Opini  

Demokrasi Religius: Musim Hujan Tiba, Momentum Penghijauan Indonesia

Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA.

Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA.

Dosen FAI-Pascasarjana UMY dan LARI (Lingkar Akademisi Reformis Indonesia)

Awal November tahun 2023 ini, musim penghujan pun telah tiba. Datangnya musim hujan, tentu berita gembira buat bangsa Indonesia, walaupun seringkali menyebabkan banjir, tanah lonsor serta angin puting beliung di daerah rawan bencana (80% daerah Indonesia memang rawan bencana).

Hujan tentu dapat menghijaukan kembali Indonesia, terutama kawasan hutan yang menjadi paru-paru dunia. Musim penghujan diperkirakan hingga Januari-Pebruari 2024 ini dapat dijadikan sebagai momentum penghijauan Indonesia.

Dalam waktu bersamaan datangnya awal musim hujan ini, Presiden Joko Widodo melakukan telah melakukan rehabilitasi hutan mangrove di Indonesia dengan target bisa mencapai 600.000 hektar, dari total luas hutan mangrove Indonesia terbesar di dunia (seluas) 3,6 juta hektar. Penanaman hutan mangrove ini dimulai dari Kalimantan Utara, Bali dan akan berlanjut ke provinsi lainnya. Taman Hutan Mangrove Ngurah Rai di Provinsi Bali menjadi tempat percontohan bagi daerah lainnya.

Selain datangnya hujan, penanaman hutan mangrove, serta upaya penurunan karhutla, wabah pandemi juga berdampak berkurangnya aktivitas industri yang tentu menyumbang semakin hijaunya bumi.

Dalam situs moon-child.net, para ahli telah mengkonfirmasi bahwa lapisan ozon bumi terus pulih, dengan sebuah studi baru menemukan bahwa pemulihannya masih berlangsung. Penulis utama studi terkait itu, Antara Banerjee, seorang Cinges Visiting Fellow di University of Colorado Boulder yang bekerja di Divisi Ilmu Kimia Badan Kelautan dan Atmosfer AS (NOAA), mengatakan, penelitian ini menambah bukti yang semakin menunjukkan efektivitas Protokol Montreal.

Perjanjian tersebut tidak hanya memperbaiki lapisan ozon, tetapi juga mendorong perubahan terbaru dalam pola sirkulasi udara di Belahan Selatan Bumi (Southern Hemisphere). Meski selama penerapan pembatasan aktivitas saat pandemi virus corona mengakibatkan polusi udara lebih rendah, namun dampak jangka panjang pada pemanasan global masih harus diteliti.

Penelusuran lebih lanjut mengarah ke artikel berjudul “The Ozone layer is healing but it’s not because of Covid-19 lockdown” yang dimuat situs www.esquireme.com pada 30 Maret 2020. Dalam artikel tersebut dijelaskan bahwa hampir 33 tahun yang lalu, 197 negara menandatangani Protokol Montreal 1987. Tiga dekade kemudian, kita sekarang sedang menuai manfaatnya: lapisan ozon di atas Antartika sedang pulih.

Pada tahun 1985, para ilmuwan menemukan lubang besar di lapisan ozon yang disebabkan oleh penggunaan zat oleh manusia yang dikenal sebagai klorofluorokarbon (CFC) — yang ada pada hairspray, lemari es, dan kemasan berisi aerosol.

Hal tersebut menyebabkan kerusakan besar pada lapisan ozon, sehingga pada tahun 1987, sebuah perjanjian internasional yang disebut “Protokol Montreal” diadopsi untuk melarang penggunaan CFC (https://www.liputan6.com/cekfakta/read/4235563/cek-fakta-foto-ini-bukan-bukti-lapisan-ozon-membaik-akibat-wabah-covid-19).

Peran Ormas dan Parpol

Pada tanggal 14 Desember 2018, didirikan di kota Surabaya, Kader Hijau Muhammadiyah (KHM) sebagai salah satu organisasi dakwah komunitas, menjadi simpul gerakan alternatif kader Muhammadiyah dengan tujuan: “’Manifestasi Dakwah Muhammadiyah yang berlandaskan semangat pembebasan, pembaharuan dan pencerahan KH. Ahmad Dahlan, dalam rangka menjaga dan mengupayakan kelestarian lingkungan hidup”.

Peran KHM ini dapat mendinamisir warga Muhammadiyah untuk gerakan pelestarian air dan lingkungan di daerah masing-masing.

Sedangkan tahun 2019, PKB mendeklarasikan sebagai partai hijau yang harus diikuti dengan program kerja nyata, terkait dengan air dan lingkungan hidup. Inisiatif PKB ini sangat bagus jika diikuti para pendukungnya dan puluhan juta warga Nahdliyyin yang memiliki ratusan ribu pondok pesantren dan madrasah, baik yang dikelola oleh Ormas NU maupun individu tokoh kiai, sejak pusat hingga ranting. Gerakan penghijauan ini bisa menjadi lebih massif dan akseleratif.

Gerakan pelestarian air, lingkungan, khususnya  “kanalisasi” curah hujan, tentu sangat kondusif bagi terwujudnya program Food Estate yang sangat membutuhkan ketersediaan air bersih, demi terwujudnya cita-cita: Ketahanan dan Kedaulatan Pangan. Demikian pula halnya yang terkait dengan program Reforma Agraria.

Kontribusi Agama-agama

Saat musim hujan ini, para pemeluk agama-agama dapat merenungkan kembali tentang teologi, fikih dan etika terkait air dan lingkungan, maupun filosopi hijau dan perdamaian. Secara simbolik, konsep hijau ini dapat dikaitkan dengan tradisi mandi warga Hindu di sungai Gangga, tradisi sakramen baptis kaum Kristiani, tradisi harmoni dengan lingkungan warga Bali, atau juga tradisi suku Baduy yang ramah air, hutan dan lingkungan.

Berbagai lembaga pendidikan (dasar hingga perguruan tinggi), institusi keagamaan, juga pendidikan informal dalam keluarga dan masyarakat, hendaknya memiliki “kurikulum” kontekstual tentang air dan lingkungan hidup, yang akan berguna bagi generasi Indonesia di masa depan.

Musim penghujan ini juga menjadi momentum bagi segenap warga bangsa terutama para elit pemerintahan – pusat dan daerah – untuk melawan mafia perambah hutan maupun pelaku industri yang melanggar aturan tentang kelestarian air dan alam.

Hujan bisa menjadi sumber utama untuk reboisasi, penyadaran pentingnya mitigasi bencana serta membangun kembali kesadaran para pemimpin dunia, terutama elit Indonesia dan Pemda, hingga Lurah (yang dapat memanfaatkan dana desa untuk pelestarian air dan lingkungan). Institusi keagamaan seperti masjid, pura, vihara/wihara, gereja, kelenteng/litang, sinagoge, dapat diberdayakan sebagi pusat-pusat Gerakan Hijau di Indonesia

Segenap warga bangsa sebagai penduduk terbesar ke-4 dunia ini bisa melakukan akselerasi pelestarian air, termasuk air hujan, melalui program: pengadaan sumur-sumur resapan sekitar kedalaman dua meter, pelestrian dan penanaman pohon besar di semua rumah penduduk dan perkantoran, menjaga kejernihan sungai dari sampah, penataan dan pemanfaatan bendungan bagi tanaman, konsep green city dan smart city, dalam membangun kota (seperti IKN), dll.

Indonesia hijau adalah  Indonesia yang subur, sejuk, ramah, penuh toleransi, jauh dari radikalisme, terorisme maupun hoaks dan hate speech. Indonesia bersih dan gerakan Indonesia hijau dapat mengurangi dampak global warming, karbon dioksida bagi lingkungan dan kesehatan, efek rumah kaca, radiasi sinar matahari, dan sejenisnya yang mereduksi potensi eksosistem nabati dan hewani, berkurangnya ketersediaan pangan, juga meminimalisir korban jiwa, sekaligus menjaga kesehatan rakyat dari gizi buruk dan stunting. Musim hujan ini sebagai momentum membangun kembali paradigma baru untuk bersahabat (friendly) dengan alam, terutama air. Boleh melakukan eksplorasi alam secara positif untuk kemakmuran bumi, namun menjauhi sikap eksploitatif.

Firman Allah SWT: “Dan dari langit Kami turunkan air yang memberi berkah lalu Kami tumbuhkan dengan (air) itu pepohonan yang rindang dan biji-bijian yang dapat dipanen. (QS. Qaf/50: 9). Mengakhiri tulisan ini, ada baiknya merenungkan puisi “Hujan”, karya Nalaili:

Ditengah lelap tidurku / Aku terbangun akan suara petir yang bergemuruh / Angin mulai berdesir menderuh / Hawa sejuk mulai menyergap tubuh

Butiran itu kembali jatuh / Dari awan yang mulanya biru / Menarik penasaran dalam perasaan / Melihat daun dan dahan yang berbasahan

Seakan mengembalikan puing-puing kenangan / Yang dulu terjadi pada saat bersamaan / Juga secercah harapan / Dari-Nya

Tuhan menghantarkan pesan / Agar kesalahan di masa yang telah sudah / Tak berulang saat mentari kembali menyapa / Bukan hanya teguran namun juga pengajaran

Karena sejatinya matahari dan hujan / Adalah bahan untuk melukis pelangi yang indah

Wallahu a’lam bisshawab.-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *