STRATEGINEWS.id, Jakarta – Dalam peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 79, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat [DPP] Persatuan Wartawan Republik Indonesia [PWRI] sekaligus Praktisi Hukum Dr. Suriyanto Pd,SH,MH,M.Kn meminta agar momen tersebut tidak hanya berupa seremonial tetapi menciptakan nilai untuk memperkuat nilai nasionalisme kebangsaan, khususnya untuk anak anak dan remaja yang terkontaminasi dampak negatif dari penggunaan aplikasi di ponsel pintar yang tidak mengandung konten sejarah bangsa indonesia.
Substansi dari rasa kebangsaan dan Kebinekaan adalah kesadaran untuk bersatu ditengah perbedaan sebagai suatu bangsa, karena rasa kesamaan dan kepentingan demi masa depan Indonesia.
Rasa kebangsaan dan Kebinekaan merupakan perekat yang mempersatukan sekaligus memberi dasar kepada seluruh masyarakat, untuk memahami jati diri bangsa. Rasa kebangsaan dan Kebinekaan ini harus semakin nyata tercermin dalam realitas kehidupan masyarakat.
Suriyanto mengaku prihatin dengan kondisi bangsa saat ini yang mulai rapuh dari nilai-nilai Kebhinekaan. Menurutnya, nasionalisme sangat diperlukan dalam kelangsungan suatu negara, dengan harapan memunculkan rasa persatuan di dalam negara tersebut.
Di zaman serba teknologi globalisasi seperti ini, kata Suriyanto, budaya dan teknologi dari luar mulai menghiasi kebiasaan pelajar dan berpotensi memunculkan beberapa masalah yang nantinya juga berpengaruh dalam tingkat nasionalisme terhadap bangsa.
“ Saya sangat prihatin dengan mulai rapuhnya Kebhinekaan kita. Rasa nasionalisme kebangsaan sudah mulai luntur terutama di kalangan anak-anak dan remaja yang terkontaminasi dampak negatif dari penggunaan aplikasi di ponsel pintar yang tidak mengandung konten sejarah bangsa indonesia,” kata Suriyanto kepada strategi, Selasa [6/8/2024]
Suriyanto mengungkapkan, pengenalan rasa nasionalisme lewat kegiatan yang berhubungan dengan pembentukan karakter bangsa diharapkan bisa terbawa hingga anak beranjak dewasa. Dan nantinya akan membuat anak memiliki kebanggaan dan kecintaan terhadap Indonesia sebagai tanah airnya.
Dalam mewujudkan ini, kata dia, tentunya diperlukan bantuan dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk para tokoh elemen bangsa, tidak hanya dilakukan oleh pemerintah saja.
“ Negara membutuhkan dukungan dari berbagai pihak guna meningkatkan semangat persatuan dan kebangsaan. Harmonisasi sosial dan solidaritas masyarakat adalah dua kebutuhan yang bersifat urgen saat ini. Kita harus menanamkan komitmen berdiri dan melangkah bersama memajukan pembangunan di negeri ini. Dua kebutuhan ini tidak boleh lagi ditawar-tawar oleh garis kepentingan golongan atau gerakan separatis apa pun dalam wilayah negara kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.
Suriyanto menambahkan, dialog kebangsaan dan Kebhinekaan perlu dirajut terus menerus agar semua elemen bangsa dapat saling memberikan masukan yang konstruktif dan menjauhkan diri dari potensi perpecahan atau destruksi sosial.
“ Negeri ini kaya dengan kearifan lokal, toleransi, dan sikap penerimaan terhadap perbedaan keyakinan. Kita semua harus percaya itu sebagai anugerah Allah SWT, Tuhan Yang Maha kuasa untuk kebaikan bersama. Ini artinya keberagaman merupakan kekayaan dan fasilitas dari Tuhan untuk kita saling mengenal satu sama lain agar kita bisa belajar memahami dan menerima perbedaan sebagai kekuatan membangun negeri yang kita cintai ini. Dan anak-anak, remaja, generasi muda harus diberikan pemahaman tentang pentingnya sejarah bangsa, pentingnya nilai-nilai persatuan dan kesatuan,” tandasnya.
[jgd/red]












