Oleh, Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn *)
Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan “asing”. Sudah saatnya kita bercermin. Karena yang membuat Indonesia menangis hari ini bukan tentara negara lain. Bukan investor jahat. Tapi oknum dari bangsanya sendiri.
Lihat datanya. Transparency International 2025: Indonesia turun 10 peringkat. Jadi 109 dari 182 negara. Skor 42. Artinya dunia melihat kita sebagai negara yang masih nyaman dengan suap, nepotisme, dan akal-akalan.
Siapa pelakunya? Bukan asing. Yang menilep dana bansos bangsanya sendiri. Yang main proyek fiktif bangsanya sendiri. Yang jual beli vonis bangsanya sendiri. Yang jual izin tambang tanpa audit bangsanya sendiri.
Sakitnya di sini Bapak. Kita dijajah 350 tahun oleh asing, kita lawan. Sekarang kita “dijajah” 20 tahun oleh oknum bangsa sendiri, kita diam. Karena pelakunya pakai batik, pakai dasi, dan pidatonya paling lantang soal “NKRI Harga Mati”.
Korupsi stadium 4 bukan karena UU nya kurang. KUHP kita tebal. UU Tipikor kita keras. “Yang kurang adalah nyali untuk memotong tangan sendiri”.
Hukum menangis. Karena yang harusnya jadi wasit ikut main judi. KPK dilemahkan lewat revisi. Oknum Kejaksaan dipakai untuk tebang pilih. Oknum Hakim masih ada yang pasang tarif. Kalau wasitnya curang, pertandingannya bubar.
Ekonomi menangis. Subsidi 500 triliun bocor ke tengah jalan. Impor pangan diatur kartel. Proyek IKN, data center, jalan tol jadi bancakan. Rakyat disuruh “hemat”, tapi anggaran perjalanan dinas tembus ratusan miliar.
Pendidikan menangis. Anak lulusan terbaik menganggur. Sementara anak pejabat yang IPK 2,0 langsung jadi komisaris. Karena rekrutmen bukan soal kompetensi. Tapi soal “orang dalam”.
Lingkungan menangis. 28 izin perusahaan dicabut karena diduga sebabkan banjir Sumatra yang makan 1.200 korban. Tapi pencabutannya tanpa pengadilan, tanpa audit. Asal-asalan. Karena dari awal izinnya juga asal-asalan.
Digital menangis. Kita teriak “Kedaulatan Data”. Tapi data rakyat bocor tiap bulan. Kita mau bangun data center, tapi listriknya mau diekspor dulu. Prioritasnya kebalik. Karena yang mikir cuma komisi, bukan masa depan.
Yang paling menyakitkan: semua ini dilakukan dengan dalih “demi rakyat”. Rapatnya tertutup. Anggarannya rahasia. Pas ketahuan, jawabannya: “Itu oknum”. Seolah-olah oknum itu jatuh dari langit.
Para Oknum itu tidak lahir tiba-tiba. Oknum itu tumbuh subur di tanah yang tidak diawasi. Di tanah yang media nya dibungkam. Di tanah yang LSM nya dipersulit. Di tanah yang rakyatnya disuruh “jangan ribut”.
Jangan heran anak muda turun ke jalan. Bukan karena dibayar asing. Tapi karena mereka capek. Capek lihat orang tuanya kerja 30 tahun tapi tetap miskin. Capek lihat hukum tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Negara lain maju karena mereka berani “operasi besar”. Singapura potong menteri yang korupsi. Korea Selatan penjarakan presidennya. Kita? Masih sibuk “rekonsiliasi” dan “merangkul”.
“Bersih-bersih” itu pasti sakit. Karena yang dibersihkan adalah kotoran yang sudah mengendap 30 tahun. Dan kotoran itu punya nama, punya partai, punya ormas, punya backing.
Jadi jangan salahkan asing kalau investasi kabur. Jangan salahkan asing kalau anak muda pesimis. Yang harus disalahkan adalah kita. Yang memilih diam. Yang memilih pragmatis. Yang memilih “yang penting saya aman”.
Indonesia negri yang tidak akan mati karena diserang asing. Indonesia bisa mati karena dibunuh pelan-pelan oleh oknum bangsanya sendiri. Obatnya cuma satu: dukungan penuh untuk “bedah besar”. Sikat tanpa pandang bulu. Hukum tanpa pandang bulu. Karena kalau tidak sekarang, tangis ini akan diwariskan ke anak cucu kita.
*) Praktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI








