Opini  

Demokrasi Religius: Menjaring Ide di Kampus Dunia

Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA.

Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA.

Dosen FAI-Pascasarjana UMY dan LARI (Lingkar Akademisi Reformis Indonesia)

Untuk kedua kalinya, Penulis kembali memberi catatan khusus tentang dinamika salah satu kampus swasta terkenal di Indonesia yakni UMY. Tulisan yang pertama memotret perjalanan UMY hingga tahun 2023 (https://strateginews.id/2023/05/31/demokrasi-religius-muhammadiyah-progresif-mazhab-kasihan/). Adapun narasi singkat berikut ini merupakan sumbangsih gagasan menyambut momen suksesi kepemimpinan di UMY.

Sekitar 40an tahun yang lalu, nama kampus UMY diplesetkan dengan label “Universitas Mana Yaa”, karena memang belum dikenal luas oleh publik. Jangankan level ASEAN, Asia hingga dunia internasional, untuk level Indonesia bahkan DIY saja, UMY masih berada dibawah ranking beberapa kampus yang sudah berdiri mapan lebih awal. Sejalan dengan perjalanan waktu, 43 tahun kemudian, sejak berdiri tahun 1981, saat ini kampus UMY “mazhab Kasihan”, tidak lagi berada pada level DIY, Asean dan Asia, tetapi sudah masuk ke level dunia (1201-1400) (https://www.kompas.com/edu/read/2024/06/06/132821171/2-universitas-milik-muhammadiyah-masuk-daftar-kampus-terbaik-dunia?page=all&fbclid=IwY2xjawEgAHxleHRuA2FlbQIxMAABHTvRNX4JlStHVlfM44boY_vWd7MkXtbqeRPAR1baKcJK0F0Ws4ZsInT3Ig_aem_SvyM6FUSYai6fZbQMJjDGA).

Lompatan kemajuan UMY tersebut tidak terlepas dari kerja keras para founding fathers UMY, juga hasil kerjasama yang intens antara pimpinan UMY dengan para Dosen dan Tendik. Secara akreditatif, saat ini UMY sudah masuk kategori kampus yang Unggul, tentunya termasuk beberapa Prodi di dalamnya. UMY juga sudah memiliki gedung riset (LRI) 7 lantai, disamping beberapa gedung baru lainnya.

Antara bulan Agustus hingga Oktober yang akan datang, sesuai aturan internal kampus dan Majelis Dikti Muhammadiyah, UMY Kembali akan melakukan proses penyegaran regeneratif empat tahunan kepemimpinan administratif dan akademiknya (penjaringan dan pemilihan calon Rektor UMY yang baru), demi tercapainya cita-cita Islam Berkemajuan, se bagaimana yang sudah menjadi kesepakatan di lingkungan AUM (Amal Usaha Muhammadiyah) secara local, regional, nasional dan internasional (PCIM).

Dalam rangka menyambut proses regenerasi kepemimpinan tersebut, berikut beberapa catatan subjektif Penulis, berupa sumbangsih  pemikiran yang mungkin bisa menjadi  bahan pertimbangan bagi para calon Rektor UMY serta forum Senat UMY, maupun bagi segenap sivitas akademika UMY lainnya.

