Budaya  

Gema Gawai Dayak 2026 Menggetarkan Borneo: “Gayu Guru Gerai Nyamai, Kita Bersatu, Kita Berbudaya”

Oplus_131072

STRATEGINEWS. Id. Sarawak Kuching – Suasana syukur dan kebersamaan kembali menyelimuti Pulau Kalimantan seiring perayaan Hari Gawai Dayak 2026. Di tengah hamparan padi yang menguning siap dipanen, Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kuching Mangkok Merah Borneo Bersatu (MMBB), “Apai Janang”, menyampaikan ucapan selamat Gawai yang menyentuh hati seluruh masyarakat adat Dayak lintas batas Borneo.

Pesan itu ditujukan kepada masyarakat Dayak di Sarawak, Sabah, Brunei Darussalam, hingga seluruh wilayah Kalimantan, Indonesia. Disampaikan tepat di momen sakral, ucapan Apai Janang menjadi pengingat nilai luhur yang terus dijaga turun-temurun.

Doa Leluhur untuk Borneo
Mengusung doa tradisional, Apai Janang melantunkan ucapan ikonik: “Gayu Guru Gerai Nyamai, Kita Bersatu, Kita Berbudaya.”

Kalimat itu bukan sekadar ucapan seremonial. “Gayu Guru Gerai Nyamai” adalah doa agar masyarakat dianugerahi umur panjang, kesehatan prima, dan kedamaian hidup. Sementara “Kita Bersatu, Kita Berbudaya” menjadi seruan moral bagi generasi muda agar tetap kokoh menjaga identitas leluhur tanpa terpecah oleh batas geopolitik.

“Di era modern yang serba cepat, kita tidak boleh lupa siapa kita. Adat dan budaya adalah jati diri Dayak. Kalau kita bersatu, kita kuat,” pesan Apai Janang.

Dua Pilar Penjaga Adat Borneo. Refleksi Gawai 2026 tahun ini diperkuat secara visual dan spiritual oleh dua pilar pelestari adat di bawah naungan MMBB:

Budaya Ritual Tambak Baya.
Sebagai perguruan budaya yang menjaga kesucian ritus spiritual, mantra, dan tata cara adat leluhur. Mereka memastikan setiap prosesi Gawai tetap sesuai pakem, dari miring hingga nyangahatn.

Mangkok Merah Borneo Bersatu: Simbol persatuan, keberanian, dan ikatan darah yang tak luntur. MMBB hadir untuk menjaga kehormatan, keamanan, dan keharmonisan tanah Kalimantan serta masyarakat Dayak di mana pun berada.

Perayaan Gawai 2026 terasa begitu kental nuansa Borneo. Kepakan sayap burung Enggang atau Kenyalang, burung suci yang melambangkan kesetiaan dan perlindungan, menghiasi dekorasi. Bentangan kain tenun ikat khas Dayak dengan motif buah bungai dan naga membentang di sepanjang rumah panjang.

Latar Rumah Panjang atau Longhouse yang berdiri megah di tengah sawah menguning menjadi penanda bahwa ketahanan pangan dan kelestarian budaya berjalan beriringan.

Warga antusias mengenakan baju adat ngepan dan baju burung, menari ngajat serta menyuguhkan hidangan tradisional seperti pansoh, kasam, dan tuak padi sebagai simbol rezeki.

Pesan untuk Generasi dan Sinergi Lintas Wilayah

Dalam momentum ini, Apai Janang menekankan pentingnya sinergi antarwilayah di Pulau Borneo. Di tengah derasnya arus pembangunan global dan digitalisasi, persaudaraan Dayak. Bersaudara, harus jadi benteng utama.

“Bahasa, hukum adat, tarian, ukiran itu semua warisan yang tidak bisa kita jual. Mari jaga, pelajari, dan wariskan ke anak cucu. Gawai bukan hanya pesta, tapi ruang refleksi,” tegas Apai Janang yang diterima media ini Minggu (31/5/2026).

Ia berharap Gawai Dayak 2026 menjadi lebih dari festival tahunan. Momen ini diharapkan menguatkan tali silaturahmi, menumbuhkan rasa bangga sebagai Dayak, dan melangkah bersama demi Borneo yang makmur, damai, dan bermartabat.

Perayaan ditutup dengan pekik semangat khas Dayak:
“Selamat Hari Gawai Dayak 2026. Gayu Guru Gerai Nyamai. Ooohaa!”

Gema itu menggema dari Longhouse di pedalaman Sarawak hingga desa-desa menyatukan denyut nadi budaya di seluruh tanah Borneo.

(Man)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *