Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA.
Dosen FAI-Pascasarjana UMY dan LARI (Lingkar Akademisi Reformis Indonesia)
Artikel ini merupakan pengantar Penulis terhadap buku karya Prof. Waston, yang berjudul, Teori-teori Relasi Agama dan Sains (UMS). Agama dan ilmu (sains) pada hakikatnya bagaikan dua sisi mata uang, yang antara satu dengan lainnya saling melengkapi dan menyempurnakan. Secara eksistenial, keberadaan agama dan sains merupakan satu kesatuan yang utuh di saat Allah menciptakan alam semesta beserta segala isinya yakni: secara natural (natural sciences/NS), sosial (social sciences/SS), dan kebudayaan (humanities/H).
Secara normatif-teologis, Allah sebagai pemilik alam dan seluruh aspek kehidupan manusia telah memberikan seperangkat tubuh, jiwa dan akal bagi umat manusia, yang masing-masing orang memiliki pluralitas tentang kuantitas dan kualitas tubuh, jiwa dan akal itu sendiri. Demikian pula halnya terkait lingkungan alam dimana manusia hidup, juga tak lepas dari berbagai ragam kontekstualitas yang mengelilingi kehidupan umat manusia, secara geografis dan geologis.
Di sinilah letaknya fundamental structure eksisnya keragaman perkembangan ilmu pengetahuan, sekaligus pluralitas pengetahuan dan pemahaman keagamaan di kalangan umat manusia, baik secara kuantitatif, kualitatif dan integratif. Mengingat, eksistensi dan pemahaman esensial maupun kontekstual tentang agama, alam dan manusia, selalu mengalami dinamika dan berbagai konsekuensi perubahan, maka interpretasi manusia tentang Tuhan, dirinya, agama, kebudayaan, dan alam, juga mengalami perkembangan yang luar biasa, baik secara historis, filosofis, paradigmatis, epistemologis, metodologis, hingga pada dataran empiris-praksis-aksiologis. Dari keanekaragaman perubahan inilah lahir dan terus berkembangnya ilmu pengetahuan umat manusia dari satu periode ke periode yang lain, dari suatu peradaban lama ke peradaban yang baru dan terus berkembang hingga akhir zaman.
Pluralitas wacana paradigmatik, metodologik dan saintifik dalam buku ini umumnya seputar dinamika perkembangan agama dan sains dengan memotret empat tokoh (Ian G. Barbour, Amin Abdullah, John Haught, Seyyed Hossein Nasr), yang secara umum bergelut di bidang teologi dan filosofi keagaman serta kajian perkembangan filosofi dan metodologi keilmuan di bidang sains. Aspek historisitas, kultural dan disiplin ilmu, tentu bukan menjadi fokus inti dari kajian ini, selain hanya dikaji sekilas sepanjang terkait dengan dinamika pemikiran keagamaan dan sains.
Secara umum, karya ini menyangkut dialektika paradigmatik dan metodologik keilmuan – keagamaan dan sains – antara tiga mazhab: Objektivisme, Subjektivisme serta upaya integrasi antara keduanya. Semangat utama di sini adalah bagaimana upaya akademik yang baru dapat dilakukan demi terwujudnya integrasi kelimuan antara metodologi keilmuan keagamaan maupun sains (exact science).
Terkait wacana fundamental ideas dari keilmuan teologi keagamaan dan sains, masih perlu ditindaklanjuti dengan kajian mendalam tentang aspek-aspek teknikal dari ranah kajian epistemologi keilmuan (dapat meminjam gagasan al- Jabiry seperti yang dimodifikasi Amin Abdullah, bisa juga meminjam versi lainnya), baik yang terkait epistemologi keilmuan agama maupun sains.
Lalu, pada tahap berikutnya, bagaimana hasil kajian epistemologi keilmuan keagamaan dan sains tersebut dijadikan acuan evaluatif-paradigmatik-metodologik terhadap berbagai epistemologi keilmuan yang berkembang selama ini. Sekaligus mengevaluasi berbagai disiplin keilmuan keagamaan dan sains yang sudah lama eksis secara lebih fragmentatif, teknikal dan partikular.
Pada langkah selanjutnya, barulah di rancang bangunan struktur keilmuan (body of knowledge) yang baru – agama maupun sains – dengan berbasis pada epistemologi keagaman dan sains yang baru pula, dalam perspektif yang lebih integratif tentunya. Hal ini otomatis akan berimplikasi pada perombakan secara total berbagai kurikulum, silabi, text book, mindset para pengajar/ilmuan serta metode pembelajaran agama dan sains di berbagai lembaga pendidikan, sejak tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Ini merupakan perjalanan akademik yang panjang dan melelahkan, namun sebagai upaya bersama yang positif dan kontributif bagi wajah baru masa depan peradaban umat manusia secara lebih transendental, humanis dan integratif. Era Posmodernisme sendiri, sebenarnya, masih dalam tahapan deconstruction, belum mencapai tahapan reconstruction kerangka keilmuan – agama dan sains – yang baru, sekaligus implikasinya bagi kelahiran disiplin keilmuan yang baru, sesuai dengan dinamika zaman.
Kerja akademis ini, di satu sisi memberatkan karena masih dominannya filosofi, paradigma, epistemologi dan aksiologi ilmu-ilmu keagamaan dan saintifik yang lama. Namun, berkat akselerasi perkembangan iptek, percepatan perumusan filosofi, paradigma, epistemologi, metodologi dan aksiologi disiplin keilmuan yang baru, sebenarnya lebih mudah dilakukan dengan prinsip working together antarkomunitas keilmuan di berbagai perguruan tinggi maupun lembaga-lembaga riset, tanpa harus dibebani oleh hambatan birokrasi kekuasaaan maupun administrasi keilmuan yang rigid.
Selain itu, penting pula dicermati aspek tingkatan-tingkatan atau level-level (levels) dan model-model (models) metodologik-teoritik keilmuan berbagai disiplin ilmu keagamaan maupun sains. Dalam konteks ini, perlu dirinci tentang level-level keilmuan dalam kajian metafisika maupun empirikal keagamaan dan sains. Sebagai contoh, konsep keilmuan al-Hikmah al-Muta’aliyah (warisan kajian integratif filsafat Masyaiyyah-Isyraqiyyah, Iran) perlu diteliti secara lebih mendalam berbagai jenjang teknis keilmuan yang ada dalam ranah mistikal, rasional maupun levels and models yang baru dari integrasi antara keduanya.
Secara akademis, semua filosofi, paradigma, metodologi, epistemologi, model dan konteks, semuanya pasti mengalami perubahan dari masa ke masa. Itu artinya, konsep al- Hikmah al-Muta’aliyah, juga akan mengalami perubahan. Demikian pula, riset-riset Post-positivism, paradigma Kuhnian, sistem riset model Imre Lakatos, kajian Hermeneutika Kritis dan sejenisnya, pasti juga akan mengalami perkembangan di masa depan.
Hal tersebut, besar kemungkinan membuka ruang-ruang baru dalam kajian – epistemologis-metodologis-teoritik sains – astronomi, biologi, fisika dan sebagainya, baik secara levels maupun models. Sebagai contoh aktual, perkembangan riset terkait virologi, dewasa ini merupakan tantangan baru bagi para ilmuan biologi, baik bagi pemikir sains yang fokus pada wilayah paradigma dan epistemologi keilmuan, maupun bagi para peneliti – teknis-biologis – yang berada di ruang-ruang laboratorium biologi. Demikian pula halnya wilayah kajian astronomi dengan berbagai temuan terbaru.
Juga tentang dinamika robotik, artificial intelligence, dan sejenisnya. Dinamika baru ini tentu belum masuk dalam radar spider web-nya Amin Abdullah (lapisan berikutnya). Anlisis dalam buku ini memuat pokok-pokok pikiran empat tokoh yang disebutkan di atas. Namun masih belum membedah secara mendalam tentang perkembangan pemaknaan konsep-konsep agama dan sains yang diajukan para tokoh, serta belum banyak terlihat kritik-kritik yang lebih tajam, oleh para ilmuan agama dan sains, terhadap empat tokoh tersebut.
Penulis buku ini sudah cukup bekerja keras mengumpulkan berbagai gagasan ke empat tokoh tersebut, namun belum melakukan kritik individual terhadap masing-masing tokoh. Mungkin ini sebagai catatan ke depan jika buku ini kelak akan disempurnakan pada penerbitan edisi berikutnya.
Sebagai catatan (teknis) terakhir, untuk kajian pengembangan relasi antara agama dan sains di masa yang datang, dapat dilakukan beberapa langkah berikut ini:
- Perlunya didorong berbagai inisiatif untuk menggali potensi local science sebagaimana yang dilakukan oleh seorang remaja yang menemukan obat penyakit di Kalimantan. Indonesia memiliki khazanah yang melimpah untuk local science. Demikian pula dengan dinamika baru dari little tradition dari agama-agama dan kepercayaan, yang boleh jadi ikut menghambat, perkembangan sains di Indonesia.
- Hasil riset-riset yang diaplikasikan dalam dunia riel, baru 5%-10%, sisanya masih tersimpan rapi dalam rak-rak hasil penelitian. Tentu, banyak rekomendasi inspiratif yang masih tersimpan dalam hasil-hasil riset yang ada.
- Selama ini Indonesia hanya menjadi objek riset bagi negara lain. Masih sedikit ilmuan yang melakukan riset sendiri tentang berbagai tema tentang Indonesia.
- Pemerintah perlu lebih meningkatkan lagi kualitas jurnal-jurnal ilmiah tanah air yang setingkat Scopus, WOS, Thomson Reuter, dan sejenisnya.
- Masalah Big Data perlu menjadi perhatian pemerintah pusat. Idealnya sarana Big Data disediakan di Jakarta – karena biayanya yang cukup mahal – namun dapat diakses secara gratis (online) oleh para ilmuan di seluruh daerah.
- Telah banyak SDM milenial yang menjuarai event Olimpiade Sains dan forum keilmuan lainnya di tingkat dunia. Namun masih perlu pembinaan lanjut terhadap mereka hingga benar-benar menjadi ilmuan handal di kemudian hari.
- Perlu rekayasa yang lebih sistematis untuk peningkatan kualitas para saintis Indonesia, terutama dalam upaya pencapaian raihan Nobel price. Pemerintah bersama perguruan tinggi perlu mendata secara detail berbagai potensi ilmuan di bidangnya masing-masing yang dapat diplot ke arah pencapaian Nobel price tersebut. Beberapa waktu yang lalu sempat muncul peluang raihan Nobel price itu yang diwakili mantan Presiden SBY sebagai tokohperdamaian dan Muhammadiyah-NU dari aspek pelayanan sosial.
- Para ilmuan terutama perguruan tinggi terus meningkatkan kualitas budaya melek literasi masyarakat untuk mengeliminasi budaya hate speech dan hoax yang justeru semakin menjauhkan masyarakat dari budaya ilmiah.
Wallahu a’lam bisshawab.










