STRATEGINEWS.Id, Jakarta – Pertemuan Menteri Luar Negeri se-Asia Tenggara (ASEAN) atau ASEAN Ministerial Meeting (AMM) akan digelar di Jakarta pekan depan. Sedianya, pertemuan tersebut bakal diikuti 29 negara.
Para menteri luar negeri yang dijadwalkan hadir di antaranya, India, New Zealand, Rusia, Australia, China, Jepang, Uni Eropa, Inggris, Kanada, hingga Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri (Menlu) RI Retno LP Marsudi mengungkapkan, pertemuan tersebut akan diselenggarakan pada 11-14 Juli 2023. Terdapat 18 pertemuan dalam rangkaian acara ASEAN Ministerial Meeting/Post Ministerial Conference (AMM/PMC).
“Tingkat kehadiran pada tingkat menteri luar negeri sangat tinggi, regardless beberapa hari sebelum pertemuan, akan berlangsung pertemuan tingkat Menteri NATO di Vilnius. Hingga hari ini, sudah terdaftar 1.165 delegasi dan 493 wartawan yang akan hadir dalam rangkaian pertemuan AMM/PMC,” ujar Retno dalam press briefing di Kemlu, Jakarta Pusat, Jumat (7/7/2023).
Retno mengungkapkan, seluruh menlu akan melakukan lebih dari 13 pertemuan bilateral dengan perwakilan dari masing-masing negara.
“Negosiasi masih terus berjalan sampai saat ini dan tentunya masih akan terus berlanjut sampai pertemuan berlangsung, termasuk Joint Communique para Menlu ASEAN yang merefleksikan berbagai perkembangan kerja sama ASEAN selama setahun, prioritas kerja sama ke depan, dan isu-isu kawasan serta global yang menjadi perhatian ASEAN,” tuturnya.
Ia menyebutkan, saat ini situasi global masih diwarnai rivalitas yang tinggi. Misalnya, perang di Ukraina yang sangat berdampak terhadap pemulihan ekonomi pasca pandemi COVID-19.
“Bahkan, perang di Ukraina juga berdampak pada suasana pembahasan di seluruh forum multilateral dan internasional,” imbuhnya.
Menurut Retno, sudah semestinya ASEAN memperkuat soliditas dan kesatuannya dalam menghadapi situasi tersebut. Ini diperlukan agar ASEAN bisa terus memainkan sentralitasnya untuk menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan.
Di sisi lain, ASEAN juga harus menangani masalah Myanmar yang dilanda krisis politik akibat kudeta militer.
“Selama pendekatan yang diambil oleh para pihak adalah pendekatan zero sum, maka perdamaian yang durable tidak akan terjadi. Selama spirit perdamaian tidak dimiliki oleh para pihak, maka perdamaian yang durable tidak akan terjadi,” tandasnya.
AMM/PMC merupakan salah satu mekanisme ASEAN yang memiliki peran penting sebagai convening power yang mana culture of communication dan culture of dialogue terus dijalankan berdasarkan prinsip-prinsip piagam PBB, piagam ASEAN, dan hukum internasional.
[jgd/red]