  1. Sudah saatnya UMY lebih memprioritaskan jurnal internasional bereputasi maupun yang bereputasi internasional (Sinta 1), yang diterbitkan oleh kampus dalam negeri, agar perputaran uang pembayaran artikel lebih banyak di dalam negeri. Jurnal-jurnal terbitan luar negeri seringkali terjebak pada filosofi kapitalisme global.
  2. UMY sudah banyak memberikan peluang peningkatan kesejahteraan seperti program: SKP, BKD, dana riset dan pengabdian dalam dan luar negeri (LRI-Kemenristekdikti, dll), hibah buku (LP3M), hibah MOOCs pengajaran (LPP), riset kolaboratif, artikel jurnal dan PBM ke luar negeri (IRO), general checkup rutin setiap tahun, Beduk Mutu, dan lain-lain. Ke depan, UMY perlu memperluas income internal dan eksternal kampus dengan mencari dan memperluas unit-unit bisnis yang relevan dan kondusif bagi peningkatan kesejahteraan UMY. Jangan lupa, sebaiknya UMY juga mengembangkan unit pelayanan terapi psikologis untuk meningkatkan happiness index karyawan dan keluarga UMY. Untuk perbandingan, happiness index Indonesia masih berada di posisi rendah, yakni 80. Pelatihan dan internalisasi wawasan “santripreneur” juga semakin mendesak untuk diwujudkan (https://strateginews.id/2023/07/27/demokrasi-religius-santripreneur/)
  3. Selain berwawasan leadership dan manajerial yang open mind, idealnya, calon rektor UMY mendatang telah meraih pencapaian guru besar, agar menjadi inspirasi bagi para dosen yang belum mencapai jenjang tersebut. Ada juga pandangan bahwa pejabat struktural itu domain administrasi akademik. Sedangkan substansi akademik domain prodi dan lembaga riset. Kasus di luar negeri, ada mantan walikota tampil menjadi rektor. Kelak Senat UMY yang akan memutuskan.
  4. Masing-masing calon rektor, menyiapkan target pencapaian UMY di level internasional 4-8 tahun yang akan datang, ke level yang lebih tinggi dari yang sudah diraih saat ini, berbasis pada realitas potensial yang ada di UMY saat ini.
  5. Dalam pemilihan calon rektor kelak, aspek gender juga penting untuk diperhatikan, dalam artian proses pemilihan calon rektor UMY yang akan datang juga memberi ruang untuk para gubes perempuan. Beberapa PTMA (Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah) telah memberi kesempatan bagi tampilnya rektor perempuan. Dengan usia UMY yang 43 tahun, hingga sat ini belum pernah sekalipun UMY dipimpin rektor perempuan.
  6. Membuat skala prioritas dari road map pelayanan pengabdian sosial sekitar UMY dan DIY. UMY lebih intensif lagi mengarahkan riset dan pengabdian yang bermuara pada solusi interdisiplin, terhadap fenomena: limbah pabik gula, sampah, kemiskinan, fenomena skizofrenia, jamaah begaliyyah, maupun “supermarket” bencana DIY lainnya (https://www.krjogja.com/sleman/1242446504/jadi-supermarket-bencana-diy-siap-asuransikan-bangunan-dan-infrastruktur-publik).  UMY juga bisa berperan serta dalam peningkatan kualitas DIY sebagai propinsi pariwisata local, regional dan dunia. Untuk mengeliminasi overlapping riset dan pengabdian, langkah ini bisa dikerjasamakan dan saling bersinergi dengan kampus-kampus maupun pusat riset serta LSM yang ada di DIY. Sinergitas riset dan pengabdian di kalangan dosen maupun mahasiswa.
  7. Untuk menjaga kondusifitas dan kohesivitas internal UMY, para pejabat struktural UMY (sejak BPH, rektor, dekan-prodi, hingga pimpinan unit) dilarang keras terlibat politik praktis (low politics) seperti menjadi timses Pilpres maupun Pilkada.
  8. Membuat semacam task force, personal in charge (PIC), desk luar negeri serta pemanfaatan alumni UMY yang sedang atau pernah studi di luar negeri, juga PCIM, untuk program akselerasi internasionalisasi terkait kolaborasi dosen dan mahasiswa UMY.
  9. Budaya akademik di bidang publikasi sudah lumayan baik, namun ada yang menilai masih lemah dari sisi figuritas keilmuan yang tergolong sebagai great thinker, seperti figur Amin Abdullah (UIN Yogya), Nurcholish Madjid, Quraish Shihab, Azyumardi Azra (UIN Jakarta), Kuntowijoyo (UGM), Frans Magnis Suseno (STF Driyarkara), Buya Syafii Maarif (UNY), dll. Sbenarnya sudah ada beberapa ilmuan yang tekun di UMY. Ke depan, UMY tinggal mensuport lebih sistematis (by design) lagi bagi pemunculan great thinker di bidang disiplin ilmu masing-masing.
