Mengapa kini kita semakin jarang melihat kunang-kunang di alam?

Foto: Seekor kunang-kunang—juga dikenal sebagai serangga petir—menempel pada sehelai rumput di Washington DC, Amerika Serikat. Serangga bioluminesen ini menghadapi semakin banyak ancaman, mulai dari hilangnya habitat hingga peningkatan polusi cahaya yang eksponensial.

STRATEGINEWS.id, Medan — Pendaran cahaya yang menari di antara rerumputan tinggi pada malam hari bukan sekadar pemandangan indah, melainkan sebuah simfoni komunikasi yang telah berlangsung sejak zaman dinosaurus.

Sara Lewis, profesor ekologi evolusi dan perilaku di Tufts University, mengenang momen tiga dekade silam saat ratusan kunang-kunang meluncur indah di halaman belakang rumahnya di North Carolina.

Pengalaman luar biasa itu membawanya pada sebuah perjalanan riset panjang untuk mengungkap rahasia keluarga kumbang Lampyridae ini, yang ternyata telah mengolonisasi Bumi selama lebih dari 100 juta tahun dan terbagi menjadi sekitar 2.000 spesies di seluruh dunia.

Namun, keajaiban yang menyelimuti masa kecil banyak orang ini kini perlahan memudar seiring dengan meredupnya cahaya mereka di berbagai belahan dunia.

Data dari The Guardian menyebutkan, meskipun kunang-kunang telah bertahan dari kepunahan massal purba, keberadaan mereka sekarang justru terancam oleh aktivitas manusia modern.

Apa sebenarnya yang menyebabkan serangga bercahaya ini menghilang secara massal, dan mampukah kita menyelamatkan sisa-sisa cahaya mereka sebelum benar-benar padam selamanya?

Krisis Cahaya di Tengah Perubahan Global

Ancaman terhadap kunang-kunang bersifat sistematis dan kompleks. Dalam laporan tahun 2019 dari Xerces Society for Invertebrate Conservation yang turut disusun Sara Lewis, hilangnya habitat menjadi faktor yang paling fatal.

Sebagaimana dilaporkan The Guardian, spesies dari genus Pteroptyx di Asia Tenggara sangat menderita akibat pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit di sepanjang tepi sungai.

Larva mereka yang hidup di lumpur selama berbulan-bulan membutuhkan ekosistem bakau yang utuh untuk bertahan hidup. Ketika hutan tersebut hilang, hilang pula panggung bagi tarian cahaya sinkron yang selama ini menjadi daya tarik wisata.

Selain kehilangan rumah, polusi cahaya menjadi “pembunuh senyap” bagi ritual perkawinan mereka.

Berdasarkan studi Lewis dan Avalon Owens di jurnal Ecology and Evolution (2018), cahaya buatan mengacaukan kemampuan pejantan untuk mengirimkan sinyal kepada betina.

Di sisi lain, penggunaan pestisida spektrum luas yang meresap ke dalam tanah mengancam nyawa larva kunang-kunang sebelum mereka sempat dewasa.

Belum lagi tekanan dari festival serangga di Tiongkok yang pada 2016 saja memperdagangkan lebih dari 17 juta ekor kunang-kunang dari alam liar.

Rentannya siklus hidup mereka, ditambah diet yang sangat spesifik, membuat kumbang-kumbang ini sulit beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang drastis.

Kabar Baik dari Kebun Raya Bali

Di tengah kekhawatiran global, upaya pelestarian di tingkat lokal memberikan secercah harapan.

Melalui siaran pers yang diterima National Geographic Indonesia, dipaparkan tentang kolaborasi antara Kebun Raya Bali dan Nusantara Wilderness dalam mengeksplorasi biodiversitas fauna malam.

Pada zona krepuskular pukul 16.00 hingga 21.00 WITA, para peneliti dan 40 peserta menemukan populasi melimpah dari jenis Lamprigera Spp. dan Abscondita Spp. di area Panca Yadnya dan Lake View.

Hadhiyyah N Cahyono dari Kebun Raya Wilayah Timur menekankan, kebun raya berfungsi sebagai ruang konservasi hidup yang menjaga mikroklimat stabil dengan kelembapan tinggi dan suhu sejuk.

Keberadaan kunang-kunang di Bali menjadi indikator bioekologis bahwa kualitas udara dan vegetasi di sana masih terjaga dengan baik.

Bella Evanglista dari Nusantara Wilderness menjelaskan, kegiatan ini bertujuan mengajak publik memahami bagaimana lingkungan bekerja menjaga keseimbangan alam.

Melalui pemantauan rutin terhadap berbagai kelompok fauna, mulai dari amfibi hingga vegetasi seperti Ficus Spp. dan Bischofia javanica, Kebun Raya Bali membuktikan bahwa pengendalian intensitas cahaya buatan sangat krusial.

Direktur Pengelola Kebun Raya, Marga Anggrianto, berharap inisiatif ini menumbuhkan kesadaran kolektif untuk melindungi habitat alami sebagai satu kesatuan ekosistem yang utuh.

Langkah Nyata Menjaga Sisa Cahaya

Upaya menyelamatkan kunang-kunang dapat dimulai dari halaman rumah kita sendiri melalui tindakan-tindakan praktis yang disarankan National Geographic.

Langkah pertama adalah menciptakan habitat ramah dengan membiarkan serasah daun atau tumpukan kayu tetap berada di sudut halaman sebagai tempat bersembunyi larva yang gemar memangsa cacing tanah. Menanam semak asli dan membiarkan rumput tumbuh sedikit lebih tinggi akan membantu menjaga kelembapan tanah yang vital bagi siklus hidup mereka.

Selain itu, meminimalisir lampu luar ruangan dengan memasang sensor gerak atau penutup tirai di malam hari sangat membantu agar komunikasi cahaya mereka tidak terputus.

Kesadaran sebagai wisatawan dan warga dunia juga memegang peranan penting. Saat mengunjungi lokasi wisata kunang-kunang, kita diimbau untuk tidak menginjak tanah secara sembarangan dan menghindari penggunaan senter tanpa filter merah gelap.

Sebagaimana ditegaskan Sara Lewis, kunang-kunang adalah jendela menuju keajaiban alam yang sangat layak untuk kita selamatkan. Dengan menghentikan penggunaan pestisida dan bergabung dalam gerakan konservasi bersama komunitas lokal, kita sedang memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa merasakan keajaiban dari percikan cahaya di kegelapan malam, seperti dikutip dari nationalgeographic.co.id, Kamis (15/1/2026) pagi.

(KTS/rel)

Sumber: nationalgeographic.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *