Ungkap sejarah awal dinosaurus, ilmuwan mulai lirik Gurun Sahara

Foto: Ilustrasi Gurun Sahara.

STRATEGINEWS.id, Medan — Jejak dinosaurus paling awal diduga masih tersembunyi di bawah lebatnya hutan hujan Amazon dan luasnya Gurun Sahara. Penelitian terbaru mengindikasikan bahwa dinosaurus berevolusi di kawasan yang jauh lebih panas dan kering dibandingkan perkiraan sebelumnya.

Mungkinkah kunci asal-usul dinosaurus justru terkubur di wilayah yang selama ini jarang tersentuh penelitian?

Asal-usul dinosaurus hingga kini tetap menjadi teka-teki tetapi studi baru ini menawarkan petunjuk tentang lokasi yang mungkin paling menjanjikan untuk mengungkap jawabannya.

Dilansir laman Natural History Museum, saat ini fosil dinosaurus tertua yang benar-benar teridentifikasi berasal dari Argentina dan Brasil dengan usia sekitar 230 juta tahun. Fosil tersebut mencakup spesies seperti Eoraptor dan Herrerasaurus.

Meski demikian, kedua hewan tersebut sudah menunjukkan ciri khas dinosaurus sejati, yang berarti garis keturunannya kemungkinan telah berkembang jutaan tahun sebelumnya.

Upaya menemukan nenek moyang dinosaurus yang lebih awal sejauh ini belum membuahkan hasil memuaskan. Namun, sebuah penelitian yang dipublikasikan di Current Biology berjudul “Accounting for sampling heterogeneity suggests a low paleolatitude origin for dinosaurs” mengemukakan kemungkinan penyebabnya. Studi tersebut menyebutkan, para paleontolog mungkin belum melakukan pencarian di lokasi yang tepat.

Berdasarkan analisis terhadap catatan fosil dan rekonstruksi pohon evolusi dinosaurus, model yang dikembangkan para peneliti menunjukkan bahwa dinosaurus pertama kemungkinan muncul di sabana kering dan gurun panas superkontinen purba Gondwana. Kawasan ini di kemudian hari berkembang menjadi wilayah yang kini kita kenal sebagai Amazon, Cekungan Kongo, dan Gurun Sahara.

Joel Heath, mahasiswa doktoral yang memimpin penelitian ini, mengatakan, temuan tersebut bisa “mengubah segalanya” tentang asal-usul dinosaurus.

“Selama ini, diyakini bahwa dinosaurus pasti berevolusi di Gondwana bagian selatan, yang kini menjadi Brasil dan Argentina, karena fosil dinosaurus tertua ditemukan di sana,” jelas Joel, seperti dikutip dari Natural History Museum.

“Namun, catatan fosil memiliki banyak celah, sehingga tidak bisa diterima begitu saja. Model kami menunjukkan bahwa dinosaurus paling awal mungkin berasal dari Gondwana lintang rendah. Meski belum ada fosil dinosaurus yang ditemukan di wilayah tersebut, hal ini bisa disebabkan oleh kombinasi sulitnya akses dan relatif minimnya upaya penelitian di sana.”

Herrerasaurus merupakan salah satu dinosaurus paling awal yang diketahui tetapi kelompok ini diduga telah berevolusi selama jutaan tahun sebelum spesies tersebut muncul.

Menemukan Leluhur Dinosaurus yang Hilang

Para ilmuwan telah menamai ratusan spesies dinosaurus tetapi pemahaman tentang asal-usulnya masih belum kokoh. Sebagian besar catatan fosil dinosaurus belum lengkap, terutama dari Periode Trias ketika kelompok ini pertama kali berevolusi.

Joel menjelaskan, Eropa dan Amerika Utara umumnya memiliki catatan fosil yang relatif baik tetapi kondisi tersebut tidak berlaku di banyak wilayah lain di dunia.

Dia menambahkan, meskipun negara-negara seperti Brasil, Argentina, dan Tiongkok mulai mengejar ketertinggalan, masih banyak kawasan yang hanya menghasilkan sedikit temuan fosil. Menurutnya, situasi ini menyulitkan para ilmuwan untuk menelusuri asal-usul dinosaurus serta memahami momen-momen penting dalam sejarah evolusinya.

Pada masa lalu, para paleontolog berupaya memetakan hubungan dinosaurus awal dengan menyusun filogeni atau pohon keluarga evolusi. Dengan menelaah keterkaitan antarspesies dan lokasi penemuannya, para peneliti dapat menelusuri kembali garis keturunan tersebut hingga ke titik awal untuk memperkirakan habitat dinosaurus pertama.

Namun, ketika pohon evolusi dipenuhi celah data, hasil rekonstruksinya berisiko tidak mencerminkan kondisi sebenarnya. Untuk mengatasinya, Joel dan timnya berusaha membedakan antara wilayah yang memang tidak pernah dihuni dinosaurus dan wilayah yang belum menghasilkan fosil semata-mata karena keterbatasan penelitian.

Dia menjelaskan, timnya meninjau berbagai kawasan untuk memeriksa apakah fosil vertebrata darat dari Periode Trias dan Jura pernah ditemukan di sana. Jika suatu wilayah sama sekali tidak memiliki fosil, hal itu dianggap sebagai tanda peringatan bahwa ketiadaan tersebut mungkin bukan kondisi yang sesungguhnya.

Menurutnya, ada dua kemungkinan utama yang perlu dipertimbangkan. Pertama, batuan di wilayah tersebut mungkin memang tidak mampu mengawetkan fosil dari periode tersebut. Kedua, kawasan itu bisa jadi belum banyak diteliti.

Dengan mempertimbangkan faktor-faktor ini, tim peneliti kemudian merumuskan skenario baru tentang awal kebangkitan dinosaurus.

Garis Waktu Baru Evolusi Dinosaurus

Teori baru ini menempatkan kemunculan awal dinosaurus di dekat khatulistiwa, tepatnya di wilayah kering Gondwana ekuatorial sekitar 250 juta tahun lalu, setelah peristiwa kepunahan massal akhir Permian yang memusnahkan sebagian besar kehidupan di Bumi.

Pasca-peristiwa tersebut, kelompok reptil yang dikenal sebagai archosaurus mulai berevolusi menjadi beragam bentuk. Kelompok ini mencakup nenek moyang dinosaurus, pterosaurus, serta pseudosuchia yang menyerupai buaya.

Sementara leluhur pterosaurus dan pseudosuchia bergerak ke utara, garis keturunan dinosaurus tetap bertahan di Gondwana. Di wilayah inilah reptil-reptil tersebut akhirnya berkembang menjadi dinosaurus pertama, yang diperkirakan berukuran kecil sebesar anjing, bersifat omnivora, dan berjalan dengan dua kaki.

Pada tahap awal, dinosaurus diduga memiliki penampilan yang relatif serupa. Perbedaan mencolok baru muncul ketika mereka bercabang menjadi tiga kelompok utama, yakni ornithischia, theropoda, dan sauropodomorpha.

Di antara ketiga kelompok tersebut, asal-usul ornithischia yang mencakup spesies seperti Triceratops dan Ankylosaurus masih menjadi yang paling sedikit dipahami.

Kelompok ini secara misterius baru muncul dalam catatan fosil jauh setelah dua kelompok lainnya. Joel dan rekan-rekannya menduga bahwa jawaban atas teka-teki ini mungkin sebenarnya sudah tersedia, tetapi belum dikenali secara tepat.

Mereka berpendapat bahwa silesaurid, kelompok reptil fosil yang selama ini dianggap sebagai kerabat terdekat dinosaurus, kemungkinan merupakan leluhur langsung ornithischia.

Joel menyatakan, model yang mereka kembangkan jauh lebih mendukung penempatan silesaurid di dasar cabang ornithischia dibandingkan alternatif lain.

Dia juga menekankan, meskipun temuan ini belum tentu sepenuhnya benar, pendekatan tersebut dinilai lebih mampu menutup celah penting dalam sejarah evolusi dinosaurus dibanding teori-teori sebelumnya.

Meski dinosaurus mulai beragam sejak awal kemunculannya, karakter biologis mereka membatasi penyebaran di wilayah Gondwana selama jutaan tahun. Karena berevolusi di iklim hangat, kawasan yang lebih dingin di utara dan selatan khatulistiwa kemungkinan menjadi hambatan alami bagi ekspansi mereka.

Adaptasi ini diduga memungkinkan mereka menyebar lebih luas. Mereka bergerak ke selatan Gondwana dan kemudian berkembang menjadi spesies seperti Eoraptor dan Herrerasaurus, sekaligus menyebar ke utara menuju superkontinen Laurasia.

Sebagai penutup, Joel menyampaikan, pengujian utama terhadap model tersebut adalah ditemukannya fosil dinosaurus awal di wilayah seperti Amazon, Gurun Sahara, dan bagian lain Gondwana lintang rendah.

Dia menilai, penemuan semacam itu berpotensi merevolusi pemahaman tentang ekosistem Trias sekaligus memberikan wawasan penting mengenai kisah evolusi dinosaurus, seperti dikutip dari Nationalgeographic.co.id, Sabtu (7/3/2026) malam.

(KTS/rel)

Sumber: Nationalgeographic.co.id

banner 400x130

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *