Budaya  

Surong Saprah PKMS 2025 Peserta Berpenampilan Sopan dan Menawan

Salah satu peserta Lomba Surong Saprah. Memperagakan tata cara penyajian hidangan kepada tamu kehormatan dan undangan. Di Rumah Melayu Balai Serumpun Kota Singkawang. Pada PKMS 2025 MABM Kota Singkawang. Selasa (01/07/2025)

Strateginews.id, Singkawang Kalbar – Surong Saprah. Khasanah budaya melayu yang terus dikembangkan dan dilestarikan. Di Kota Singkawang, Surong Saprah, merupakan suatu kelompok, yang terdiri dari beberapa orang (biasanya 6 orang). Bertugas menyanyikan makanan dan minuman kepada tamu kehormatan dan undangan.

Kelompok surong saprah laki laki menyajikan hidangan kepada tamu laki. Kelompok Surong Saprah perempuan menyajikannya, untuk tamu perempuan.

Saat makan bersama para tamu, disebut makan saprahan atau nyaprah. Satu saprahan yang disajikan untuk satu kelompok tamu, disajikan oleh, kelompok Surong Saprah.

Saprahan dan Surong Saprah berakar dari tradisi adat budaya Sambas. Secara khas sejak lama, juga dilakoni warga masyarakat puak melayu Singkawang Kalimantan Barat. Hal ini, lantaran secara histories, Singkawang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari adat dan budaya melayu sambas. Bahkan sejak jaman Kesultanan Sambas di masa silam.

Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Kota Singkawang, dewasa ini, merupakan salah satu yang sangat memprioritaskan keberlangsungan tradisi melayu satu ini.

Hari Selasa (01/07/2025), DPD MABM Kota Singkawang, dalam kegiatan Pekan Kebudayaan Melayu Singkawang (PKMS) 2025. Menyelenggarakan lomba Surong Saprah. Sebagaimana versi Singkawang, telah termuat dalam buku “Melayu Ada Karena Karya” yang diterbitkan oleh DPD MABM Kota Singkawang, tahun 2023 lalu. Lomba Surong Saprah berlangsung di Rumah Melayu Balai Serumpun Kota Singkawang.

Saprah, mengandung nilai nilai filosofis yang tinggi. Baik dalam sendi kehidupan warga masyarakat melayu maupun pelaksanaan secara simbolis yang mengandung ajaran agama (Islam), jati diri bangsa dan negara. Saprahan yang disuguhkan atau disajikan kelompok Surong Saprah kepada tamu dalam jumlah dan untuk serba 6. Sebagai simbol rukun Iman Islam.

Para peserta terlihat berseragan afik, berjajar rapi dan bersih. Dengan pakaian adat budaya melayu. Dan dengan penuh sopan santun dan menawan, memperagakan tata cara be Surong Saprah.

Mulai dari membawakan 6 piring, 6 gelas air minum, dan wadah berisi air cuci tangan peruntukan sebelum dan sesudah makan juga lap.

Setiap peserta lomba terlihat pula membawakan makanan terdiri nasi, lauk pauk, kue dan buah serta minuman (air sappang/surbat). Penyajian diisusun serapi dan seindah mungkin. Berikut cita rasa ragam saprahan yang penting turut menentukan. Untuk dinilai tim juri Surong Saprah.

Penilaian Dewan Juri, Juara. I dengan nilai 477 diraih nomor undian 09 dari SD Neberu 22 Singkawang.

Juara. II dengan nilai 473 diraih nomor undian 18 dari Kelompok Zikir Nazam Aljan Thani Kelurahah Pasiran, Singkawqng Barat.

Dan juara III dengan nilai 471 diraih nomor undian 19 dari SMP Negeri 2 Singkawang.

(Ibnu Azan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *