STRATEGINEWS.id, Medan — Pakar menilai emas mulai bergerak sebagai aset berisiko pada 2026 akibat penurunan harga yang tajam di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan penguatan dolar AS.
Dikutip dari Kitco News, Minggu (5/4/2026), analis komoditas di HSBC Asset Management menyoroti pandangan konvensional sebelumnya berasumsi bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik dan ketidakpastian ekonomi secara alami akan mendorong harga emas. Namun sebaliknya, harga emas justru merosot hingga 15% pada Maret 2026.
“Pergerakan harga emas sejak konflik di Iran pecah telah menentang ekspektasi. Kepemilikan emas telah bergeser ke arah pembeli ritel dan pembeli dengan leverage lainnya. Banyak di antaranya terpaksa melikuidasi kepemilikan mereka pada periode tekanan pasar,” ungkap analis komoditas di HSBC Asset Management.
“Dolar AS yang menguat tentu saja menjadi hambatan, menghalangi pembeli non-AS, sementara penyesuaian suku bunga yang agresif telah meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak menghasilkan imbal hasil,” kata para analis itu.
Meski demikian, mereka juga menilai emas masih bisa menjadi aset investasi jangka panjang yang baik seiring tren de-dolarisasi.
“Namun, emas mampu bertahan menghadapi lonjakan serupa pada dolar AS dan suku bunga sepanjang 2022, melemahkan tesis tradisional ini. Masih ada prospek investasi jangka panjang yang layak untuk emas, terutama di tengah tren de-dolarisasi global yang sedang berlangsung,” ungkap para analis HSBC.
Pada perdagangan Kamis (2/4/2026), harga emas dunia anjlok karena tertekan penguatan dolar AS dan lonjakan harga minyak di tengah meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Harga emas spot ditutup anjlok 1,72% ke level US$ 4.676,28 per troy ons.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS ambles 2,29% menjadi US$ 4.702,7 per troy ons, seperti dikutip dari investor.id, Senin (6/4/2026) siang.
(KTS/rel)












