Opini  

Qurban; Cinta yang Tumbuh dari Keikhlasan

Oleh: Busri Toha (seorang pencari yang masih belajar mencinta)

Iduladha kembali menyapa kita. Hari ke-10 bulan Dzulhijjah, hari ketika takbir naik ke langit dan turun ke hati. Hari ketika kita mengenang peristiwa besar: seorang ayah diminta untuk menyerahkan anak yang ia cintai. Dan seorang anak, dengan tenang, siap diserahkan.

Kita mengenal mereka: Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Tapi jangan buru-buru menganggap ini hanya dongeng lama. Karena sesungguhnya, kisah itu hidup. Ia hadir dalam kehidupan kita hari ini—dalam bentuk yang lebih halus, lebih tersembunyi.

Kata orang, qurban itu menyembelih hewan. Tapi benarkah hanya itu? Bukankah hewan juga bisa disembelih siapa saja, bahkan tanpa niat ibadah? Maka pertanyaan sebenarnya adalah: apa yang kita sembelih dalam diri kita?

Apakah kita sudah menyembelih rasa rakus terhadap harta? Apakah kita sudah menyembelih rasa bangga yang terlalu besar terhadap amal kita sendiri? Atau, jangan-jangan, kita malah belum menyembelih apa pun—hanya membeli hewan, menyuruh orang lain memotong, lalu merasa cukup?

Qurban, sejatinya, adalah panggilan cinta. Cinta kepada Tuhan yang melebihi cinta kepada dunia.

Dalam salah satu puisinya, KH. Musthafa Bisri (Gus Mus) menulis:

“Tuhan,

jika aku mencintai-Mu

jangan biarkan aku mengagungkan selain-Mu

jangan biarkan aku memperbudak harta, tahta, dan pujian

sebab itu akan memisahkanku dari-Mu.”

Puisi itu terasa cocok untuk mengingatkan kita, bahwa qurban bukanlah tentang daging dan darah—melainkan tentang menyembelih apa pun yang menghalangi kita dari Tuhan.

Kadang saya berpikir, betapa besar cinta Ibrahim. Bukankah ia sudah menunggu puluhan tahun untuk punya anak? Lalu, saat Allah memintanya, ia tidak ragu. Begitu pula Ismail, yang tidak bertanya “kenapa aku?”—tapi justru menjawab dengan lembut, “Lakukan apa yang diperintahkan kepadamu.”

Itulah keikhlasan.

Hari ini, keikhlasan semakin langka. Kita memberi, tapi ingin dipuji. Kita beribadah, tapi berharap dilihat. Kita menyumbang, tapi ingin namanya dicetak besar di spanduk. Maka qurban menjadi latihan: berbuat hanya karena Allah, bukan karena manusia.

Qurban juga bukan hanya tentang hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga hubungan dengan sesama. Daging qurban tidak kita simpan sendiri. Kita bagikan—untuk orang miskin, yatim, dan siapa saja yang membutuhkan. Ia mengajarkan kita untuk peduli, untuk berbagi, untuk tidak hidup sendiri-sendiri.

Apalah artinya menyembelih hewan, kalau hati kita masih tega melihat tetangga kelaparan? Apalah artinya membagikan daging, kalau ucapan kita masih melukai?

Gus Mus pernah menulis:

“Apa guna menyembelih hewan qurban

bila tak mampu menyembelih keangkuhan?”

Maka marilah kita jadikan Iduladha ini bukan sekadar perayaan, tapi pengingat. Bukan hanya hari memotong sapi dan kambing, tapi juga hari untuk memotong kesombongan, kebencian, dan rasa cinta berlebihan pada dunia.

Tuhan tidak butuh daging. Ia tidak lapar. Tapi Ia ingin melihat: siapa di antara kita yang hatinya lembut, yang jiwanya tunduk, dan yang cintanya benar-benar kepada-Nya.

Semoga qurban tahun ini menjadi titik tolak. Agar kita semakin ikhlas dalam hidup. Agar kita semakin jujur dalam mencinta. Dan agar kita semakin siap untuk memberi, meski yang diminta adalah sesuatu yang kita genggam erat.

Selamat Iduladha 1446 H.

Semoga kita termasuk dalam barisan Ibrahim dan Ismail—yang cinta dan taat, meski berat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *