Prof. Dr. Muhammad Azhar, MA*)
Isu tentang Charlie Hebdo mengungkap banyak hikmah, baik bagi warga Barat (Eropa) maupun warga Muslim khususnya yang menetap di Eropa. Dalam tulisan ini Penulis ingin mengangkat satu sisi tentang bagaimana berislam di dunia Barat (Eropa).
Dalam momentum kali ini Penulis memperkenalkan seorang pemikir keilmuan Islam kontemporer yang telah lama bermukim di Eropa, bernama Dr. Tariq Ramadan.
Tariq Ramadan lahir di Jenewa, Switzerland, 26 Agustus 1962. Beliau merupakan putera dari Said Ramadan, sekaligus cucu dari pejuang Islam terkenal dari Mesir yakni Syaikh Hasan al-Banna (pendiri Ikhwanul Muslimin) yang sangat terkenal sebagai ulama pemikir dan pejuang yang istiqamah di zamannya.
Tariq Ramadan juga memiliki paman yang cukup dikenal oleh publik Mesir maupun dunia Islam bernama Gamal al-Banna, seorang pemikir Islam kontekstual. Sedikit banyaknya, Tariq Ramadan banyak dipengaruhi oleh bapaknya – Said Ramadan pendiri Islamic Center di Swiss – juga dari pamannya yang lebih bercorak kontekstual. Adapun jiwa filantropi Tariq Ramadan banyak dipengaruhi oleh kakeknya Hasan al-Banna yang berjasa mendirikan lebih dari 2000-an lembaga pendidikan dan sosial Islam di Mesir, serta memiliki pengaruh besar di dunia Islam.
Secara keilmuan, Tariq Ramadan, selain memahami Islamic Studies, pendidikan Pascasarjananya dalam bidang disiplin Filsafat dan Sastra Prancis. Setelah menyelesaikan program S2 tersebut, beliau meraih gelar Doktor/Ph.D dalam bidang Studi Arab dan Islam, dimana disertasinya tentang: Nietsche sebagai Sejarawan Filsafat, di Geneva University, Swiss.
Tariq juga pernah meninggalkan rutinitasnya sementara waktu sebagai pemikir dan penasehat beberapa lembaga di Eropa untuk mendalami Islam selama satu tahun di Al-Azhar University. Ia berguru ke beberapa syaikh, bahkan rata-rata belajar sejak Shubuh hingga Maghrib (antara 10 sd 12 jam sehari). Masa studi 4 tahun hanya dia tempuh selama satu tahun (1992-1993).
Adapun yang menjadi main interest Tariq Ramadan adalah: theology, philosophy, politics, interfaith dialogue and literature. Selain mendalami tradisi Islamic studies, pemikiran Tariq juga dipengaruhi oleh: Nietsche, Rousseau, Dostoyevsky, Zola, Proust, Rinbaud, Baudelaire, Camus, Sartre, Edward Said, Surealism dan Mohammad Asad.
Dari segi pengalaman karir dan prestasi sosial lainnya, Tariq memiliki banyak aktivitas antara lain: sebagai pengajar di Geneva College; Profesor di Faculty of Oriental Studies at Oxford; Universitas Fribourg, juga pemberi kuliah bulanan di Prancis dan Belgia. Ia juga sebagai salahsatu tokoh Worker Priests di Amerika Selatan, dan proyek pembangunan di Tibet, Asia dan Benua Afrika.
Tariq juga sebagai pendiri Movement des Muslimans Suisses yang bergerak dalam kajian dan seminar-seminar lintas agama. Selain itu beliau juga sebagai penasehat Uni Eropa di Brussels, serta member dari UK Foreign Affairs Advisory Group on Freedom and Religion or Belief yang cocern dalam isu-isu agama – khususnya Islam – serta sekularisme.
Posisi penting lainnya, Tariq juga sebagai Presiden Euro Muslims Networking di Brussels. Pemerhati tentang Konflik dan Perdamaian di Indiana, AS – tahun 2005-2006 visanya pernah dicabut, walau akhirnya dipulihkan kembali. Tariq juga sebagai Presiden Solidarity Teaching Attitude di Geneva College (1988-1992). Tariq juga menjadi pemimpin CILE (Center of Islamic Legislator and Etrhics) di Doha, Qatar.
Pada tahun 1998 dan 2002 pernah menyumbang dana sebesar 940 US Dolar untuk Palestina, dan oleh karenanya – pada 12 Agustus 2003 – ia sempat dituduh memiliki hubungan dengan Hamas. Beliau juga pernah tiga kali memenangkan kasus hukum. Popularitasnya semakin meningkat setelah majalah Time menobatkannya menjadi salahsatu dari 100 inovator dunia (tahun 2000, 2004, 2009, 2010, 2012, 2013, 2014). Juga sebagai 7 pemimpin agama paling popular di dunia.
Dewasa ini Tariq Ramadan dikenal sebagai pembina generasi baru calon pemimpin Muslim bagi sekitar 300-an anak muda usia 20-30 tahun, di seluruh Eropa, untuk memperkuat wajah Muslim di Eropa di masa depan. Ia juga pendiri the Alter Globalisation Movement untuk menghadapi bahaya globalisasi.
Beberapa Pemikiran dan Kritik
Tariq Ramadan memiliki beberapa pemikiran yang cukup brilian bagi kemajuan Islam, tidak hanya di dunia Barat tetapi juga sangat bermanfaat untuk kemajuan peradaban di belahan dunia Islam lainnya. Beberapa pemikiran tersebut antara lain sebagai berikut:
Pertama, ia mendorong agar umat Islam sebanyak mungkin dapat menjadi mujtahid, bukan sekedar muqallid (follower). Kedua, ia menolak hukuman mati, tetapi bukan karena tekanan isu HAM dari dunia Barat, melainkan perlunya kajian ulang beberapa aspek pemahaman hukum Islam yang tekstual-literalistik.
Ketiga, ia pernah mendukung invasi AS di Irak untuk menumbangkan rezim Saddam Husein yang menindas. Keempat, menolak suicide bombing, juga menolak terorisme, walaupun dapat memahami fenomena tersebut (He has condemned suicide bombing and violence as a tactic. Terrorism is never justifiable, even though it is sometimes understandable). Kelima, mengkritisi hukum Prancis yang menolak simbolisme agama.
Keenam, ia pernah mengkritisi reaksi umat Islam terhadap pidato Paus Benekditus XVI, karena reaksi tersebut – menurutnya – bersumber dari kelompok Islam reaksioner yang justeru merugikan posisi dan masa depan Islam. Ketujuh, PM Prancis Zarkosyi keliru karena menuduh Tariq membela hukum rajam, padahal Tariq hanya ingin ada “moratorium” tentang hudud yang dinilai terlalu literal bila diperhadapkan dengan modernitas (Muslim populations are convincing of these practices through a rejection of the west on the basis of a simplistic reasoning that stipulates that ‘the less western, the more islamic’).
Kedelapan, Tariq juga pernah dituduh dekat dengan kelompok teroris muslim, Islam radikal dan dianggap antiSemitisme. Kesembilan, dalam soal khilafiyah, ia mendorong umat agar menghindari sikap judgment, lebih baik berpegang pada prinsip: unzhur ila ma-qala, wala tanzhur ila man-qala (fokus pada apa yang dikatakan, bukan pada siapa yang mengatakan). Kesepuluh, tidak semua dari Arab itu Islamic, dan tidak semua dari Barat itu Satanic.
Kesebelas, kebebasan (freedom) itu sesuai dengan Islam, sedangkan keserba-bolehan permissivinism) bertentangan dengan Islam. Keduabelas, wilayah ibadah dan muamalah memang ada perbedaan (distinction), tetapi bukan pemisahan (divorce) seperti yang terjadi dalam sekularisme di dunia Barat atau pemisahan antara agama dengan Negara/urusan dunia. Ketigabelas, imigran Muslim mengalami dilema karena lari dari negeri mereka yang otoriter, namun mengalami problem assimilation dan integration di Barat sebagai warga minoritas yang tetap tidak ingin kehilangan hak-hak hidup, juga ingin tetap menjaga nilai-nilai kehidupan tradisi mereka.
Dalam konteks ini, Tariq akhirnya menawarkan konsep Western Islam (Islam dengan style Barat, tidak harus bergaya Melayu, Maroko, Timur Tengah, dll). Keempatbelas, hidup di dunia Barat bukanlah ancaman, justeru bisa mendapatkan kebebasan dan penghargaan sepanjang bisa beradaptasi dengan budaya Barat, selama masih dalam bingkai ajaran Islam. Apalagi, menurut berbagai riset, dinamika Islam semakin berkembang di AS dan Eropa bahkan telah menjadi agama kedua terbesar di Barat.
Kelimabelas, perlu adanya intra-community dialogue di kalangan umat Islam (seperti Hizbut Tahrir, Salafy, dll). Menurut Tariq, cara Salafy ada baiknya juga untuk mengingatkan umat tentang literalisme Islam, namun harus dibedakan mana mayoritas muslim yang moderat dan mana sekelompok kecil yang radikal-kekerasan-revolusioner.
Keenambelas, dunia Islam bisa belajar dari Barat tentang tradisi “keraguan” dan budaya “kritik” sebagai cara untuk kontekstualisasi Islam. Ketujuhbelas, penjajahan budaya melalui globalisasi yang bercirikan sekularisme yang sempit jauh lebih dahsyat dari model penjajahan Barat gaya klasik/bersifat fisik.
Kedelapanbelas, Tariq juga menolak pemilahan konsep Darul -Harb dan Darul-Islam, ia lebih senang menggunakan konsep Dar-ad-Da’wah (He rejects a binary division of the world into Darul-Islam (the abode of Islam) and Darul-Harb (the abode of war), but he always concerning with Dar-ad-Da’wah (the abode of information dissemination).
Akhirnya, secara umum, Tariq menolak: clash of civilization, Salafi Jihadi/god army, terrorism, violence, radicalism, dan segala bentuk misunderstanding antara Islam dan Barat.
Bagi kaum milenialis calon pemikir dan pemimpin masa depan, khususnya di Indonesia, sangat bagus mendalami lebih lanjut pemikiran Tariq Ramadan dengan membaca karya-karya beliau berikut ini: Muslims in France: The Way Towards Coexistence (1998); To Be A European Muslim (1998); Western Muslims and the Future of Islam (USA: Oxford University Press, 2003); Radical Reform, Islamic Ethics and Liberation (USA: Oxford University Press, 2008); Islam, The West and the Challenge of Modernity (2009); What I Believe (2009); The Arab Awakening, Islam and the New Middle East (Penguin: Spring 2012); Islam, The Essentials (2017); dll.
Diantara karyanya yang sudah diterjemahkan: Teologi Dialog Islam-Barat: Pergumulan Muslim Eropa (Bandung: Mizan, 2000); Menjadi Modern Bersama Islam (Jakarta: Teraju, 2003). Bisa juga dibaca: The Prophet of Moderation: Tariq Ramadan’s Quest to Reclaim Islam (Foreign Affairs Retrieved on 2011-01-30).
Demikianlah, semoga bermanfaat. Pada edisi berikutnya akan penulis perkenalkan beberapa tokoh intelektual Muslim kontemporer lainnya. Wallahu a’lam bisshawab.
*) Dosen FAI-Pascasarjana UMY dan LARI (Lingkar Akademisi Reformis Indonesia)












