STRATEGINEWS. Id. Landak Kalbar- Selama enam tahun terakhir, Markus, 52 tahun, warga Ngabang, harus bolak-balik ke Pontianak dan Sanggau untuk menjalani cuci darah. Hal serupa juga dialami Kornelis, 37 tahun, yang dalam kurun waktu yang sama rutin menempuh perjalanan ke luar daerah demi mendapatkan terapi yang tak bisa ditunda.
Kini, setelah layanan hemodialisa atau cuci darah untuk pasien BPJS Kesehatan mulai berjalan di RSUD Landak, keduanya menyambutnya dengan rasa syukur. Bagi pasien seperti mereka, kehadiran layanan ini bukan sekadar tambahan fasilitas rumah sakit, melainkan perubahan besar dalam hidup yang selama ini diatur oleh jadwal terapi dan jarak tempuh.
“Selama enam tahun saya harus bolak-balik ke Pontianak dan Sanggau untuk cuci darah. Itu tentu melelahkan, bukan hanya bagi saya, tapi juga keluarga yang mendampingi. Karena itu, kami sangat bersyukur sekarang layanan HD sudah ada di RSUD Landak dan bisa menggunakan BPJS. Kami juga berterima kasih kepada Ibu Bupati Landak yang sudah memperjuangkan hal ini sampai akhirnya pasien seperti kami bisa mendapat pelayanan lebih dekat,” kata Markus, Rabu (22/4/2026).
Kornelis menyampaikan hal senada. Selama ini, katanya, perjalanan ke Sanggau maupun Pontianak menjadi bagian rutin yang harus dijalani hanya untuk mendapat terapi cuci darah. Dengan mulainya layanan di RSUD Landak, beban itu setidaknya mulai berkurang.
“Sudah enam tahun saya menjalani cuci darah di Sanggau maupun Pontianak. Jadi ketika sekarang layanan HD di RSUD Landak mulai berjalan untuk pasien BPJS, saya merasa sangat terbantu. Setidaknya kami tidak selalu harus ke luar daerah untuk berobat rutin. Saya juga berterima kasih kepada Ibu Bupati Landak karena sudah memperjuangkan layanan ini sampai bisa dipakai oleh pasien BPJS di Landak,” ujar Kornelis.
Bupati Landak Karolin Margret Natasa menegaskan, kehadiran unit hemodialisa di RSUD Landak sejak awal memang didorong oleh kebutuhan nyata masyarakat. Menurut dia, layanan itu bukan dibangun tanpa dasar, melainkan menyesuaikan data pasien dan permintaan warga yang membutuhkan akses pelayanan lebih dekat.
“Unit HD ini bukan kitanya ngada-ngada, tapi memang sesuai dengan data kita mengenai jumlah pasien dan juga permintaan dari masyarakat,” kata Karolin, beberapa waktu lalu.
Karolin menilai rumah sakit daerah tidak semata-mata dituntut mengejar pendapatan, tetapi harus hadir untuk mendekatkan pelayanan dasar kepada masyarakat, terutama untuk pasien yang membutuhkan terapi rutin seperti hemodialisa.
“RSUD di daerah itu kan bukan hanya mengejar keuntungan, tapi memberikan pelayanan yang maksimal untuk masyarakat kita, memudahkan masyarakat, membuat pelayanan menjadi lebih dekat, sehingga bisa lebih murah bagi masyarakat,” ujarnya.
Direktur RSUD Landak dr Albertus Geovani mengatakan layanan cuci darah untuk peserta BPJS Kesehatan mulai berjalan pada pekan ini. Sebelumnya, izin pelayanan dialisis dari Kementerian Kesehatan telah lebih dulu keluar, lalu rumah sakit melengkapi tahapan administrasi dan kerja sama dengan BPJS Kesehatan.
“Untuk RSUD Landak, pelayanan cuci darah itu sudah berjalan mulai dari minggu ini untuk BPJS-nya. Tapi izin kita dari Kemenkes itu sudah keluar sekitar satu bulan yang lalu,” kata Albertus.
Ia menjelaskan, berdasarkan hasil visitasi Kementerian Kesehatan, RSUD Landak telah dinyatakan layak menyelenggarakan pelayanan dialisis. Setelah itu, rumah sakit melengkapi berbagai persyaratan, mulai dari tenaga kesehatan, peralatan, hingga sarana penunjang lain.
“Syukur puji Tuhan, persyaratannya sudah bisa terpenuhi, terkait tenaga, terkait peralatan, kemudian sarana. Minggu lalu, hari Rabu, sudah ada penandatanganan kerja sama dengan BPJS, dan untuk minggu ini kita sudah mulai layani pasien BPJS,” ujarnya.
Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Dialisis RSUD Landak dr Rusdianto, Sp.PD, mengatakan berdasarkan data BPJS Kesehatan Cabang Landak, terdapat sekitar 49 pasien gagal ginjal di Kabupaten Landak yang membutuhkan layanan cuci darah. Mereka tersebar di berbagai wilayah, dan selama ini banyak yang harus dirujuk ke luar daerah.
“Untuk saat ini dengan membuka pelayanan cuci darah di RSUD Landak, sudah dapat kita melakukan pelayanan dua kali seminggu. Mudah-mudahan dengan bertambahnya sumber daya termasuk perawat yang terlatih, nanti akan semakin banyak pasien yang membutuhkan cuci darah dapat terlayani di RSUD Landak ini sendiri,” kata Rusdianto.
Meski demikian, kapasitas layanan yang tersedia saat ini masih terbatas. RSUD Landak baru memiliki empat unit alat hemodialisa. Dengan kapasitas itu, rumah sakit baru mampu melayani 12 pasien rutin dalam satu pekan untuk satu shift.
“Kalau yang dengan 4 alat itu, kalau dengan satu shift kita mampu dalam 1 kali 1 minggu itu 12 pasien saja,” kata Albertus.
Ia mengakui jumlah itu belum sebanding dengan kebutuhan pasien di Kabupaten Landak. Karena itu, rumah sakit menargetkan pengembangan layanan secara bertahap, termasuk menambah tenaga terlatih dan peralatan.
“Kalau cuma 12 pasien, kasihan pasien-pasien yang lain tidak bisa terlayani. Nanti kalau memang bisa lancar, yang empat ini bagus, tentu kita akan berupaya bagaimana caranya untuk menambah pelayanan,” ujarnya.
Sebelumnya, Karolin juga sempat menyoroti lambannya proses hingga layanan HD untuk pasien BPJS benar-benar berjalan di RSUD Landak. Ia mengingatkan pentingnya komunikasi yang lebih baik agar fasilitas kesehatan daerah yang sudah memenuhi standar tidak kembali tersendat di tahap akhir.
“Begitu punya Kemenkes keluar, kok malah punya BPJS yang enggak mau. Alasannya bertambah ini dan itu. Jadi ya saya kira komunikasinya tolong diperbaiki,” kata Karolin.
Kini, setelah layanan mulai berjalan, perhatian pemerintah daerah tertuju pada penguatan kapasitas agar lebih banyak pasien Landak dapat tertangani di daerah sendiri. Bagi pasien seperti Markus dan Kornelis, layanan ini bukan hanya soal fasilitas baru, tetapi soal berkurangnya beban perjalanan panjang yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari perjuangan mereka untuk bertahan hidup.
Karolin berharap setelah layanan ini berjalan, semua pihak bisa terus saling mendukung agar pelayanan kesehatan bagi masyarakat semakin kuat dan tidak lagi tersendat oleh persoalan koordinasi.
“Saya harap ini tidak terjadi lagi. Dan kita ya sifatnya adalah saling mendukung, saling membutuhkan. Sehingga kita bisa memberikan pelayanan yang optimal kepada masyarakat,” tutup Karolin.
(Man)