  10. Sistem pengajaran Myklass sudah bagus, tetapi jangan sampai terjebak pada mekanisme pembelajarn yang sangat teknis, namun mereduksi dialektika intelektual untuk transformasi kelimuan antara dosen dan mahasiswa, terutama bidang sosial humaniora.
  11. Dulu UMY secara periodik pernah melaksanakan kajian rutin bulanan yang secara bersamaan melibatkan dan mempertemukan antaraktivis mahasiswa (internal dan eksternal kampus), seperti: HMJ, BEM, IMM, HMI, dll. Selain menjadi forum mengasah tradisi intelektualisme, secara psikologis juga menjadi arena bersama dalam membangun tradisi keakraban antarkomponen mahasiswa.
  12. Sebagai kampus Islam yang bernaung di Muhammaidyah, calon rektor dan pejabat struktural lainnya tentu tidak terbukti melanggar etika akademis dan AIK.
  13. Hasil-hasil riset UMY yang sudah tersimpan dengan rapi harus lebih diwujudkan lagi dalam bentuk aplikasi empiris yang berdampak luas bagi kemaslahatan umat dan bangsa. Konon, dari jutaan riset yang ada di Indonesia, baru sekitar 10 persen yang ditindaklanjuti. Sekitar 90 persen, umumnya masih tersimpan rapi dalam rak-rak penelitian.
  14. Sebagai kampus yang berada di bawah naungan Muhammadiyah, kontekstualisasi MK AIK harus terus diupdate sesuai dengan perkembangan kemampuan akademis dan spiritualitas mahasiswa saat ini, terutama generasi Z dan kelak generasi Alpha, dimana konteks psiko-sosial-kultural mereka berbeda dengan generasi sebelumnya. Demikian pula halnya di tingkat Pascasarjana.
  15. Setiap tahun UMY telah memberikan penghargaan, berupa ibadah haji dan umrah sesuai tingkat prestasi masing-masing. Ke depan perlu ditambah dengan pemberian award yang high level terhadap dosen yang benar-benar mampu memberikan solusi keilmuan (teoritis-apikatif) baru yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
  16. Karena UMY sudah masuk jajaran kampus level dunia, maka calon rektor minimal memiliki kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris yang baik. Syukur bisa ditambah dengan bahasa Arab, China, dll.
  17. Mata kuliah (MK) Filsafat Ilmu dan Sosiologi Pengetahuan, saatnya diterapkan di semua prodi. Soal teknis pengajaran, bisa dalam bentuk MK tersendiri atau keduanya disipikan dalam MK inti di masing-masing prodi. Sehingga para calon sarjana UMY kelak memiliki kemampuan berpikir lebih kritis, sekaligus memahami geneologi masing-masing disiplin ilmu/MK yang diajarkan. Demikian pula MK entrepreneurship dan digital platform, sebagai bekal menyambut era Indonesia Emas.
  18. Untuk penguasaan IT, AI, dll umumnya kampus sudah cukup memadai. Belajar dari kasus kehilangan data di PDN (Pusat Data Nasional) yang berakibat hilangnya 282 layanan Kementerian, UMY harus lebih rigid lagi dalam melakukan backup data, sesuai dengan perkembangan kemajuan di bidang IT yang mutakhir.
  19. Minat mahasiswa asing (tahun 2024 ada sekitar 6000 calon mahasiswa asing) yang mendaftar ke UMY perlu disharing ke beberapa PTMA terbaik lainnya, di Jawa atau luar Jawa, sebagi bentuk kepedulian dan partisipasi UMY/PTMA dalam menjaga kepercayaan international student, sekaligus sebagai kontribusi global UMY/PTMA bagi pencerdasan SDM skala global. Calon-calon mahasiswa korban perang atau konflik social seperti Palestina, Yaman, India, Afghanistan, dll, perlu lebih diprioritaskan. Mahasiswa asing tersebut kelak bisa menjadi cikal-bakal PCIM di masa yad.
  20. Dalam rangka menjaga dan memperketat kewibawan akdemis di perguruan tinggi, rektor UMY yang akan datang mendorong pencabutan aturan hororis causa lewat forum Rektor PTMA, serta mengajak forum Rektor se Indonesia secara nasional. Selamat bersuksesi ria bagi sivitas akademika UMY. Wallahu a’lam bisshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *