Opini  

Jangan Ganggu Jika Tak Mau Kerja Sama

Presiden terpilih Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka

Catatan kecil D. Supriyanto Jagad N *)

Dalam kesempatan memberikan sambutan di acara Bimtek dan Rakornas Partai Amanat Nasional [PAN], di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, presiden terpilih Prabowo Subiano bicara kerjasama dalam pemerintahannya ke depan. Prabowo juga menyinggung pihak yang tak mau kerjasama jangan mengganggu.

Sontak, pernyataan Prabowo Subianto menuai berbagai tanggapan pro dan kontra. Ada sementara pihak yang menganggap, bahwa pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut ditujukan kepada sosok tertentu dan pihak-pihak kritis lainnya.

Pernyataan Prabowo, menurut saya, harus dilihat dalam perspektif yang lebih luas, perspektif kebangsaan, bahwa saat ini Indonesia membutuhkan komitmen sesama anak bangsa untuk bersama-sama membangun negeri yang gemah ripah loh jinawi ini, agar menjadi negeri yang toto titi tentrem kerto raharjo, dimana rakyat bisa hidup tenang, nyaman, dan sejahtera lahir dan batin.

Kita simak pernyataan Prabowo selanjutnya ,” … Kita mau kerja, kita mau kerja, kita mau amankan kekayaan bangsa Indonesia,”.

Pernyataan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut, sebagai ungkapan kegelisahan. Gelisah, karena banyak perilaku koruptif merajalela menggerogoti uang rakyat, mencuri kekayaan sumber daya alam hanya untuk kepentingan pribadi dan kelompok.

Perilaku busuk para perampok uang rakyat, perampok kekayaan sumber daya alam, inilah yang akan diberesin Prabowo, untuk dikembalikan kepada rakyat.

Para perampok uang rakyat, justru didominasi oleh mereka-mereka yang diberi amanah untuk mengelola uang rakyat. Seperti kasus-kasus gratifikasi kongkalingkong pejabat negara dengan pengusaha untuk memuluskan proyek, dan terbaru perampokan kekayaan alam tambang timah ilegal, yang merugikan keuangan negara Rp271 triliun. Tentu itu tugas yang tidak mudah bagi Prabowo, diperlukan kerjasama semua pihak. Prabowo tidak bisa bekerja sendiri.

Pernyataan Prabowo ,” Kalau ada yang mau nonton di pinggir jalan, silakan jadi penonton yang baik. Tapi kalau sudah tidak mau diajak kerjasama, ya jangan mengganggu,”.

Pernyataan tersebut bisa dimaknai, kalau ingin menjadi oposisi, monggo, sangat terbuka. Jadilah oposisi yang cerdas, oposisi yang baik, yang bisa memberikan alternatif pemikiran yang bisa mengasah kebijakan-kebijakan yang bakal digulirkan jadi lebih tajam dan berbobot.

Prabowo juga menyadari, oposisi dalam suatu pemerintahan sangat penting. Selain untuk mengawasi dan mengontrol pemerintahan yang bertugas, juga demi menjaga kelangsungan demokrasi di Indonesia tetap berjalan.

Ketika itu bisa dijalankan, betul-betul punya oposisi efektif, di awal pemerintahan, pembentukan pemerintahan, kita bisa percaya, kita bisa memproduksi kerangka hukum yang benar-benar bisa menjamin prinsip demokrasi yang baik.

Saya teringat kata-kata bijak leluhur,” Aja kekakehen gludhug nanging ora ana udane (Jangan terlalu banyak cakap, tetapi tidak ada buktinya “.  Kita boleh mengkritisi kebijakan pemerintah, namun berikan solusi pemecahannya. Jangan hanya banyak melontarkan kritik, tanpa ada solusi untuk perbaikan bangsa ini ke depan.

Mari kita berbenah diri Untuk Indonesia yang lebih baik.

*) Pekerja budaya, penikmat kopi pahit

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *