Subulussalam Kota 1001 Air Terjun, Pusaka Kapur Barus dan Jejak Syeh Hamzah Fansuri

Saatnya Bangkit Lewat Wisata dan Ekonomi Kreatif

STRATEGINEWS.id, Subulussalam – Kota Subulussalam di ujung barat Aceh menyimpan sejuta pesona alam, budaya, dan sejarah yang belum sepenuhnya tergarap. Dari pohon kapur barus yang melegenda hingga wisata religi makam ulama besar Nusantara, dari ratusan air terjun alami hingga keragaman kuliner khasnya, Subulussalam sejatinya memiliki modal besar untuk menjadi destinasi unggulan dan penggerak ekonomi masyarakat.

Salah satu kekayaan alam endemik yang menjadi ciri khas daerah ini adalah pohon kapur barus atau dalam nama ilmiahnya Dryobalanops aromatica. Tanaman ini telah dikenal sejak zaman kuno sebagai sumber bahan baku minyak kapur barus yang bernilai tinggi. Catatan sejarah menyebutkan, dari daerah inilah dahulu rempah legendaris itu diekspor hingga ke Timur Tengah dan Eropa, menjadikan kawasan ini terkenal jauh sebelum era kolonial. Potensi ini kini dapat dikembangkan sebagai wisata edukasi dan konservasi tanaman endemik, tempat generasi muda belajar tentang warisan alam dan nilai ekonomi lestari.

Tak jauh dari warisan alam, Subulussalam juga dikenal sebagai tempat wisata religi makam Syeh Hamzah Fansuri, seorang sufi besar dan penyair Islam Nusantara asal Barus yang pengaruhnya mendunia. Makam ini menjadi destinasi spiritual yang ramai dikunjungi jamaah dan peneliti, menawarkan ketenangan sekaligus nilai sejarah tinggi tentang peradaban Islam di pesisir barat Sumatera.

Selain itu, julukan “Kota 1001 Air Terjun” bukan tanpa alasan. Hampir di setiap kecamatan, dari Penanggalan hingga Sultan Daulat, terdapat air terjun alami yang masih asri, tersembunyi di balik perbukitan dan hutan tropis. Keindahan ini menjadi magnet bagi wisata petualangan dan ekowisata. Jika dikelola profesional, potensi tersebut bisa membuka lapangan kerja baru bagi warga lokal, dari pemandu wisata, penyedia homestay, hingga pelaku UMKM lokal.

Tak kalah menarik, keberagaman kuliner dan budaya Subulussalam menjadi daya tarik tersendiri. Kota ini merupakan rumah bagi berbagai 13 etnis—antara lain Aceh, Pakpak, Singkil, Batak, dan Jawa—yang hidup berdampingan dalam harmoni. Ragam masakan seperti pelleng, ikan bakar sambal andaliman, durian jontor dan kopi racikan tradisional Subulussalam menjadi identitas kuliner yang patut dipromosikan lebih luas.

Melihat potensi besar ini, pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan dapat bersinergi untuk mengelola wisata berbasis kearifan lokal, memperkuat promosi digital, dan menumbuhkan kesadaran bahwa wisata bukan sekadar hiburan, melainkan jalan menuju kebangkitan ekonomi rakyat.

“Jika wisata Subulussalam digarap serius, bukan tidak mungkin kota ini akan menjadi pusat ekonomi baru di kawasan barat selatan Aceh. Semua potensi sudah ada, tinggal kemauan bersama untuk mengelolanya,” ujar salah satu pemerhati pariwisata lokal sekaligus kabid Pariwisata Disporapar Subulussalam Zulkarnaen, ST.

Dengan alam yang elok, sejarah yang kaya, dan masyarakat yang ramah, Subulussalam sejatinya tidak hanya layak dikunjungi, tetapi juga layak dibanggakan. Kini saatnya kota kecil di perbatasan Aceh-Sumatera Utara ini menulis babak baru: dari kota persinggahan menjadi kota tujuan wisata dan pusat ekonomi kreatif.

[dedi]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *