Oleh Achmad Nur Hidayat
Fitch Ratings menurunkan peringkat utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+ karena negosiasi sulit mengenai kesepakatan plafon utang dan insiden penyerangan Capitol Hill pada 6 Januari 2021.
Perwakilan Fitch Ratings telah menyoroti suasana memanas politik sebagai masalah yang signifikan dalam pertemuan dengan pejabat AS, tetapi tidak menyebutkan peristiwanya apa dalam laporan lengkap mereka tentang penurunan peringkat.
Surat utang AS, yang selama ini dianggap sebagai tempat berlindung yang aman, kehilangan citranya setelah penurunan peringkat. Dampaknya bisa meluas, termasuk pada tingkat hipotek orang Amerika dan kontrak internasional.
Fitch mengutip perkiraan penurunan fiskal AS selama tiga tahun ke depan, beban utang pemerintah yang meningkat, dan erosi tata kelola sebagai alasan menurunkan peringkat.
Menteri Keuangan Janet Yellen dan Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre keberatan dengan keputusan Fitch Ratings dan menyatakan ketidaksetujuannya terhadap keputusan tersebut.
Dampak turunnya peringkat surat utang Amerika
Turunnya peringkat surat utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+ memiliki beberapa konsekuensi yang dapat mempengaruhi berbagai aspek ekonomi dan keuangan, baik di dalam negeri maupun di tingkat internasional. Berikut adalah beberapa konsekuensi yang mungkin terjadi:
Pertama, Penurunan peringkat surat utang ini akan menaikan biaya utang. Penurunan peringkat menyiratkan bahwa pasar akan menganggap risiko gagal bayar (default) dari surat utang AS sedikit lebih tinggi daripada sebelumnya. Akibatnya, pemerintah AS mungkin harus membayar tingkat suku bunga yang lebih tinggi untuk menarik investor untuk membeli obligasi pemerintah. Kenaikan biaya utang ini bisa meningkatkan beban utang pemerintah AS.
Kedua, Surat utang Amerika Serikat yang mendapat peringkat AAA sebelumnya dianggap sangat aman dan menarik bagi investor asing. Namun, dengan turunnya peringkat, beberapa investor asing mungkin akan kehilangan kepercayaan dan mengalihkan investasinya ke surat utang negara lain yang peringkatnya lebih tinggi atau lebih stabil. Hal ini dapat menyebabkan keluarnya modal asing dari AS dan menekan nilai tukar dolar AS.
Ketiga, Turunnya peringkat surat utang AS dapat menyebabkan gejolak di pasar keuangan global. Investor mungkin akan cenderung mengalihkan portofolio mereka untuk mengurangi risiko dari aset-aset AS yang kurang menarik. Hal ini dapat mempengaruhi harga saham, obligasi, dan mata uang di seluruh dunia.
Keempat, Peringkat yang lebih rendah dapat berdampak pada tingkat suku bunga secara keseluruhan, termasuk suku bunga pinjaman konsumen dan bisnis. Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya beli konsumen dan meningkatkan biaya pinjaman bagi bisnis, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
Kelima, Turunnya peringkat dapat menimbulkan kekhawatiran terhadap stabilitas dan tata kelola ekonomi Amerika Serikat. Hal ini dapat menyebabkan kekhawatiran di kalangan investor dan menyebabkan kehilangan kepercayaan dalam jangka panjang terhadap ekonomi AS.
Namun tentunya pemerintah dan lembaga keuangan AS dapat mengambil langkah-langkah untuk memperbaiki keuangan negara dan meningkatkan peringkat kembali dalam jangka waktu tertentu. Pemerintah AS dituntut untuk menjalankan kebijakan ekonomi yang bijaksana dan bertanggung jawab guna menghadapi tantangan yang timbul akibat penurunan peringkat tersebut.
Konsekuensi untuk Indonesia
Penurunan peringkat surat utang Amerika Serikat dari AAA menjadi AA+ dapat berdampak secara global, termasuk bagi negara Indonesia tidak luput dari dampak buruk yang ditimbulkan yang mengharuskan pemerintah melakukan langkah menghadapi kemungkinan terburuk dari hal ini. Berikut adalah beberapa konsekuensi yang mungkin timbul untuk Indonesia:
Pertama, peringkat AS yang lebih rendah dapat menyebabkan gejolak di pasar keuangan global. Investasi asing mungkin akan beralih dari aset-aset AS ke negara-negara lain yang dianggap lebih aman, termasuk Indonesia. Hal ini dapat mempengaruhi harga saham, obligasi, dan mata uang di Indonesia, serta menyebabkan volatilitas di pasar modal.
Kedua, jika terjadi lonjakan suku bunga global akibat penurunan peringkat AS, maka Indonesia yang merupakan negara berkembang dengan utang yang cukup besar, mungkin harus membayar tingkat suku bunga yang lebih tinggi untuk menarik investor untuk membeli obligasi pemerintah. Kenaikan biaya utang ini dapat meningkatkan beban utang negara Indonesia.
Ketiga, turunnya peringkat AS dapat menyebabkan depresiasi nilai tukar dolar AS, yang dapat mempengaruhi ekspor Indonesia karena harga produk ekspor menjadi lebih mahal bagi negara yang mengimpor dari Indonesia. Di sisi lain, impor Indonesia mungkin menjadi lebih mahal jika harga barang-barang impor dihargai dalam dolar AS.
Keempat, ketidakstabilan di pasar keuangan global dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Jika investor kehilangan kepercayaan terhadap pasar keuangan global dan membatasi investasi mereka, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat terhambat.
Kelima, jika perangkat kebijakan ekonomi AS berubah sebagai respons terhadap perubahan peringkat, ini juga dapat mempengaruhi hubungan perdagangan antara AS dan Indonesia. Kebijakan yang lebih proteksionis di AS dapat mempengaruhi akses produk Indonesia ke pasar AS.
Dampak utamanya adalah Cadangan Devisa Indonesia saat ini sebesar 80% ditempatkan dalam bentuk surat utang amerika. Jika sekarang rating surat utang Amerika turun konsekuensinya nilai cadangan devisa pun jadi turun. Tentunya hal ini sangat merugikan bagi negara.
Perlunya diversifikasi aset berharga non dolar
Perlunya diversifikasi aset berharga non dolar dalam cadangan devisa Indonesia sangat penting untuk mengurangi risiko dan meningkatkan ketahanan ekonomi negara. Saat ini, sebagian besar cadangan devisa Indonesia masih berada dalam bentuk aset dolar AS. Meskipun dolar AS dianggap sebagai salah satu mata uang cadangan yang relatif stabil dan likuid, ketergantungan berlebih pada satu mata uang dapat menimbulkan risiko jika terjadi fluktuasi atau gejolak di pasar global.
Diversifikasi aset berharga non dolar akan memberikan beberapa manfaat berikut:
Pertama, dengan memiliki aset berharga di mata uang selain dolar AS, Indonesia dapat mengurangi risiko dari fluktuasi nilai tukar dolar terhadap rupiah. Fluktuasi nilai tukar yang besar dapat mempengaruhi daya saing ekspor dan biaya impor, serta mempengaruhi stabilitas ekonomi negara.
Kedua, diversifikasi akan membantu melindungi nilai cadangan devisa Indonesia dari potensi penurunan nilai aset dolar AS akibat perubahan kebijakan atau gejolak ekonomi di AS.
Ketiga, dengan memiliki aset berharga dalam mata uang yang berbeda, Indonesia akan memiliki lebih banyak pilihan dan fleksibilitas dalam mengatur cadangan devisa sesuai kebutuhan dan kondisi pasar global.
Dibawah ini ada beberapa alternatif Diversifikasi Aset Berharga Non Dolar sebagai pilihan diantaranya:
Pertama, Euro (EUR). Indonesia bisa memperbesar porsi di mata uang ini. Memiliki aset berharga dalam euro dapat memberikan proteksi terhadap fluktuasi dolar AS dan meningkatkan eksposur terhadap pasar Eropa.
Kedua, Yuan China (CNY) pertimbangannya adalah bahwa China telah meningkatkan posisinya sebagai kekuatan ekonomi global dan mata uangnya semakin diterima di pasar internasional.
Ketiga, Emas (XAU) menjadi opsi terbaik diluar mata uang, tetapi juga dapat meliputi komoditas berharga seperti emas. Emas dianggap sebagai bentuk perlindungan dari fluktuasi mata uang dan gejolak pasar keuangan. Menyimpan sebagian cadangan devisa dalam bentuk emas dapat memberikan perlindungan tambahan terhadap risiko sistemik.
Keempat, obligasi negara lain patut dipertimbangkan. Dalam rangka diversifikasi aset berharga, Indonesia juga dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi dalam obligasi negara lain yang denominasi mata uangnya berbeda dengan dolar AS. Obligasi negara dengan kualitas kredit yang baik dapat memberikan pendapatan tetap dan stabilitas investasi.
Hanya saja diversifikasi aset berharga harus dilakukan dengan hati-hati dan didasarkan pada analisis risiko dan potensi imbal hasil. Keputusan diversifikasi harus mempertimbangkan tujuan, kebijakan, dan kondisi ekonomi dan keuangan nasional.
Rekomendasi
Pemerintah Indonesia harus bisa merespons dan mengelola situasi ini dengan baik. Pemerintah Indonesia perlu tetap waspada terhadap perkembangan di pasar global dan mengambil langkah-langkah yang tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keuangan negara.
Untuk mengatasi dampak penurunan peringkat surat utang Amerika Serikat dan menghadapi situasi yang mungkin timbul, pemerintah Indonesia dapat mengambil beberapa langkah strategis. Berikut adalah beberapa rekomendasi:
Pertama, BI perlu membeli Surat Utang Korporasi Nasional yang menjanjikan daripada investasi overseas. Bisa dengan membeli saham korporasi nasional seperti Telkomsel dan lain-lain.
Kedua, diversifikasi Aset dalam Cadangan Devisa Indonesia ke selain dolar seperti emas, dan lain-lain yang lebih stabil.
Ketiga, Pemerintah perlu mengutamakan penguatan fundamen ekonomi Indonesia. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi, menjaga inflasi yang rendah dan stabil, serta mengurangi defisit anggaran akan memberikan kepercayaan kepada investor dan mengurangi risiko dari gejolak pasar global.
Keempat, Pemerintah harus menjaga kedisiplinan fiskal dan memperhatikan tingkat utang negara. Mengelola utang secara bijaksana dan efisien, serta mengurangi risiko atas fluktuasi suku bunga, dapat membantu mengatasi potensi kenaikan biaya utang akibat perubahan di pasar global.
Kelima, Diversifikasi Pasar Ekspor dan Impor sudah harus dilakukan oleh pemerintah. Mengurangi ketergantungan terhadap pasar AS sebagai mitra dagang utama dapat membantu mengurangi dampak perubahan kebijakan AS terhadap ekspor dan impor Indonesia. Pemerintah perlu mendorong diversifikasi pasar dan mencari peluang baru untuk ekspor ke negara-negara lain.
Keenam, nilai tukar mata uang dapat mempengaruhi daya saing ekspor dan biaya impor. Pemerintah dapat menggunakan instrumen keuangan seperti lindung nilai (hedging) untuk mengelola risiko mata uang dan melindungi perekonomian dari dampak perubahan nilai tukar. Untuk itu perlu ditempuh hedge investasi Indonesia yang berdenominasi dolar Amerika
Ketujuh, menjaga stabilitas sistem keuangan domestik menjadi kunci dalam menghadapi dampak dari perubahan di pasar global. Pemerintah perlu bekerja sama dengan otoritas keuangan dan perbankan untuk memantau dan menangani potensi risiko yang muncul akibat gejolak pasar.
Kedelapan, dampak penurunan peringkat AS berdampak signifikan pada perekonomian Indonesia, pemerintah dapat mempertimbangkan stimulus ekonomi yang tepat sasaran untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan membantu sektor-sektor terdampak.
Kesembilan, pemerintah Indonesia dapat meningkatkan diplomasi ekonomi dengan negara-negara lain untuk memperluas kerja sama ekonomi dan perdagangan. Membangun hubungan ekonomi yang kuat dengan mitra dagang yang beragam dapat membantu mengurangi risiko dari fluktuasi pasar global.
Implementasi langkah-langkah ini akan memerlukan kesinambungan, koordinasi yang baik, dan respons yang cepat dari pemerintah Indonesia. Dengan mengambil langkah-langkah yang tepat, Indonesia dapat meningkatkan ketahanan ekonomi dan mengatasi dampak dari perubahan di pasar global.












