Budaya  

Seminar Awal Kajian Sekolah Tionghoa Di Donggala

Acara Seminar Awal Kajian Chung Hwa School (Sekolah Cina) di Donggala.

STRATEGINEWS.Id, Donggala – Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) Kabupaten Donggala laksanakan seminar awal tentang “Chung Hwa School” dalam perspektif Sejarah, Pendidikan, Arkeologi dan Arsitektur, bertempat di ruang rapat kantor tersebut.

Dalam sambutannya, Pelaksana tugas (Plt) Sekretaris Kabupaten (Sekkab) Donggala, Sofyan Dg. Malaba, saat membuka seminar, agar kegiatan ini bisa mengungkap berbagai hal menarik di masa lalu tentang keberadaan Chung Hwa School atau Sekolah Cina di Donggala.

“Terus terang, soal nama Chung Hwa School ini masih baru bagi saya. Ternyata cukup menarik dilakukan kajian dan diangkat sebagai satu pengetahuan dari berbagai aspek dengan harapan, ke depan memiliki nilai yang dapat diwariskan pada generasi muda,” kata Sofyan.

Seminar yang melibatkan sejumlah elemen masyarakat, guru sejarah dan pemerhati kota tua Donggala itu menghadirkan pembicara dengan penjelasan dan pemaparan tentang tujuan seminar awal. Adapun para pembicara yaitu Suyuti (Sejarawan dari Untad), Zulkifly Pagessa (Arsitek) dan Iksam (Arkeolog).

Sementara itu, Kepala Balitbangda Donggala, Lutfiah Mangun, berharap, hasil penelitian sekolah Cina (Chung Hwa School) bisa menjadi rekomendasi untuk bahan referensi penetapan bangunan cagar budaya.

“Hal ini semula juga menjadi harapan salah satu Deputi Lembaga Administrasi Negara saat berkunjung ke Donggala. Ketika itu ia menyarankan agar bangunan bernilai sejarah ditetapkan sebagai cagar budaya yang selanjutnya difungsikan dengan baik dan dapat diakses publik. Semacam tempat tujuan wisata sejarah,” jelas Lutfiah.

Karena berdasarkan data dari pelbagai sumber informasi, kedatangan warga Tionghoa di Donggala secara bergelombang, umumnya sejak awal abad ke-19 dengan berdagang kemudian menetap. Mereka datang langsung dari daratan Cina (Tiongkok) dan sebagian pindahan dari Makassar, pulau Kalimantan dan Surabaya (Jawa).

Warga Tionghoa ini memiliki latar belakang asal berbeda-beda, di antaranya dari Hokkien, Hokchia, Kanton, Hakka dan lainnya. Dalam perkembangan sejarah, warga Tionghoa telah menyatu dengan berbagai suku melalui perdagangan.

Mereka memiliki relasi sosial, budaya dan ekonomi hingga turun-temurun telah melekat sebutan “Cina Donggala” bentuk penerimaan warga pada umumnya. Eksis sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda, memiliki posisi strategis di bidang perekonomian dan jabatan penting seperti adanya sebutan Kapten Cina berurusan dengan kelautan.

Keberadaan para warga Tionghoa di Donggala cukup banyak, komunitas ini mendirikan sekolah Chung Hwa School merupakan sekolah yang di rintis kalangan Tionghoa di Donggala. Sekolah serupa di bangun pula di Kota Palu, Poso dan Tolitoli. Khusus di Kota Donggala di dirikan secara swadaya pada masa pemerintahan kolonial Belanda.

Meskipun di di dirikan di zaman pemerintahan kolonial Belanda, akan tetapi sekolah tersebut bukan merupakan bagian dari pemerintah colonial. Namun, bahasa pengantarnya menggunakan bahasa Belanda dan Cina.

Mulanya tingkat dasar enam tahun, setelah kemerdekaan dibuka lanjutan SLTP pada bangunan dua tingkat di bagian belakang. Bekas sekolah Tionghoa (Chung Hwa School) hingga saat ini masih menyerupai bangunan asli tempo dulu, walaupun di beberapa dekade acap kali di renovasi dan fungsinya juga silih berganti sesuai kebutuhan pemerintah daerah.

Dari aspek bangunan, kapasitas gedung Chung Hwa Shool terbilang besar menempati sebuah kawasan strategis di tengah Kota tua Donggala. Selain itu memiliki gaya arsitektur sendiri yang cukup mewah pada zaman dulu.

Bangunan itu juga, terbilang klasik bila dibandingkan dengan beberapa bangunan uzur lainnya yang ada di Kota Donggala saat ini. Bangunan itu telah melewati beberapa fase pergulatan sosial dan politik serta silih berganti fungsi sesuai perubahan zaman.

Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *