STRATEGINEWS.id, Medan — Arktika dan Antartika berada di ujung yang berlawanan. Keduanya menutupi ujung-ujung Bumi dan mengelilingi kedua kutub, yakni Kutub Utara di Arktika dan Kutub Selatan di Antarktika. Luas keduanya pun hampir sama, Arktika mencakup hampir 14,5 juta kilometer (km) persegi, sedangkan Antartika sekitar 14 juta km persegi.
Wilayah Arktika adalah samudra yang dikelilingi daratan. Antartika adalah kebalikannya, yaitu daratan yang dikelilingi samudra.
Pesawat komersial memang sering melintasi area Arktika, terutama untuk rute jarak jauh yang menghubungkan Amerika Utara dengan Asia atau Eropa. Namun, hampir tidak ada pesawat komersial terjadwal yang mendekati area Antartika. Mengapa demikian?
Wilayah Arktika Terletak di Antara Kota-kota Terpadat di Dunia
Sebagian besar perjalanan udara jarak jauh menghubungkan kota-kota di Amerika Utara, Eropa, dan Asia. Wilayah-wilayah ini mencakup sebagian besar populasi dunia, aktivitas ekonomi, dan permintaan kargo udara. Ketika maskapai penerbangan merencanakan rute di antara kota-kota tersebut, jalur paling efisien seringkali melengkung ke arah utara.
Hal ini karena pesawat tidak terbang mengikuti garis lurus seperti di peta datar. Mereka mengikuti rute lingkaran besar, yaitu jalur terpendek antara dua titik di permukaan bola dunia. Pada proyeksi peta umum, rute ini terlihat melengkung, meskipun sebenarnya justru mengurangi jarak tempuh, penggunaan bahan bakar, dan waktu penerbangan.
Penerbangan antara kota-kota seperti New York–Tokyo, London–Beijing, atau Chicago–Hong Kong sering melewati wilayah lintang utara yang tinggi. Jalur ini dipilih karena dapat meminimalkan jarak dan biaya operasional, sekaligus tetap memenuhi standar keselamatan.
Sebaliknya, di belahan Bumi Selatan, kondisi geometrinya berbeda. Kota-kota besar letaknya lebih berjauhan, dan bahkan rute lingkaran besar terpendek biasanya tetap berada di atas samudra terbuka, bukan melintasi benua Antartika itu sendiri. Meskipun beberapa rute sedikit melengkung ke Selatan, jarang sekali ada keuntungan efisiensi yang cukup besar untuk membenarkan kerumitan tambahan jika harus melintasi Antartika.
Peraturan Keselamatan Mengharuskan Bandara Terdekat
Perencanaan darurat memainkan peran penting dalam penentuan rute penerbangan. Pesawat jarak jauh beroperasi di bawah aturan keselamatan yang ketat, yang membatasi jarak maksimum dari bandara alternatif jika terjadi kegagalan mesin, keadaan darurat medis, atau masalah serius lainnya.
Kawasan Arktika menyediakan berbagai pilihan. Kanada bagian Utara, Alaska, Greenland, Islandia, dan sebagian Skandinavia memiliki bandara yang mampu menangani pesawat komersial besar.
Bandara-bandara ini tersertifikasi, terawat, dan rutin dimasukkan dalam perencanaan penerbangan. Kehadiran bandara-bandara ini memungkinkan maskapai penerbangan untuk beroperasi di rute kutub sambil tetap memenuhi standar keselamatan.
Sebaliknya, Antartika tidak menawarkan jaring pengaman yang sebanding. Benua ini hanya memiliki sedikit landasan udara penelitian dan militer, banyak di antaranya dibangun di atas es dan hanya bisa digunakan pada musim tertentu.
Fasilitas-fasilitas ini juga tidak tersertifikasi untuk operasi penerbangan komersial rutin, dan bisa tiba-tiba tidak dapat digunakan karena cuaca atau kondisi permukaan.
Dari sisi perencanaan, terbang melintasi Antartika berarti harus menghadapi jarak panjang tanpa pilihan bandara alternatif yang realistis.
Permintaan Membentuk Rute
Menurut laman AOL.com, maskapai penerbangan juga merancang rute berdasarkan permintaan. Kawasan Arktika berada di antara beberapa pasar perjalanan tersibuk di dunia, dengan arus penumpang dan kargo yang terus mengalir.
Sebaliknya, Antartika tidak memiliki kota, tidak ada populasi permanen untuk aktivitas komersial, dan tidak ada permintaan asal maupun tujuan untuk penerbangan rutin. Bahkan penerbangan antara kota-kota di selatan seperti Sydney, Cape Town, Santiago, atau Auckland biasanya hampir tidak mendapat keuntungan dari melintasi benua tersebut.
Risiko operasional yang lebih tinggi, batasan regulasi, serta minimnya opsi darurat akan jauh lebih besar dibandingkan sedikit penghematan jarak yang mungkin didapat.
Beberapa rute di belahan Selatan memang bisa melengkung cukup jauh ke Selatan di atas samudra ketika kondisi angin menguntungkan. Dalam kasus yang jarang, penumpang bahkan bisa melihat Antartika dari kejauhan saat pesawat berada di ketinggian jelajah. Namun, itu biasanya sudah menjadi jarak terdekat yang dicapai oleh penerbangan komersial pada umumnya.
Lingkungan Jauh Lebih Tidak Ramah
Kedua wilayah kutub memang sama-sama dingin, tetapi Antartika berada di level yang berbeda. Benua ini adalah yang paling dingin, paling berangin, dan memiliki ketinggian rata-rata tertinggi di Bumi. Suhu bisa turun hingga di bawah -60 derajat Celsius, dan prakiraan cuaca lebih sulit dilakukan karena minimnya stasiun pengamatan.
Angin katabatik yang sangat kuat, periode malam musim dingin yang panjang, serta kondisi jarak pandang terbatas yang sering terjadi menambah tingkat ketidakpastian. Jika terjadi pendaratan darurat, operasi penyelamatan kemungkinan akan lebih lambat, lebih rumit, dan lebih berbahaya dibandingkan di Arktika, yang didukung oleh negara-negara di sekitarnya serta infrastruktur pencarian dan penyelamatan yang sudah mapan.
Maskapai penerbangan cenderung menghindari situasi dengan banyak risiko sekaligus. Antartika menghadirkan terlalu banyak variabel untuk dijadikan jalur penerbangan rutin.
Sejarah Mendorong Penerbangan ke Utara, Bukan ke Selatan
Selama Perang Dingin, perencana militer sangat fokus pada navigasi di wilayah Arktika karena rute terpendek antara kekuatan besar dunia melewati kutub Utara. Hal ini mendorong investasi besar dalam pemetaan, sistem navigasi, data cuaca, komunikasi, serta infrastruktur bandara.
Penerbangan komersial kemudian memanfaatkan fondasi tersebut. Meskipun penerbangan lintas kutub sudah ada sebelumnya, rute trans-Arktika baru menjadi umum setelah hadirnya pesawat jarak jauh, teknologi navigasi yang lebih baik, dan regulasi keselamatan modern yang membuatnya lebih andal dan efisien. Pada akhir abad ke-20, terbang melintasi Arktika sudah menjadi bagian normal dari operasi penerbangan jarak jauh.
Sebaliknya, Antartika tidak pernah mengalami dorongan serupa. Tanpa tekanan strategis maupun insentif komersial, wilayah ini tetap berada di luar jalur perkembangan jaringan penerbangan komersial utama.
Meski demikian, beberapa penerbangan jarak jauh antara Australia, Selandia Baru, dan Amerika Selatan terkadang menempuh rute jauh ke Selatan ketika angin memungkinkan.
Rute-rute ini tetap berada di atas lautan, dalam jangkauan bandara pengalihan yang disetujui, dan di luar kondisi paling ekstrem di pedalaman Antartika.
Penerbangan khusus juga beroperasi ke Antartika tetapi penerbangan tersebut melayani stasiun penelitian, misi logistik, atau pariwisata yang dikontrol ketat. Penerbangan ini direncanakan dengan cermat dan pada dasarnya berbeda dari layanan penerbangan biasa, seperti dikutip dari Nationalgeographic.co.id, Minggu (10/5/2026) siang.
(KTS/rel)
Sumber: Nationalgeographic.co.id












