STRATEGINEWS.id, Medan — Kawasan Kesawan dikenal sebagai salah satu wilayah bersejarah di Kota Medan yang hingga kini masih menjadi ikon atau old town. Di balik keramaiannya saat ini, Kesawan menyimpan jejak panjang perkembangan ekonomi, sosial, hingga politik sejak masa kolonial Belanda.
“Kalau kita bicara asal-usulnya, ada yang menyebut Kesawan itu dari kata kesawahan, karena dulunya kawasan ini memang berupa lahan sawah. Seiring waktu dan perkembangan kota, penyebutan itu kemudian berubah menjadi Kesawan,” kata Dosen Sejarah Universitas Sumatra Utara (USU), Kiki Maulana Affandi, kepada pers, Rabu (29/4/2026).
Ia menuturkan, perkembangan Kesawan tidak bisa dilepaskan dari kehadiran perusahaan perkebunan tembakau besar milik Belanda, Deli Maatschappij, yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi di Medan pada abad ke-19.
“Ketika Deli Maatschappij membuka pusat aktivitasnya di Medan, kawasan Kesawan ikut berkembang menjadi pusat perdagangan dan permukiman. Banyak kelompok masyarakat datang dan menetap di sini, mulai dari Melayu, Karo, Arab, India, hingga Tionghoa,” ujarnya.
Memasuki era 1880-an, kawasan Kesawan mulai dipenuhi pertokoan, terutama milik etnis Tionghoa. Pertumbuhan industri perkebunan yang pesat turut mendorong kawasan ini berkembang menjadi pusat ekonomi yang maju di Kota Medan.
“Di Kesawan itu kemudian berdiri berbagai fasilitas penting, mulai dari gedung administrasi, pusat perdagangan, hingga fasilitas publik. Misalnya Gedung AVROS, kantor percetakan, Warenhuis yang dikenal sebagai supermarket pertama. Kemudian ada juga Pajak Ikan atau Vischmarkt, Pasar Hindu, Masjid Gang Bengkok, sampai restoran legendaris seperti Tip Top,” kata Kiki.
Tak hanya sebagai pusat ekonomi, Kesawan juga memiliki peran penting dalam dinamika sosial dan politik. Kawasan ini menjadi titik berkumpul berbagai aktivitas masyarakat, bahkan setelah Indonesia merdeka.
Sejumlah sumber sejarah mencatat bahwa Kesawan pernah menjadi pusat kegiatan sosial, budaya, hingga politik di Medan. Beberapa bangunan bersejarah seperti Tjong A Fie Mansion, rumah Bierbrouwerij, hingga Masjid Raya Medan menjadi bukti keberagaman dan perkembangan kawasan ini.
Bahkan, peristiwa penting seperti Konferensi Medan tahun 1947 juga berlangsung di kawasan ini, yang membahas persatuan Indonesia dan perjuangan melawan penjajahan.
Kini, Kesawan menjelma menjadi salah satu landmark Kota Medan yang tetap hidup. Setiap akhir pekan, kawasan ini ramai dikunjungi masyarakat yang menjadikannya sebagai ruang publik untuk bersantai sekaligus menikmati nuansa sejarah kota.
“Kesawan hari ini adalah contoh bagaimana ruang sejarah bisa tetap relevan. Ia bukan hanya menjadi simbol masa lalu tapi juga bagian dari kehidupan masyarakat kota saat ini,” tutup Kiki.
Dengan sejarah panjangnya, Kesawan tidak sekadar kawasan tua, melainkan saksi perjalanan Kota Medan dari wilayah persawahan menjadi pusat ekonomi dan peradaban yang terus berkembang hingga kini.
Jejak Bangunan Bersejarah di Kesawan:
*Masjid Gang Bengkok: Dibangun oleh Tjong A Fie sebagai bentuk penghormatan kepada Kesultanan Deli.
*Nederlandsch Handel Maatschappij (1888): Kini difungsikan sebagai kantor perbankan di kawasan inti kota.
*Kamp Lembah (1909): Bekas percetakan Sumatra Post, kini menjadi kantor Dinas Pariwisata Sumut.
*Witte Sociëteit (1879): Dulunya tempat elite perkebunan, kini dimanfaatkan sebagai gedung perbankan.
*Rumah Tjong A Fie: Ikon sejarah pengusaha Tionghoa di Medan.
*Restoran Tip Top: Tetap eksis sebagai restoran legendaris sejak era kolonial.
*London Sumatera: Gedung perkebunan pertama di Medan yang memiliki fasilitas lift.
Perkembangan Tahun ke Tahun Kawasan Kesawan:
*Pasca kebakaran: Dibangun ulang dengan material lebih kokoh seperti batu bata.
*1913-1937: Berkembang pesat sebagai pusat permukiman, perdagangan, dan hiburan.
*1938-1962: Bangunan modern mulai bermunculan.
*1963-1995: Menjadi kawasan perkantoran pemerintah dan swasta.
*1996-2004: Perubahan besar menjadi ruko bertingkat, karakter lama mulai memudar.
*2002-2003: Didorong menjadi pusat kuliner dengan hadirnya Kesawan Plaza (Kesawan Square?-red)
*2013: Jalan Kesawan berganti nama menjadi Jalan Ahmad Yani.
*Saat ini: Kembali ramai sebagai pusat bisnis dan aktivitas ekonomi di Kota Medan. Dipenuhi kafe, restoran, dan tempat nongkrong anak muda. Menjadi ruang publik favorit terutama saat akhir pekan, seperti dikutip dari detikSumut, Jumat (1/5/2026) malam.
(KTS/rel)
*Artikel ini ditulis oleh Nanda M Marbun, peserta maganghub Kemnaker di detikcom.












