. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn *)

Gelombang dukungan rakyat menguat, Seruan lantang menggema dari Sabang sampai Merauke. Presiden jangan ragu lawan Mafia, penghianat, dan perampok kekayaan NKRI harus diberantas sampai ke akar-akarnya. Rakyat pasti berdiri di belakang Istana.

Sudah terlalu lama negeri ini disandera oleh, Mafia tanah, mafia hukum, mafia impor, mafia tambang, mafia migas. Mereka berpesta di atas penderitaan darah rakyat. Sementara harga beras naik, lapangan kerja sempit, dan anak muda kehilangan harapan.

Penghianat itu sangat nyata. Mereka yang menjual undang-undang, membocorkan rahasia negara, dan bersekongkol dengan asing untuk mengeruk sumber daya alam dan kekayaan Indonesia. Wajah mereka rapi, dasinya mahal, tapi hatinya busuk. Mereka hidup dari darah rakyat.

Perampoknya bukan lagi di hutan. Mereka duduk di kursi empuk. Merampok APBN lewat proyek fiktif. Merampok laut lewat kapal cantrang ilegal. Merampok gunung lewat izin tambang yang diobral. Hasilnya? Rakyat hanya dapat debu dan janji.

Presiden dipilih dengan darah dan air mata rakyat. Mandat itu suci. Mandat itu bukan untuk berkompromi dengan tikus-tikus berdasi. Mandat itu untuk menebas semua kebusukan yang sudah mengakar puluhan tahun, era kegagalan reformasi.

Keraguan adalah kemewahan yang tidak dimiliki bangsa ini lagi. Jika setiap detik Presiden ragu, satu hektare hutan habis. Setiap hari Presiden menunda, satu triliun uang rakyat menguap. Setiap bulan Presiden diam, satu generasi kehilangan masa depan.

Hukum sudah ada, KPK ada, Kejaksaan ada, Polri ada, UU Tipikor ada, UU TPPU ada. Yang belum ada hanya satu: keberanian tanpa tedeng aling-aling untuk menyeret semua nama besar ke pengadilan. Tanpa pandang bulu dan UU Perampasan asset segera di sahkan

Jangan takut guncangan politik. Guncangan sesaat lebih baik dari pada bangsa ini karam selamanya. Rakyat sudah muak melihat drama elit. Yang rakyat mau hanya satu: keadilan sesuai Pancasila. Dan keadilan itu wujudnya adalah mafia masuk penjara. Karena Penghianat tidak layak dinegosiasi.

Mereka sudah mengkhianati sumpah jabatan, mengkhianati Pancasila, mengkhianati 280 juta rakyat. Tempat mereka bukan di ruang rapat, tapi di ruang sidang, menghadap hakim dengan baju tahanan.

Berantas perampok SDA. Nikel kita dikuras, tapi rakyat Maluku Utara tetap miskin. Ikan kita dicuri, tapi nelayan Natuna tetap melarat. Batu bara kita diangkut tongkang ke luar negeri, tapi listrik di pedalaman masih byarpet. Ini perampokan terstruktur dan terorganisir.

Jangan kasih ruang untuk “orang kuat” yang di belakangnya ada mafia. Bongkar semua jangan ragu, Karena Jabatan dan Pangkat bukan tameng. Partai bukan benteng. Seragam bukan jaminan. Siapa pun yang lindungi mafia, dia bagian dari mafia. Yang harus sapu bersih.

Rakyat sudah tidak percaya omong kosong. Rakyat butuh bukti. Tangkap semua, tunjukkan ke publik. Sita asetnya, kembalikan ke negara. Miskinkan koruptor. Bikin efek jera yang nyata, bukan sekadar konferensi pers.

Ingat Sejarah, Pemimpin besar lahir dari keberanian melawan arus. Soekarno melawan penjajah. Soeharto tumbang karena KKN. Reformasi lahir karena rakyat muak. Hari ini, rakyat muak lagi. Dan rakyat menunggu Presiden menulis sejarah baru.

Jangan dengarkan bisikan para pembisik istana yang nyaman dengan status quo. Dengarkan jerit rakyat di pasar, di sawah, di pesisir. Mereka yang bayar pajak. Mereka yang antre minyak. Mereka yang jadi korban mafia setiap hari.Ini bukan soal pencitraan.

Ini soal menyelamatkan NKRI. Kalau mafia menang, negara kalah. Kalau penghianat dibiarkan, Merah Putih hanya jadi kain. Kalau perampok dipelihara, Indonesia tinggal nama di peta.

Maka perintahnya jelas: Presiden, jangan ragu. Ketuk palu. Perintahkan Kapolri, Jaksa Agung, Ketua KPK: sapu bersih. Rakyat tidak akan tinggal diam. Jika Presiden maju berperang lawan mafia, 260 juta rakyat pasti siap menjadi tamengnya. Rakyat bersamamu.

Momentum ini tidak akan datang dua kali. Saat ini seluruh mata rakyat tertuju ke Istana. Keberanian hari ini akan dikenang sejarah. Keraguan hari ini akan jadi kutukan esok. Pilihannya hanya dua: berantas atau dikenang sebagai bagian dari masalah.

*) Praktisi Hukum/Dosen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *