Pakar Kebijakan Publik: Perketat Masuknya Barang Impor, Pemerintah Harus Bangun Pabrik Garmen dan Perkuat Home Industry

Direktur P3S Jerry Massie

STRATEGINEWS.id, Jakarta – Akhir-akhir ini impor mendapat sorotan tajam dan dituding menjadi penyebab mulai gugurnya industri tekstil tanah air. Mulai dari pabrik baju hingga sepatu terpaksa harus gulung tikar, karena dibanjiri produk impor luar lewat platform online.

Melansir dari CNBC, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor pakaian jadi secara bulanan mengalami peningkatan. Pada Juli 2024, BPS mencatat, impor pakaian jadi khususnya HS 61 yaitu pakaian rajutan dan HS 62 bukan rajutan mengalami lonjakan masing-masing 55,46% dan 29,01% secara bulanan.

Lonjakan impor yang masif berbarengan dengan penurunan industri tekstil di tanah air menimbulkan pandangan negatif bagi impor. Namun, musuh utamanya adalah impor ilegal.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KemenKopUKM) menyebut, ada 50% impor tekstil dan produk tekstil (TPT) asal China yang masuk ke Indonesia secara ilegal, atau tidak tercatat. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Plt. Deputi Bidang UKM KemenKopUKM, Temmy Setya Permana dalam Diskusi Media di Kantor KemenKopUKM, Selasa (6/8/2024) lalu.

“Angka pada data ekspor barang dari China ke kita, dengan nilai angka impor kita tidak seimbang. Artinya, kita menduga ini ada indikasi produk yang masuk secara ilegal, tidak tercatat,” ujarnya.

Berdasarkan data dari internal KemenKopUKM dan Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), pada tahun 2021 nilai ekspor China ke Indonesia tercatat sebesar Rp58,1 triliun. Sedangkan nilai impor Indonesia dari China sebesar Rp28,4 triliun. Artinya, ada potensi nilai yang tidak tercatat sebesar Rp29,7 triliun.

Kemudian pada tahun 2022, nilai ekspor China ke Indonesia tercatat sebesar Rp61,3 triliun. Sedangkan nilai impor Indonesia dari China sebesar Rp31,8 triliun. Maka, potensi nilai impor yang tidak tercatat sebesar Rp29,5 triliun.

“Potensi impor yang tidak tercatat ini terbesar pada HS (60-63) berupa pakaian jadi,” kata Temmy.

Menanggapi membanjirnya produk impor, Pakar Kebijakan Publik Jerry Massie mengatakan, pemerintah harus membangun pabrik garmen atau perkuat home industry.

“ Gimana pabrik Nike, Adidas dan Puma sudah hengkang. Cara mudahnya kembalikan pabrik itu dan bikin sepatu dan dipasarkan di Indonesia. Indonesia doyan 3 merek ini selain anak muda converse dan Vans. Sepatu-sepatu saat ini di dominasi Vietnam dan Cina dan pakaian jadi dari Thailand. Pabrik Nike dan Adidas sudah pindah ke Vietnam,” kata Jerry melalui keterangan, Senin [19/8/2024].

“ Jadi saya kira pemerintah harus membangun pabrik garmen atau perkuat home industry. Bagaimana kita mau bersaing perusahaan tekstil saja banyak yang tumbang dan ambruk. Padahal kualitas pakaian jadi kita sangat baik dan diakui dunia. Merek-merek Calvin Klein, Express, American Eagle sangat laris di Amerika atau disukai di Amerika. Untuk itu, untuk mencegah impor maka brand kita seperti bata dan bucchery harus di push dan terus dioptimalkan,” ungkapnya.

Jerry mengatakan, bagaimana mungkin pabrik Bata saja sudah tutup, maka PR buat pemerintah Prabowo untuk mengangkat kembali brand ini kalau bisa market brand Bata   menguasai market share di Indonesia.

“ Waktu lalu kita punya merek ternama seperti Reebok dan Kasogi. Perusahaan yang memproduksi Kasogi adalah PT Alpha Omega Retailindo yang berbasis di Surabaya. Namun, kini produksi Kasogi berada di Jakarta Barat. Awalnya, sepatu lokal ini hanya membuat sepatu olahraga. Tapi nasib sepetu ini tak jelas. Dan juga Kemendag, Kemeperin dan Kemenkeu khususnya bea cukai harus perketat UU soal barang impor masuk tanah air. Kalau perlu tax atau pajak dinaikan dan pengawasan di setiap bandara dan pelabuhan di perketat,” Pungkas Jerry

” Belajar dari Amerika lalu saat pemerintahan Trump menaikan pajak 25 persen untuk barang-barang dari China dan ini mengutungkan Amerika,” pungkas Jerry

[nug/red]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *